Jurnal Wawasan dan Inspirasi Kehidupan

Bank Sampah, Manajemen Efektif Pengelolaan Sampah

Jangan pernah menganggap enteng masalah sampah. Ya, sampah kadang menjadi musuh paling serius dalam...

Budaya Sambat, Gotong Royong yang Mulai Luntur

Tanpa kita sadari namun sangat kita rasakan, banyak kebaikan dan kearifan yang hilang seiring berjalannya zaman. Dulu, jika..

Programer : Seniman Tingkat Tinggi?

Judul di atas mungkin terlalu “narsis” atau terkesan menempatkan programer pada derajat yang amat terpuji. Tapi agaknya itu yang

Membaca Soekarno, Soeharto dan Indonesia Kita

Kalau hanya untuk menghafalkan materi, tebak-tebakan soal, dan mempelajari keahlian tertentu, tidak usah pakai guru. Pakai komputer saja lebih hebat. Kalau sekolah hanya

Sebentar Lagi, Guru Akan Tersingkir?

Kalau hanya untuk menghafalkan materi, tebak-tebakan soal, dan mempelajari keahlian tertentu, tidak usah pakai guru. Pakai komputer saja lebih hebat. Kalau sekolah hanya menjalankan fungsi “pengajaran”, pakai komputer saja. Tidak usah dan tidak perlu bimbingan guru.

Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

Penting : Al Qur’an dan Pedoman Seleksi Berita

Pasti sudah kelewat sering kita menemukan berbagai informasi palsu, hoak, hingga bernada fitnah dan propaganda. Media sosial dan ruang mayantara, selain menjadi pasar informasi yang murah meriah dan ladang berekspresi, juga seolah menjadi medan pertempuran aneka kepentingan. Akhirnya, kita temukan untaian caci maki dan lempar kebencian di status-status media sosial, di meme-meme instagram, bahkan lintas media.

Mungkin pembaca merasakan apa yang saya rasakan : kekhawatiran, keresahan dan keprihatinan yang mendalam. Atau mungkin rasa jenuh, bosan, dan antipati terhadap aneka kebohongan, kepalsuan, kedengkian, umpat-caci maki dan merasa benar sendiri. Atau jangan-jangan, secara sadar ataupun tidak, kita adalah bagian dari semua itu?

Tak jarang, kita ikut terseret dalam pusaran saling serang kata-kata (yang sebenaranya tidak perlu) hanya untuk membenarkan pendapat kita, golongan kita, atau yang sefaham dengan kita. Juga soal lempar caci maki terhadap pihak yang tidak kita sukai, debat kusir, merendahkan ahli ilmu, hingga meremehkan nash-nash agama. Sekali lagi hanya di ruang perdebatan sosial media. Karena praktiknya (saya sendiri) nol besar.

Beberapa waktu lalu, saya sempat merasa kasihan dengan korban salah bully yang bernama Muhammad Alif Syahdan. Hanya gara-gara nama belakangnya sama dengan pelaku pengaduan dan pemukulan guru di Makasar. Ia dibuli oleh orang se-Indonesia lewat akun instagramnya. Foto-fotonya dicaci maki ratusan ribu orang. Bahkan tercantum di media online berkelas tanah air. Ini contoh kecil.

Apakah itu semua adalah kecerobohan kita? Ego kita? Kepongahan kita? Yang mau menerima dan melahab saja segala berita yang bersliweran di jagad mayantara?

Atau jangan-jangan kita kurang cerdas dan bijaksana mengolah informasi. Karena pada tahap gawat, kita akan mudah sekali diadu domba, diobok-obok, saling membenci, saling serang  hingga saling bermusuhan sesama saudara.

Mari kita merenung dan mencari petunjuk Ilahi dari mushaf Al Qur’an, kita sebagai umat muslim disindir dengan keras oleh Allah dalam Al Quran Surat Al Hujurat ayat 6 :
يَأُيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيْبُوا قَومًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
“Wahai orang-orang beriman! Jika datang kepadamu orang fasik yang membawa sesuatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan(kejahilan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.”

Ayat ini jelas-jelas  dan sangat tegas meminta kita untuk meneliti kebenaran suatu berita. Berita dari siapa? Dari orang fasik. Siapakan orang fasik?
Ada beberapa pendapat mengenai definisi orang fasik :

Orang fasik adalah orang mukmin atau orang muslim yang secara sadar melanggar ajaran Allah (Islam) atau dengan kata lain org tersebut percaya akan adanya Allah, percaya akan kebenaran Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW tetapi dalam tindak perbuatannya mereka mengingkari terhadap Allah dan hukumNya, selalu berbuat kerusakan dan kemaksiatan. 

Firman Allah: 
“Orang Fasik adalah orang yang melanggar perjanjian itu teguh, dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk menghubungkannya dan membuat kerosakan dimuka bumi. Mereka itulah orang yang rugi” [QS Al Baqarah:27] 

Nah dari definisi dan ciri-ciri orang fasik di atas, saya sendiri merasa tersindir, jangan-jangan saya masuk kategori orang-orang yang fasik? Mudah-mudahan Alloh menunjukan kita jalan yang lurus.

Kembali ke topik. Bahwa menyeleksi suatu berita, memastikan kebenaran dan menelaah secara cerdas dan bijak suatu informasi, adalah suatu keharusan bagi orang-orang mukmin. Ini perintah Al Qur’an.

Apalagi, berita yang bersumber dari media-media yang memang provokatif dari golongan tertentu. Kita harus selektif dan jangan mudah terprovokasi.

Begitupun saat kita menyebarkan berita. Jangan sampai, kita sebagai orang  mukmin justru menyebarkan berita palsu, hoak, dan menipu. Atau informasi yang mengandung unsur kebencian, fitnah, propaganda dan memecah belah umat. Jangan sampai kita yang bukan orang fasik, justru menyebarluaskan berita yang kotor dan hina.

Mudah-mudahan bermanfaat. Kita sambung lain waktu.

Author : Adi Esmawan, Pengasuh Muhibul Qur’an Study Club
Share:

Surat Terbuka untuk KPI : Selamatkan Anak-Anak Kita dari Sinetron Buruk!

Komisioner KPI yang terhormat, generasi negeri ini dalam kondisi darurat moral. Jiwa dan national building-nya sedang di ambang keruntuhan. Fakta dan data tentang ini sama-sama kita ketahui. Angka kenakalan remaja, kekerasan fisik terhadap anak yang pelakunya juga masih anak-anak hingga kejahatan seksual terhadap anak di bawah umur yang berakhir kisah pilu, cukup menjadi  warning bagi kita semua, betapa generasi penerus bangsa dalam kondisi darurat.  Belum lagi soal lunturnya norma-norma adat, morals law, dan nilai-nilai agama
Lalu apa peran tayangan televisi, khususnya sinetron yang disajikan kepada anak-anak dan remaja di negeri ini? Tentu tuan-tuan dari komisioner KPI telah faham betul, bagaimana pengaruhnya tontonan itu bagi anak-anak kita, adik-adik kita. Jika ada yang belum paham, silahkan cari artikel dari hasil penelitian yang begitu melimpah ruah, tentang bagaimana berpengaruhnya tayangan televisi terhadap perkembangan mental, pola pikir dan cara hidup anak-anak kita.

Tuan-tuan KPI yang saya muliakan. Jujur saya heran, ketika bertamu di halaman situs resmi  KPI saya disambut dengan slogan indah “Mari Wujudkan Tayangan yang Sehat dan Bermanfaat”.  Tapi dalam kenyataan, sinetron-sinetron dan tayangan-tayangan tidak sehat dan tidak bermanfaat bergentayangan bagai hantu-hantu yang menghantui masa depan anak-anak kita, adik-adik kita? Apakah itu hanya isapan jempol atau sekedar tulisan untuk menghibur kami wahai tuan-tuan komisioner KPI? Atau, apakah KPI sekarang hanya sebagai macan ompong yang tidak bernyali menghadapi korporasi-korporasi industri film dan sinetron yang tega meraup untung dengan menyajikan sinetron yang meruntuhkan pembangunan jiwa yang telah puluhan tahun dibangun oleh pendiri bangsa ini? Apakah tuan-tuan gentar dan gemetar berhadapan dengan jargon kebebasan berekspresi dan Hak Asasi Manusia yang menjadi senjata untuk meruntuhkan karakter bangsa ini secara pelan?

Sebagai contoh, coba tuan-tuan tonton dengan seksama sinetron anak jalanan di RCTI. Sinetron macam apa itu? Yang menyajikan drama glamour tidak masuk akal, mengajarkan anak-anak kampung nun jauh di pelosok desa untuk bergaya dengan motor sporty, membentuk geng, berseteru antar geng, bergaya hidup mewah dan hedonis materialistik, hinga adegan-adegan yang meruntuhkan norma-norma adat ketimuran yang berlaku di masyarakat Indonesia.

Bukankah, kita sudah jengah dengan tawuran antar pelajar. Kekerasan dan tindak kriminal diantara para remaja?

Adalagi sinetron SUPER PUBER SCTV. Lihat sinetron yg peran dan objeknya anak-anak ABG itu? Menyajikan drama anak-anak SMP sudah bermain cinta-cinta-an layaknya anak dewasa, malam-malam kencan masih berseragam sekolah, bergandengan tangan, berdua-an di tempat sepi dan aspek negatif lainya. Dimana edukasinya? Dimana manfaatnya? Silahkan evaluasi sendiri tuan-tuan komisioner KPI yang terhormat.

Bukankah kita juga sudah muak dengan tindak asusila yang pelaku dan korbanya masih anak-anak? Sudah terlalu getir menyaksikan fenomena aborsi, bunuh diri dan hancurnya masa depan ribuan anak bangsa gara-gara menjadi pelaku dan korban asusila?

Atau jangan-jangan, kita masih saja takut dengan pendapat bahwa tontonan hanya sebatas hiburan? Kalau mau edukasi ya di sekolah saja? Kalau mau cari ilmu agama ya di masjid saja? Kalau mau inspirasi ya baca buku saja? Itu semua pendapat picik. Bukankah, dengan film kita bisa mendidik anak-anak kita dengan lebih efektif dan menarik? Bukankah dengan film atau sinetron kita mampu menyampaikan pesan-pesan kebaikan dengan kemasan yang mudah dicerna anak-anak dan adik-adik kita?

Terakhir, apakah tuan-tuan komisioner KPI dan para pelaku industri film /sinetron di tanah air tidak pernah membaca sindiran “Guru dibayar murah untuk mendidik anak bangsa, sedang artis dibayar mahal untuk merusaknya?”

Semoga saja, di atas segalanya, bukan uang yan berkuasa. Saya yakin tuan-tuan di KPI masih memiliki  keluhuran niat untuk menyelamatkan kembali pembangunan karakter bangsa yang digagas oleh pendiri bangsa, Bung Karno.  KPI melalui kewenangannya yang diatur oleh undang-undang, harus segera menjawab keresahan masyarakat khususnya orang tua terhadap tayangan sinetron buruk dan tidak mendidik!


Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya, untuk Indonesia Raya!

Adi Esmawan, Pengamat Media. Owner blog jurnalva.com
Share:

Inilah 3 Pekerjaan Paling Menyenangkan Sepanjang Masa!

Yap, kali ini jurnalva.com akan menyajikan artikel dengan tema yang enjoy. Oke kita mulai saja. Sesuai judul, artikel ini akan mengulas tentang 3 pekerjaan paling menyenangkan dan paling mengasyikan sepanjang masa! Penasaran kan?

Pekerjaan paling menyenangkan pertama versi jurnalva adalah, Pemandu Acara Wisata Kuliner. Pernah lihat kan di televisi? Bayangkan saja coba, pekerjaan pemandu acara kuliner itu, kerjaanya disuruh jalan-jalan alias plesir, kemudian mencari tempat-tempat makan yang unik, khas dan otomatis uenak alias maknyus. Disuruh nicipin makanan, menilai lalu memberi kesimpulan soal cita rasa. Kurang greget apa coba? Agan-agan semua pengen kan jadi pemandu acara wisata kuliner? Gajinya juga tinggi lho. Dah gitu sering nongol di layar kaca. Jadi hits dan banyak fans kan??

Pekerjaan paling menyenangkan kedua, adalah fotografer di bidang travelling. Ini juga greget. Bayangkan, para fotografer itu pasti kan hobinya jeprat-jepret alias membidik objek-objek indah. Nah, kemudian dia kerjanya khusus memfoto dan meliput tempat-tempat wisata indah diseluruh penjuru dunia. Tinggal plesir, jeprat-jepret, review tempat wisata. Kemudian dibayar mahal. Bayangkan! Kerjanya liburan kan? Pengen nggak kalian?

Pekerjaan paling menyenangkan ketiga nih, adalah  pemain bola. Otomatis yang kelas dunia dong. Yang baru tingkat RT, atau kelurahan, saya doakan deh kelak akan jadi pemain bintang! Diaminkan dalam hati ya.

Gimana nggak asyik coba jadi pemain sepak bola ternama. Bayangkan kalau anda itu Christiano Ronaldo, Messi atau pemain mega bintang favorit anda. Udah ganteng, kaya raya, baik hati dan banyak penggemarnya. So, secara gitu. Main bola kan hoby, menyehatkan, semua kalangan suka, dah gitu dibayar mahal. Kurang greget apa coba! Asal, tambahin ya : tinggi, besar, ganteng. Lengkap sudah. Hehe

Nah, itu tiga pekerjaan paling menyenangkan versi jurnalva. Kalau kategori “paling mulia, paling diminati, paling bergengsi, paling mahal dan paling.... yang lain, silahkan cari sendiri.

Eh, saya tambahin yang keempat ya, agar tidak ada yang protes. Bahwa semua pekerjaan itu, kalau dinikmati, disyukuri dan dicintai, pasti mengasyikan kok. Bekerja itu kuncinya adalah “bisa melaksanakan tugasnya dengan baik”, dan selesailah perkara. Mau dia CEO, founder, komisaris utama, direktur utama,  Presiden , Menteri, pemimpin redaksi, jurnalis, artis, Guru, Polisi, TNI, petani, nelayan sampai pemulung-pun semua adalah profesi yang mulia. Soal bosan, jenuh, butuh piknik, butuh apresiasi dan penghargaan, itu lumrah dan manusiawi. Kemudian yang pasti, semua pekerjaan itu pasti memiliki resiko. Nah, manajemen resiko itu yang wajib ditata dengan baik.

Udah dulu yah artikelnya, yang mau protes silahkan. Sampai jumpa lain waktu.


Author : Adi Esmawan, owner jurnalva.com
Share:

Saudi dan Iran selalu Berseteru, Ada Apa?



Sebagai sesama muslim, tentu kita prihatin melihat hubungan geopolitik dua negara Islam, Kerajaan Saudi Arabia dan Republik Islam Iran yang semakin memanas. Pasca Saudi mengeksekusi mati ulama Syiah Syekh An Nimr beberapa hari lalu, disambut dengan pengrusakan kantor kedutaan besar Saudi di Teheran, Iran.  (Kompas Cetak, 5/1)

Dan, keputusan Saudi Arabia untuk memutuskan hubungan diplomatik dengan Iran diikuti beberapa negara sekutu Saudi, yakni Sudan dan Bahrain, makin menambah suhu politik kedua negara kian memanas.  Apalagi jika mereka mengundang sekutu masing-masing, Saudi menggandeng Amerika dan Iran menggandeng Rusia. Bakal terjadi perang dunia ketiga jika tidak ada kesepakatan damai.

Sejak dulu, hubungan kedua negara ini memang tidak pernah akur. Saudi dan Iran bagai rival abadi yang terus saling curiga, menggalang sekutu, dan berebut pengaruh di kawasan teluk. Hal ini tidak lain karena aliran atau ideologi yang dianut kedua negara berbeda meski dalam satu agama, yakni Saudi Arabia yang mengklaim beraliran sunni dan Iran yang beraliran Syiah.

 Sebenarnya, saya sebagai pribadi merasa jengah dan sungkan membahas isu Sunni-Syiah apalagi Saudi dan Iran. Saya heran, mengapa konflik kedua aliran ini tidak pernah berujung. Boro-boro mengimplementasikan Islam sebagai rahmat bagi alam semesta. Sementara bagi penganutnya sendiri justru mengajarkan saling seteru?  

Ya, Sunni dan Syiah memang berbeda. Bahkan ada yang mengklaim Syiah bukan bagian dari Islam. Perbedaan yang paling mencolok adalah perihal tuduhan “penghinaan terhadap sahabat Nabi” yang dituduhkan kepada ajaran Syiah, nikah Mut’ah, taqiyah, pendiri Syiah adalah agen Yahudi, hingga tuduhan bahwa Syiah berambisi menguasai dunia.
Kecurigaan dan prasangka serta permusuhan Sunni-Syiah terus berlangsung turun temurun, lintas waktu, lintas generasi hingga dibelahan penjuru dunia. Kesadaran bahwa selain sebagai pemeluk aliran, mereka juga sebagai manusia yang harus saling menghormati, mengasihi, menghargai dan tidak boleh menumpahkan darah. Di Indonesia sendiri, para penganut Syiah masih was-was dan tidak dapat tidur dengan nyenyak seperti terjadi di Madura dan beberapa daerah di Jawa Timur.

Padahal kalau dicari persamaan, antara Sunni dan Syiah sebenarnyan bisa bersatu dan bergandengan tangan, saling menghormati. Jika buniyyal Islamu ngala khomsin, Islam dibangun atas lima perkara, yakni menyaksikan tiada Tuhan selain Alloh dan Muhammad adalah utusan Alloh, sama-sama mendirikan Shalat, menunaikan zakat, mengerjakan puasa, dan berhaji ke Baitulloh, maka Sunni dan Syiah adalah sama. Perkara teknisnya beda, serahkan kepada Alloh sebagai sebaik-baik hakim.

Jangan sampai gara-gara kecurigaan yang berlebihan, Sunni dan Syiah saling bermusuhan, berebut pengaruh dan saling serang hingga mengorbankan manusia dan kemanusiaan sebagai tumbalnya. Tengoklah, berapa jiwa yang hidup dalam ketidaknyamanan, beribadah dengan tidak tenang, terganggu saat beramal shalih, tidak bisa berbakti kepada orang tua, tetangga, tamu dan sesama alam gara-gara perselisihan berkepanjangan dua aliran ini.

Sebaiknya hapus saja prasangka bahwa Syiah berambisi menguasai dunia, menebar teror dan kebencian. Masak ada sih manusia dan organisasi yang setega itu? Kita berbaik sangka sajalah. Kalaupun memang benar Syiah berambisi menguasai dunia dengan cara yang tidak benar? Mana Bisa? Akan sangat sulit. Kalaupun benar Syiah pada akhirnya mendzalimi kaum muslimin pada umumnya, ya baru dilawan. Selebihnya biasa saja. Wong siapapun itu, baik Suni maupun Syiah, akan di balas perbuatanya walau sebesar biji sawi. Itu kalau kita baca Al Qur’an.

Soal penghinaan pada para sahabat, khususnya Abu Bakar, Umar, dan Utsman (rodhiyallohu’anhum), Syiah sendiri tidak mengakui itu. Kalau pada kenyataannya demikian. Ya, biarkan mereka yang menanggung dosanya. Soal Syiah yang berlebih-lebihan dalam memperlakukan ahlul bait, khusunya Imam Ali bin Abi Thalib dan dinasti Fathimiyah, ya biarkan saja. Wa lana a’maluna, walakum a’malukum. Kalau kita tau ada yang salah dari mereka, yang usahakan kita jangan ikuti kesalahan mereka.

Jangan pernah menjadikan keyakinan kita untuk memusuhi keyakinan golongan yang lain. Karena di dunia ini, keyakinan itu banyak sekali. Jika semua saling bermusuhan dan berebut pengaruh serta meminta orang lain untuk masuk golongannya, bisa hancur dunia ini. Ambil contoh di Indonesia saja, ada beberapa suku di pedalaman yang belum tersentuh dakwah sejak dulu. Agama manapun belum masuk. Apakah mereka itu pasti masuk Neraka karena Inna dinna ngindallohih Islam? Lhah mereka kenal Al Qur’an dan Sunnah saja belum, bahasanya saja kita tidak tahu.


Juga mereka yang mengisolasi diri dari kemelut duniawi, macam ajaran Pelaku Tapa Brata atau ajaran  Syiwa di agama Hindu, Biksu atau Budhisme di ajaran agama Budha dan lain sebagainya, mereka meyakini ajaran mereka benar sebagaimana kita meyakini ajaran kita benar. Lalu apakah kita harus saling bertempur demi kebenaran kita masing-masing?
Share:

Ironi Hakim Parlan Nababan "Membakar Hutan Tidak Merusak Lingkungan"


Jagad hukum tanah air kembali dibuat heboh. Setelah Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) dibully habis-habisan karena kisruh kasus Setya Novanto, kini Hakim Pengadilan Negeri Sumatera Selatan, Parlan Nababan, menjadi sasaran kritik dan ejekan nitizen terkait pernyataannya yang kontroversial, “membakar hutan tidak merusak lingkungan karena bisa ditanami lagi”.

Seperti diberitakan sebelumnya, majelis hakim Pengadilan Negeri Sumatera Selatan yang diketuai oleh Parlan Nababan, menolak gugatan perdata senilai Rp 7,9 triliun atas kasus kebakaran hutan dan lahan di konsesi PT Bumi Mekar Hijau (BMK) pada tahun 2014. (Kompas Cetak, 3/12/2015)

 Putusan langsung ditanggapi banding oleh penggugat, yakni Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), yang diwakili kuasa hukumnya, Nasrullah.

Kontan saja, putusan hakim yang membebaskan PT BMK dari segala gugatan pemerintan dalam hal ini Kementerian Lingkungan Hidup, ditanggapi dengan rasa kecewa, utamanya oleh aktifis lingkungan seperti Walhi dan masyarakat pada umumnya. Kritik pedas hingga meme bernada satire dan sindiran bertebar di berbagai akun jaringan sosial media.
 
Sumber : Twitter
Memang, keputusan hakim wajib dihormati. Namun jika hakim membuat keputusan diluar nalar keadilan, untuk apa diadakan persidangan dengan serangkaian argumentasi dan pembelaan?

Ya, benar. Jika ada yang mengatakan bahwa pengadilan itu bukan masalah benar atau salah, adil atau tak adil melainkan “terbukti” atau “tidak terbukti”, lalu bukti apalagi yang diperlukan oleh majelis hakim saat bencana asap melanda negeri ini selama dua  tahun terakhir? Tidak cukupkah rasa sesak nafas putra-putri bangsa di beberapa titik bencana asap yang disebabkan oleh kebakaran hutan?

Hakim memang berwenang memutus perkara, yang tentu berdasarkan bukti formil persidangan dan dasar undang-undang. Sah-sah saja, ketika bukti ini dan bukti anu dirasa tidak memenuhi syarat formil untuk memutus suatu perkara kemudian hakim memutuskan berdasarkan hal ini. Namun yang terpenting dan wajib menjadi prinsip utama, hakim harus mempertimbangkan aspek kemaslahatan dan keadilan publik di atas segala-galanya.

 Ingatlah bahwa di negara manapun, teks hukum bisa diutak-atik sedemikian rupa, bukti bisa direkayasa, tapi wajah kebenaran tetap jelas tegas di depan mata. Dan yang perlu para hakim nan mulia harus tahu, sekarang, pengadilan publik di media sosial dan ruang mayantara, lebih mujarab daripada putusan pengadilan manapun. Jangan sampai rakyat marah. Meskipun, di atas segalanya, kita tetap memposisikan hakim sebagai penegak keadilan walau harus setengah percaya.

Author : Adi Esmawan

Sumber Foto : twitter.com
Share:

Pilkades dan Telaah Kritis Terhadap Praktik Berdemokrasi

Sejatinya, desa adalah miniatur negara. Atau dalam ranah penelitian (research), desa merupakan sample atau contoh rill bagaimana kita menilai praktik berdemokrasi di negeri ini. Pemilihan Kepala Desa (Pilkades), adalah cerminan paling nyata dari apa dan bagaimana sesungguhnya pemilihan   umum di tingkat yang lebih tinggi, yakni Pemilihan Umum Kepala Daerah, Pemilu Legislatif, dan Pemilihan Presiden. Jika kita telaah lebih dalam, sebenarnya proses demokrasi di negeri ini masih jauh dari harapan.  

Mari kita belajar dari prosesi pemilihan kepala desa. Dan kebetulan, 5 Oktober mendatang, desa Tempuran Kecamatan Wanayasa Kabupaten Banjarnegara, akan melaksanakan hajat akbar, yakni memilih kepala desa sesuai dengan amanah Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa. Secara spesifik penyelenggaraan Pemilihan Kepala Desa diatur lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah Republik Indoneisa Nomor 43 Tahun 2014  dan dijabarkan dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 112 Tahun 2014.

Dalam praktik pemilihan kepala desa, yang kita dapati pertama kali adalah tradisi politik “modal tinggi”. Siapapun yang ingin mengabdikan diri sebagai kepala desa, harus memiliki kantong tebal sebagai prasyarat utama. Mungkin ini sebagai konsekuensi logis proses demokrasi biaya tinggi. Untuk ukuran saat ini, seorang calon Kepala Desa harus mengeluarkan minimal 50 – 100 juta. Nominal itu diantaranya untuk membayar ongkos resmi pembiayaan Pilkades yang dibebankan kepada calon, biaya sosialisasi (banner & baliho), serta konsumsi dan rokok untuk para tamu dan simpatisan sang calon kades.

Sangat ironis, dimana panitia penyelenggara biasanya membebankan sebagian besar biaya penyelenggaraan Pilkades kepada para calon. Seakan-akan, yang berkepentingan hanya calon kepala desa. Padahal, yang paling berkepentingan seharusnya adalah masyarakat.

Jika calon kepala desa sudah “dituntut” untuk mengeluarkan modal tinggi, maka yang terjadi adalah logika ekonomi. Dimana setelah menjabat sebagai kepala desa, yang dipikirkan pertama kali bukanlah bagaimana membangun desa agar semakin maju, melainkan bagaimana “cepat balik modal”. Dan inilah  salah satu faktor tumbuh suburnya budaya korupsi di negeri ini.
Juga di level kepala daerah. Sekarang berapa gaji “resmi” Bupati, Walikota, Gubernur, dan Presiden? Lalu bandingkan berapa besarnya biaya politik yang mereka keluarkan saat kampanye. Silahkan dikalkulasi. Kemudian kita akan bertanya-tanya, uang darimana? Sumbangan siapa? Jika demikian, independen-kah pemimpin kita? Atau ada “iktikad” balas jasa kepada para donatur kampanye? Ah, sudah. Lupakan. Kembali ke Pilkades.

Seharusnya, untuk menjaring calon pemimpin berkualitas, berintegritas, dan penuh semangat membangun desa, maka seluruh biaya Pilkades dibebankan kepada masyarakat dengan dibantu pemerintah daerah. Dalam pemendagri 112 pasal 48 huruf (a) dan (b), jelas disebutkan bahwa pembiayaan  Pilkades dibebankan kepada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten Kota meskipun khusus untuk kebutuhan pada saat pemungutan suara. Nah, sisanya digotong ramai-ramai oleh masyarakat desa. Pasti ringan. Atau agar masyarakat tidak terbebani, bisa juga dianggarkan dalam APB Desa.

Sehingga, bakal calon kepala desa yang “berkualitas” namun tidak punya uang, bisa ikut berkompetisi dalam pilkades. Juga logika “balik modal” dapat dihindari. Karena masyarakat yang membiayai proses demokrasi, maka setelah menjabat kepala desa memiliki “beban moral” yang tinggi untuk memberikan pelayanan terbaik kepada rakyat.


Sayang, hajatan demokrasi dari tingkat desa sampai level nasional selalu saja “mengajarkan” masyarakat untuk melakukan politik pragmatis. Mudah-mudahan di desaku tercinta tidak ada lagi yang namanya intimidasi, pemaksaan hak pilih, “serangan fajar” apalagi bagi-bagi amplop secara terbuka. Kemudian semua rangkaian proses demokrasi dapat berjalan dengan damai, dewasa, dan mengedepankan persaudaraan di atas segalanya.

Adi Esmawan, owner jurnalva.com




Share:

Optimisme Pembangunan Desa

Mulai tahun ini, secara efektif telah digulirkan Dana Desa dari Pemerintah Pusat, sesuai dengan amanah Undang-Undang nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa. Besarannya bervariasi, tergantung luas wilayah desa dan jumlah penduduk. Pada tahun 2016 mendatang, wacana alokasi satu milyar per desa per tahun akan benar-benar terealisasi.

Dengan demikian, sumber pendapatan desa meliputi beberapa pos, yakni Dana Desa dari pemerintah pusat, alokasi dana desa dari Pemerintah Daerah, Bantuan Provinsi dari pemerintah Provinsi, serta Pendapatan Asli Desa (PAD) dari BUMDes atau aset-aset desa. Semua pendapatan desa harus dianggarkan dengan jelas dalam Peraturan Desa tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes) yang ditetapkan oleh Kepala Desa bersama BPD.

Mekanisme penyaluran dana desa, langsung ditranfer dari Kementerian Keuangan ke rekening Pemerintah Daerah. Kemudian dari Pemerintah daerah ditranfer ke rekening kas desa masing-masing. Disinilah kadang timbul masalah dimana Pemerintah Daerah  menunda pencairan dana dengan alasan administrasi dan lain sebagainya.

Namun demikian, masyarakat dan pemerintah desa, BPD, LP3M/LPMD, serta para pemangku kepentingan harus optimis dana desa terserap secara efektif untuk pembangunan dan peningkatan kinerja pemerintah desa. Dari optimisme ini, akan lahir kemauan serta political will untuk memanfaatkan dana dengan sebaik-baiknya, tanpa penyelewengan apalagi tindak pidana korupsi.

Dalam hal perencanaan pembangunan, masyarakat harus benar-benar dilibatkan dalam Musyawarah Rencana Pembangunan Desa (Musrenbangdes) yang nanti akan dituangkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJMDes) dan Rencana Kerja Pemerintahan Desa (RKPDesa). Jangan sampai, dokumen perencanaan pembangunan dibuat asal-asalan tanpa skala priorotas yang baik sehingga akhirnya pembangunan yang dilaksanakan tidak tepat guna.

Jika perencanaan pembangunan desa baik, tata kelola bersih, efektif dan merata, serta dukungan masyarakat dalam partisipasi pembangunan penuh dan menyeluruh, maka kita optimis, pembangunan desa satu tahun kedepan akan pesat dan gemilang. Desa akan menjadi salah satu penyokong pertumbuhan ekonomi khususnya sektor riil.

Namun demikian, mengingat jumlah dana yang cukup besar, pengawasan dan evaluasi dari semua pihak mutlak dijalankan, baik pengawasan secara struktural, lintas sektoral, maupun  pengawasan dari masyarakat agar tidak terjadi praktik penyelewengan dana desa.

Kementerian Keuangan telah mentransfer dana desa ke rekening pemerintah daerah sebagaimana diungkapkan Menteri Desa dan PDT Marwan  Ja’far beberapa waktu lalu kepada media. Mari kita kawal bersama untuk pembangunan desa yang lebih baik.


Author : Adi Esmawan, owner jurnalva.com
Share:

Ahok dan Usulan Pembubaran IPDN



Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok kembali menuai kontroversi pasca usulanya yang meminta Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) dibubarkan. Ahok beralasan, selama ini tes masuk dan output (lulusan) IPDN tidak jelas. Hasil lulusan IPDN yang duduk dipemerintahan juga dianggap kurang memiliki daya saing dan tidak menunjukan sikap sebagai pelayan publik (public servant). Kesan di masyarakat juga menganggap IPDN masih menggunakan pola militeristik dalam mendidik praja (perserta didik) IPDN.

Kontan saja, usulan Ahok disambut beragam reaksi pro dan kontra. Ikatan Alumni IPDN mengecam keras usulan Ahok. Bahkan tidak tanggung Wakil Presiden Jusuf Kalla menyatakan bahwa IPDN masih dibutuhkan dan tidak perlu dibubarkan. Kalau urusan kekerasan (militeristik), itu yang dihilangkan, bukan sekolahnya yang dibubarkan.

Perlu diketahui bahwa IPDN merupakan pendidikan tinggi kedinasan khusus calon Pegawai Pemerintahan yang berada dalam naungan Kementerian Dalam Negeri. Pendidikan Tinggi ini bertujuan untuk menyediakan Sumber Daya Manusia calon  aparatur pemerintahan baik di pusat maupun di daerah. Berdasarkan jejak rekam, banyak alumnus IPDN yang berprestasi. Meskipun banyak juga yang biasa-biasa saja bahkan dibawah standar alumni perguruan tinggi lain.

Tentu saja, segala sesuatu tidak bisa digebyah  uyah podo asine alias disamaratakan bahwa semua alumni IPDN tidak berkualitas dan pola militeristik masih kental. Jika digeneralisir seperti itu, maka jelas tidak bijaksana.

Ibarat kata, jika dalam suatu tubuh lembaga  pendidikan tinggi terdapat masalah, yang dihilangkan masalahnya bukan sekolahnya yang harus bubar. Saya yakin, keberadaan IPDN masih sangat dibutuhkan oleh negeri ini sama halnya dengan AKPOL dan AKMIL. Tinggal tata kelola dan sistem yang diperbaiki. Usulan pembubaran IPDN adalah sangat berlebihan.


Author : Adi Esmawan
Share:

Ada Masalah Apa dengan Token Listrik?



Pernyataan Menteri Koordinator Kemaritiman Rizal Ramli yang meminta kebijakan token listrik prabayar dikaji kembali, cukup menarik dan menyentak perhatian publik. Selama ini, sistem pembayaran listrik secara prabayar melalui token (pulsa) listrik dianggap sebagai sebuah terobosan baru yang inovatif dan efisien.

Bahkan, PLN menyebutkan diantara keunggulan listrik prabayar adalah pengguna lebih leluasa dalam mengendalikan pemakaian listrik, sehingga sesuai dengan kebutuhan dan keinginan pengguna. Tetapi nyatanya di lapangan, justru lebih banyak memberatkan masyarakat .

Menteri Rizal Ramli menyebutkan, masalah utama dalam token listrik prabayar adalah ketersediaanya yang terbatas dan harga yang mahal akibat pembengkakkan biaya administrasi. Beliau mencontohkan, jika membeli pulsa listrik Rp.100.000,-, listriknya hanya Rp. 73.000,-.  “Kejam sekali itu, 27% disedot oleh provider yang setengah mafia”, ujar Rizal Ramli.

Pakar ekonomi jebolan Amerika tersebut juga menuding ada monopoli sistem tarif listrik. Ia bahkan menenggarai ada mafia di balik megaproyek token listrik.
Jika memang kenyataanya demikian, maka sistem pembayaran listrik prabayar perlu dikaji kembali. Apalagi, banyak masyarakat yang mengeluh karena sistem inputnya lebih rumit daripada listrik pasca bayar dengan sistem analog.

Contohnya di pelosok desa yang masih banyak penyandang buta aksara. Dalam membeli token listrik dan menginputnya, masih mengalami kesulitan. Kemudian banyak terjadi token yang masuk lebih mahal dari nilai yang dibeli. Apalagi jika membelinya dengan jumlah yang kecil, maka dihitung-hitung lebih mahal biaya administrasi dan “pembengkakan” tarif daripada pulsa listriknya.

Seharusnya, PLN bijaksana dan tidak hanya mengejar profit belaka. Urusan tarif listrik berkenaan dengan hajat hidup rakyat. Jika yang dipakai adalah logika korporasi dengan “untung” sebagai target utama, maka rakyat yang “buntung” dan sama dengan drakula yang menyerap darah anaknya sendiri.

Author : Adi Esmawan
Sumber gambar : Laman Resmi PLN




Share:

Mencari Makna Hidup

Saya yakin, anda (dan juga saya) masih terbingung-bingung dengan apa makna “hidup” dan kehidupan sesungguhnya. Sebelum kita lebih jauh, sambil terus membaca artikel ini, silahkan rentangkan kedua tanganmu. Bersama datang malam. Agar dapat kau rebahkan kepala. Kemudian bernafaslah perlahan.  Nikmati  nafas-nafas anda dengan memejamkan mata. Endapkan hati, tenangkan fikiran. Jernihkan rasa dan buang segala gundah. Peganglah bilik kiri dada anda. Kemudian bersyukurlah, jantung anda masih berdetak. Itulah tafsir hidup nomor satu.

Kemudian anda tanya kembali diri anda, hidup itu apa sih? Apa perlu kita keluar ke teras rumah. Mungkin ada beberapa tanaman bunga di sana. Atau pohon-pohon rindang di kanan kiri rumah anda. Jika masih hijau, berbunga, berdiri tegak, dan mengayun melambai dibuai angin. Itu tandanya hidup. Sampai disini kita sudah tau makna hidup?

Hidup adalah detik ini. Saat anda menghirup nafas pertama dan mengeluarkanya kembali. Sebelum itu sudah menjadi sejarah, kenangan. Dan yang belum terjadi hanyalah sebatas rencana dan angan-angan. Ini makna hidup yang kedua. Tapi pendapat ini lebih dekat dengan pemikiran Marx, tokoh komunis ternama.

Hidup itu anugerah dari Tuhan : kesempatan untuk berdharma bhakti kepada-Nya, menjalankan hukum-hukumnya. Berjalan di atas petunjuknya. Ini konsep hidup kita sebagai manusia yang sangat bergantung pada Tuhan. Maka makna hidup menjadi ringan : kesempatan berjalan menuju Tuhan.

Tapi jangan lupa, Tuhan memberikan hidup bukan hanya kepada kita, manusia. Juga kepada semut, lebah, belalang, serangga, cacing, elang, emprit, garuda, pleci, ular sawah, ikan, dan jutaan spesies dari  golongan flora maupun fauna. Mereka itu sama-sama ciptaan Tuhan yang tentu saja punya nilai, manfaat dan tujuan diciptakan. Ingat, Tuhan tidak menciptakan suatu hal pun dengan sia-sia.

Jadi sesama makhluk hidup, tugas kita saling menghargai, menghormati dan juga menghidupi. Janganlah kerakusan kita menyebabkan hidup makhluk lain terampas. Dari hal kecil saja, silahkan anda mencuci baju, tapi jangan sampai detergen dan limbah rumah tangga membunuh ekosistem air tawar. Janganlah sampah dan limbah industri membunuh ekosistem sungai. Itu baru hal kecil.

Mungkin bisa juga kita maknai, hidup adalah berbagi. Memberikan apa yang bisa kita berikan. Bukan aji mumpung kemudian mengeksploitasi segalanya untuk kenikmatan kita.

Selanjutnya, silahkan maknai sendiri bagaimana hidup anda. Sampai jumpa lain waktu.


Author : Adi Esmawan, owner jurnalva.com
Share:

Manusia Hardware

Anggap saja kita ini seperangkat komputer. Tidak usah berdebat apakah bentuknya laptop atau komputer duduk (PC). Pokoknya, anggaplah anda itu komputer yang terdiri dari dua komponen, hardware dan software. Dan diperjelas lagi, hardware itu bentuk fisiknya komputer sedangkan software adalah program di dalamnya yang kasat mata alias tidak bisa diraba. Bahkan, dicium juga tidak bisa.

Oke. Sampai di sini kita sudah tahu tanpa harus diberitahu. Hardware-nya manusia itu ya tampilan fisiknya manusia. Dari ujung kaki hingga ujung kepala, segala anggota badan itulah hardware manusia. Silahkan dipilah-pilah sendiri mana prosesor, CPU, input device dan output device. Tapi tidak usah diperinci mana yang kita anggap keyboard, mouse dan monitor. Nanti nggak bakalan ketemu. Ini cuma analogi bahkan hanya perumpamaan. Kita sama sekali tidak sedang bicara teknisi perangkat keras. Kita sedang bicara dua unsur penting manusia,yakni  jasmani dan rokhani. Kita analogikan saja jasmani itu hardware dan rokhani itu software.

Nah, mengapa judul di atas sengaja saya tulis  “Manusia Hardware”,  karena kita lebih sayang fisik daripada ruh.  Waktu kita lebih banyak habis untuk merawat fisik, kenikmatan jasmani  dan meremehkan atau bahkan mengabaikan aspek ruhani.

Kekhawatiran kita hanya pada fisik. Coba, betapa khawatirnya akan biaya ini dan biaya itu di hari esok. Semuanya biaya jasmani. Lhah biaya pendidikan? Itu masuk biaya jasmani karena pendidikan masa kini hanya untuk mencari pekerjaan? Atau kualitas hidup yang lebih baik? Ah semua hanya melulu pada kebahagiaan jasmani belaka.

Jadi, ibarat komputer, kita hanya memikirkan casing atau perangkat kerasnya saja. Oke. Kita mulai dari yang tingkat tinggi. Anggaran negara banyak yang terkuras untuk pembangunan fisik semata. Apalah itu namanya; ekonomi, infrastruktur, gedung-gedung, sarana prasarana. Yang dikejar target pertumbuhanya semata hanyalah fisik. Kita bahkan lupa bagian penting lagu kebangsaan kita “bangunlah jiwanya, bangunlah badannya, untuk Indonesia Raya”. Bangun jiwanya dulu, baru badan. Jangan badannya terus dibangun, jiwa dibiarkan sekarat bahkan mati.

Sekarang ada lagi Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia. Perlu diperjelas apanya yang mau dibangun? Jika hanya melulu soal pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM), keterampilan alias skill, maka ujung-ujungnya pasti daya saing dan kemampuan bekerja untuk mandirisasi ekonomi. Ah  lagi-lagi duit dan dunia yang jadi target.

Kita memang tidak menafikan apalagi mengesampingkan aspek kesejahteraan hidup. Apalagi menyepelekan sektor ekonomi dan uang. Sama sekali tidak. Tapi sebagai makhluk berakal dan beragama, kita semua sudah tahu, bahwa hidup di atas tanah air itu ada batas waktunya. Kita punya Tuhan sebagai tujuan. Dunia hanya gerbong kereta yang terus berjalan menuju tujuan : Tuhan. Kita tidak boleh terlena dan hanya bersenang-senang di gerbong lalu lupa tujuan. Nanti kita baru tersadar kalau sudah sampai di stasiun kematian. Nah lhoh, penyesalan sudah tiada guna.

Silahkan anda buat gerbong kereta kehidupan anda senyaman mungkin, dengan fasilitas semewah mungkin. Se-sejahtera mungkin. Tapi jangan pernah lupa tujuan perjalanan dan jangan lupa peta jalan dari Tuhan. Biar tidak tersesat. Itu saja. Maka anda akan bahagia di gerbong “dunia” dan bahagia di tempat  tujuan.

Kembali ke judul di atas “manusia hardware”. Saya jadi lupa untuk membahas lagi. Yang jelas, fisik kita, jasmani kita, pasti akan rusak. Ganteng dan cantik itu ada batas waktunya. Kekuatan mata, telinga, hati dan jantung ada umurnya. Maka, mari kita rawat jasmani kita tanpa mengabaikan ruhani kita.
Sampai jumpa di tulisan saya selanjutnya.


Author : Adi Esmawan, Pengasuh Jurnalva.com
Share:

Kasus Hukum Anas : Keadilan Milik Siapa?

Sejak kapan, penegakkan hukum disetir oleh opini publik? Mungkin kita sulit menjawab. Namun, pasca lengsernya rezim orde baru, arah penegakkan hukum di negeri ini tampaknya semakin jauh dari cita-cita reformasi. Alih-alih memperjuangkan supermasi hukum dan keadilan untuk semua, nyatanya hukum justru tunduk pada bayang-bayang opini publik. Kasus-kasus yang dianggap “populis” dan sesuai keinginan publik, dikatrol dan didramatisir sedemikian rupa. Akhirnya, penegak hukum dan institusi hukum berlomba-lomba mendongkrak popularitas dengan membidik orang-orang ternama.

Maka jangan heran, jika target penetapan tersangka adalah mereka-mereka yang punya nama besar lagi duduk di jabatan-jabatan penting. Mereka yang punya daya tarik bombastis dalam dunia pemberitaan media. Menyiduk dengan mengorek kesalahan mereka serta menyeretnya ke meja hijau akan membuat lembaga hukum itu distempel “berprestasi” di mata publik. Citra “pemberani” dan “pahlawan” pemberantas koruptor akan melekat dan nama mereka akan melejit. Sementara skandal kasus akbar, seperti Century yang dulu menjadi target mantan ketua KPK Abaraham Samad, justru menguap entah kemana.

Mungkin jika pola penegakkan hukum seperti ini dilakukan dengan obyektif, tanpa ditunggangi kepentingan untuk mendiskreditkan pihak-pihak tertentu dan tanpa unsur dendam politik, maka penegak hukum akan benar-benar gagah di mata publik. Namun sangat disayangkan, jika banyak kasus justru disinyalir hasil rekayasa. Dari penetapan tersangka hingga vonis hakim seolah bisa di­-engineering sedemikian rupa.

Kasus hukum yang menjerat mantan  Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum adalah contoh kasat mata betapa penegakkan hukum lebih berorientasi pada “cari muka” para institusi penegak hukum di mata publik.
Sejak awal, publik menilai banyak kejanggalan. Mulai dari penetapan tersangka yang berdasarkan keterangan Mohamad Nazarudin, heboh sprindik bocor, hingga berbagai pernyataan kontroversial ketua KPK kala itu, Abraham Samad yang kerap menyudutkan Anas sehingga terkesan tendensius. Belum lagi soal fakta persidangan yang saling bertentangan satu saksi dengan saksi lainya. Kesemuanya  jelaslah sebagai pemaksaan kehendak untuk membuktikan Anas bersalah.

Paling menarik adalah adanya bumbu politis, tentang tuduhan jaksa yang menyatakan Anas Urbaningrum ingin menjadi presiden. Ini adalah terang benderang, bahwa Anas adalah nama yang terpaksa diseret untuk menjadi tumbal berbagai kepentingan. Muaranya hanya Tuhan yang Maha Tahu. Wallohu ‘Alam saja.


Terakhir, soal putusan Hakim Artidjo yang sebenarnya sudah dapat ditebak sejak awal. Bukannya berangkat dari azas keadilan, putusan Artidjo justru penuh dengan semangat menghukum. Ah, tidak ada manusia yang berlaku adil dengan sempurna. Bukankah, hanya Alloh sebaik-baik hakim?

Author : Adi Esmawan
Sumber Gambar : Sharia.co.id
Share:

Bayang-Bayang Ijazah Instan

Kita kembali tersentak dengan terkuaknya jual beli Ijazah berikut gelar akademik. Tidak tanggung, yang terlibat dalam skandal memalukan ini adalah kalangan pejabat tinggi, anggota parlemen, hingga civitas akademika yang seharusnya ikut menjaga kesucian dunia pendidikan.

Mungkin, terkuaknya kasus ini di mata publik hanya fenomena puncak gunung es. Dimana pada alam nyata, jual beli ijazah dan gelar adalah hal biasa. Ini bukan hanya kepalsuan legalitas, melainkan bentuk penghinaan terhadap ilmu pengetahuan.

Dalam ranah pendidikan, gelar dan ijazah hanya dapat diperoleh jika sudah menjalani serangkaian proses yang panjang. Ia adalah simbol pengakuan kualitas keilmuan dengan tahapan-tahapan prasyarat  yang mengharuskan perjuangan dan olah kemampuan. Transkip nilai bukan hanya angka-angka semu melainkan predikat kemampuan yang sudah teruji dan terbukti.

Nah, jika gelar dan ijazah dapat dibeli dengan uang tanpa melewati serangkaian proses sebagaimana rule akademik, maka alangkah hina dunia pendidikan di negeri ini. Dimana orang-orang yang hanya “berduit”, tanpa kemampuan dan perjuangan, dapat menyandang gelar akademik.

Atau mungkin karena dunia pendidikan di negeri ini sudah kadung korup dan telah lama menyalin diri sebagai institusi korporasi. Logika yang dipakai adalah menempatkan ilmu sebagai komoditas, sedang ijazah maupun gelar adalah entitas utama. Masyarakat dan peserta didik hanyalah konsumen dengan relasi simbiosis mutualisme alias sama-sama untung.  Uang memegang daulat tertinggi.

Dalam dunia pendidikan di pesantren tradisional, ijazah hanya dapat diberikan setelah santri melewati tingkat demi tingkat atau tahapan yang tidak mudah. Serangkaian prosesi dan uji kemampuan benar-benar dilakukan dengan jujur dan menjunjung tinggi etika akademik. Maka Ijazah atau syahadah yang diperoleh merupakan bukti shahih pengakuan keilmuan.

Dalam kitab klasik yang populer di kalangan pesantren “Ta’lim Muta’alim Tharekat Ta’alum”, memposisikan ilmu pengetahuan  dengan pangkat tertinggi. Ia harus diperlakukan di atas segalanya. Ilmu sebagai hal yang tidak ternilai dan tidak akan tergadai oleh berapapun nilai uang. Maka jangan heran jika kitab ini memerintahkan pencari ilmu untuk tidak menaruh buku di tempat sembarangan, menghormati dan memuliakan guru sebagai sumber ilmu, dan  disarankan untuk dalam keadaan suci (tidak berhadast), ketika mengikuti majelis ilmu.

Dunia pendidikan umum  perlu belajar dari pesantren.
Salam inspirasi.

Author : Adi Esmawan, owner www.jurnalva.com


Share:

Desa : Tumbuh Ekonomi, Mati Budaya

Membandingkan saat  ini dengan masa lalu memang tidak bijak. Namun setidaknya, masa lalu adalah cermin untuk melangkah ke masa depan yang lebih cerah.  Masa lalu, sekarang, dan masa depan layak kita sandingkan untuk diambil pelajaran. Dan kita akan mendapati suatu hal yang mendasar, yakni perubahan.

Perubahan memang keharusan waktu. Tidak seorangpun yang bisa menghentikan laju zaman. Kondisi pedesaan di masa lalu dengan masa sekarang sudah berbeda jauh. Teknologi dan arus informasi  telah  menyulap wajah desa hingga seperti sekarang ini.

Ada sisi kebahagiaan, dimana infrastruktur tumbuh pesat. Jalan-jalan aspal nan mulus merambah hingga pelosok. Televisi parabola bukan hal mewah. Demikian juga ponsel, sepeda motor dan mobil. Semuanya sudah menjadi hal biasa bagi kehidupan masyarakat desa.

Pertumbuhan ekonomi dan laju industri telah menjamah kehidupan desa dengan sedemikian rupa. Ekonomi kreatif atau industri kreatif bukan lagi  tersentral di perkotaan. Mungkin inilah yang disebut sebagai progresifitas pembangunan.

Namun ibarat dua sisi mata uang, ada beberapa hal  yang ikut tergerus oleh perubahan. Ya, benar. Hal tersebut adalah kebudayaan. Kebudayaan dalam makna yang seluas-luasnya. Bukan hanya terfokus pada tradisi dan entitas budaya macam tari-tarian dan upacara adat. Itu simbol formal kebudayaan dan bukan kebudayaan itu sendiri. Makna hakiki dari kebudayaan adalah cara hidup.

Secara kasat mata, masyarakat desa sudah kehilangan identitasnya sebagai penduduk yang arif, tangguh, pekerja keras, ramah, dan menjunjung tinggi kebersamaan. Lebih parah lagi, masyarakat di pedesaan sudah kehilangan cara pandang terhadap dunia (world view).

Gaya hidup perkotaan yang menyuguhkan sederet  kesenangan, hidup mudah dengan teknologi, kerja ringan di balik meja kantor, bermadzhab “yang penting hepy”, hingga semuanya diukur dari pencapaian materi membuat anak-anak muda dipedesaan silau dan tergoda.

Mereka, bukan hanya bermigrasi secara fisik dari desa ke kota dengan menjadi perantau atau buruh migran. Namun juga memindahkan cara hidup mereka menjadi gaya kota. Maka jangan heran jika ada anak-anak muda kita berubah total  sekembalinya dari Jakarta.

Apakah ini mengkhawatirkan? Bisa ia, bisa tidak. Mengkhawatirkan jika semua generasi muda bernafsu ingin hijrah ke kota dan meninggalkan potensi desa. Ini gejala bahaya. Saat ini, anak-anak muda selepas  lulus sekolah ingin bekerja di kantoran dan ogah mengikuti jejak ayah-bundanya bertani di sawah.

Nah, kalau semua anak bercita-cita sebagai manajer, direktur, kerja di pabrik, lalu siapa yang akan menyediakan kebutuhan pangan bagi negeri tercinta? Masalah pangan bukanlah masalah sederhana. Seluruh bangsa di dunia menghadapi problematika serius di bidang kebutuhan pangan.

Nah, itu baru sebagian kecil soal sisi lain kehidupan perdesaan. Tumbuh ekonomi mati budaya akan berlanjut di lain waktu. Salam inspirasi.


Adi Esmawan, pengasuh jurnalva.com


Share:

Kuliah itu Tidak Penting!

Eits, jangan protes dulu dengan judul di atas. Ada pandangan menyentak dari seorang inspirator sukses Almarhum Bob Sadino. Dalam acara interview di stasiun televisi swasta, beliau justru agak "ngece" dengan anak kuliahan dan menyatakan kuliah tidak begitu penting. Bob Sadino sendiri droup out alias (murung) dan hanya tiga bulan kuliah.
Di panggung dunia, ada Bil Gates, orang paling kaya nomor wahid di jagad ini juga mengatakan kuliah justru membatasi ruang belajar kita pada disiplin ilmu tertentu. Tak ayal, bos Microsoft itu memilih hengkang alias murung kuliah dari Universitas Havard dan memilih bertapa menekuni apa yang menjadi bakat dan karyanya. Alhasil, microsoft tercipta sebagai masterpic seorang Bil Gates.

Dan lebih tercengang lagi ketika mendiang Steve Job, bos Aple dan owner facebook Mark Zuckerberg, juga tidak lulus kuliah alias memilih mogok berhenti di tengah jalan. Kalau yang terkini, ada nama Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti yang hanya berijazah SMP namun memiliki perusahaan perikanan dengan kapal dan pesawat bahkan merambah bisnis penerbangan dengan brand "Susi Air".

Pertanyaan saya selanjutnya, apakah kuliah begitu penting? Atau urusan nafsi-nafsi (masing-masing individu), dan tergantung urgensi dan situasi?

Masih di panggung sejarah, ada nama Jenderal Besar Soeharto, legenda Penguasa terlama yang memimpin negeri ini selama lebih dari tiga dasa warsa. Beliau lulusan apa? Ah, tentu bukan insinyur atau sarjana apalagi doktor. Dan pada tingkat tertinggi, adalah manusia paling mulia sepanjang sejarah menurut perspektif kami sebagai muslim, yakni Nabi Muhammad SAW. Beliau adalah nabi yang tidak mengenal huruf dan angka. Namun muara segala ilmu. Adapula Maha Guru IAIN Sunan Kalijaga, KH Ali Maksum yang menyusun Kamus Al Munawir, beliau bukan akademisi tapi kualitas keilmuanya bahkan di atas level guru besar.

Jadi saya tetap menyimpulkan bahwa kuliah itu tidak penting. Atau paling tidak, kuliah bukanlah perkara fardhu ain atau syarat wajib bagi setiap individu untuk  menggapai kesuksesan. Apalagi, jika tujuan hidup kita bukan semata materi atau kesuksesan finansial. Selalu dingat, bahwa waktu membatasi segalanya, termasuk keberhasilan. Semua hal akan berganti dan tergantikan. Anda boleh saja menyusun strategi dalam jangka panjang atau perencanaan manajemen untuk berapa puluh tahun ke depan. Namun harus diingat, bahwa waktu anda untuk singgah menatap matahari begitu terbatas!

Ya, kuliah itu tidak penting! Apalagi di tengah sistem pendidikan negeri ini yang masih kacau balau, tidak menghargai proses dan tedensi yang penting ijazah. Parahnya lagi, komersialisasi pendidikan nyata di depan mata. Akses pendidikan berkualitas hanya bagi mereka yang berlimpah harta. Dan puncak kesesatan dari arah pendidikan di negeri ini adalah hanya orientasi pada aspek duniawi dan memposisikan "mahasiswa" sebagai tenaga siap pakai bagi mesin industri dan hamba korporasi.


Ya, kuliah itu tidak penting! Yang terpenting adalah ilmu pengetahuan. Memang, domain dari ilmu pengetahuan berada pada institusi pendidikan tinggi, namun perlu digarisbawahi, bahwa ruang mayantara telah menjadi universitas bayangngan dan menjadi maha guru bagi sebagian pakar di seluruh penjuru dunia.

Kuliah itu tidak penting! Setidaknya bagi sebagian orang yang lebih menganggap formalitas bukan segalanya dan lebih mengutamakan kualitas.

Tulisan ini bukan mengajak anda yang kuliah untuk mogok, apalagi memprovokasi agar anda tidak semangat kuliah. Bukan itu. Yang hendak saya sampaikan, bahwa kuliah itu bukan perkara wajib yang nanti akan diminta pertanggungjawabannya kelak. Perkara wajib adalah mencari ilmu dimanapun dan kapanpun agar kita tidak tersesat hidup di kehidupan ini.

Bagi anda yang sedang berposisi sebagai "mahasiswa", apalagi kuliah di Universitas ternama, tidak perlu terlalu berbangga diri dan meremehkan sahabat-sahabat lain yang tidak sempat mengenyam bangku sekolah. Karena menjadi "mahasiswa" dan duduk di bangku kuliah, bukanlah sesuatu yang "istimewa".

Dan bagi anda yang tidak bisa duduk di bangku kuliah, tidak perlu berkecil hati. Anda harus bersemangat. Siapa tau, anda adalah Bil Gates, Steve Jobs, atau Bob Sadino berikutnya yang akan membuat sejarah tercengang dan terkagum-kagum.

Salam Inspirasi


Adi Esmawan, owner jurnalva.com
Share:

Definition List

Unordered List

Support