Jurnal Wawasan dan Inspirasi Kehidupan

Bank Sampah, Manajemen Efektif Pengelolaan Sampah

Jangan pernah menganggap enteng masalah sampah. Ya, sampah kadang menjadi musuh paling serius dalam...

Budaya Sambat, Gotong Royong yang Mulai Luntur

Tanpa kita sadari namun sangat kita rasakan, banyak kebaikan dan kearifan yang hilang seiring berjalannya zaman. Dulu, jika..

Programer : Seniman Tingkat Tinggi?

Judul di atas mungkin terlalu “narsis” atau terkesan menempatkan programer pada derajat yang amat terpuji. Tapi agaknya itu yang

Membaca Soekarno, Soeharto dan Indonesia Kita

Kalau hanya untuk menghafalkan materi, tebak-tebakan soal, dan mempelajari keahlian tertentu, tidak usah pakai guru. Pakai komputer saja lebih hebat. Kalau sekolah hanya

Sebentar Lagi, Guru Akan Tersingkir?

Kalau hanya untuk menghafalkan materi, tebak-tebakan soal, dan mempelajari keahlian tertentu, tidak usah pakai guru. Pakai komputer saja lebih hebat. Kalau sekolah hanya menjalankan fungsi “pengajaran”, pakai komputer saja. Tidak usah dan tidak perlu bimbingan guru.

Tampilkan postingan dengan label Ilmu Pengetahuan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ilmu Pengetahuan. Tampilkan semua postingan

Membaca Gontor dari Kiprah Para Alumni


Mari kita rehat sejenak dari kegaduhan. Mengungsi dari hiruk pikuk dinamika politik membosankan yang kian hari kian bertambah tinggi tensi dan pernak-perniknya. Jangan lupa berdo’a agar bangsa ini tidak terjebak pada kubangan perpecahan dan pertentangan yang tak berkesudahan.

Kita ajak “pikiran” kita untuk safari saja ke Ponorogo, Jawa Timur. Menengok  lebih dekat “perguruan istimewa” yang telah menghasilkan pendekar-pendekar hebat yang mengisi jagad Indonesia.

Mari kita mulai. Siapa yang tidak kenal KH Idham Chalid, sang pejuang, politisi dan Ketua Tanfidziyah PBNU paling lama menjabat (1952 – 1984). Ada cendikiawan dan pendiri Paramadina, Prof. Dr. Nurcholis Madjid, tokoh nasional KH Hasyim Muzadi, ulama terkemuka Prof. Dr. KH Din Syamsudin, politisi senior Dr. Hidayat Nur Wahid, mantan ketua KPK Adnan Pandu Praja, Menteri Agama Lukman Hakim Saifudin, hingga tokoh pendiri MMI Ustadz Abu Bakar Baasyir, dan sederet nama “penting” lainya adalah para pendekar alumni “perguruan istimewa” yang dimiliki tanah air ini.

Ya, benar. Lembaga pendidikan tersebut adalah Pondok Modern Darussalam, Gontor, Ponorogo yang pada tahun 2016 ini genap berusia sembilan dasa warsa.

Didirikan oleh tiga bersaudara putra Kyai Santoso Anom Besari, yakni KH. Ahmad Sahal, KH. Zaenudin Fananie, dan KH Imam Zarkasyi. Ketiga pendiri ini kemudian terkenal dengan istilah trimurti  Pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor.

Apa sih istimewanya Pondok Modern Darussalam Gontor?

Penulis sendiri belum pernah berkunjung secara langsung ke kampus Gontor yang sudah memiliki puluhan pondok cabang di seluruh penjuru tanah air dan ratusan pondok alumni. Namun demikian, penulis mencoba “meraba dan membaca” keistimewaan pondok Gontor melalui buku-buku, media dan terpenting adalah “membaca kiprah para alumni” pondok Modern Gontor dalam kancah sejarah Indonesia. Alumni adalah “output” yang kita anggap sebagai hasil cetakan sebuah produk pendidikan. Mudah saja kita menilai apakah sebuah lembaga pendidikan itu kompeten atau tidak, dilihat dari kiprah para alumninya.

Dan alumni Gontor sangat menarik untuk dikaji. Dimana Gontor adalah perguruan yang menghasilkan tokoh “papan atas”  dengan keragaman dan perbedaan pemikiran. Mungkin karena Gontor “berdiri di atas dan untuk semua golongan”, sehingga alumni-nya mengisi warna-warni pandangan keber-agamaan di Indonesia.

Jika KH Idham Chalid yang merupakan tokoh Nahdlatul Ulama, juga KH Hasyim Muzadi. Maka ada Prof. Din Syamsudin yang merupakan tokoh Muhammadiyah. Jika Nurcholis Madjid merupakan tokoh modernis dan cenderung “liberal”, maka ada Ustadz Abu Bakar Ba’asyir yang cenderung konservatif dan radikal. Luar biasa. Satu perguruan dengan beberapa perbedaan pemikiran.

KH Hasyim Muzadi pernah memaparkan panjang lebar bagaimana “kesan dan kenangan” saat beliau nyantri di Gontor. Bagi beliau, Gontor bukan hanya mengajarkan keilmuan (dirosah), tapi Gontor justru mengajarkan kehidupan secara utuh. Ingat bahwa keilmuan adalah bagian dari kehidupan, bukan kehidupan bagian dari keilmuan. Jadi, apa yang dilihat, didengar, dibiasakan, dikaji, dibaca,  dipahami dan dirasakan di Gontor adalah “pendidikan” yang utuh.

Trimurti pondok Gontor bukan hanya mewariskan sebuah lembaga berujud fisik bangunan pesantren. Lebih dari itu, trimurti pondok gontor telah mengestavetkan nilai-nilai perjuangan, semangat dan keteladanan yang akan hidup sebagai “mesin pencetak” tokoh-tokoh yang akan mengisi  dan melanjutkan perjuangan tri murti untuk bangsa ini.

Di Gontor memiliki motto yang menjadi pusaka: (1) berbudi tinggi, (2) berbadan sehat, (3) berpengetahuan luas dan (4) berpikiran bebas.

Budayawan Emha Ainun Nadjib (Cak Nun), yang teryata merupakan drop out dari Gontor menjelaskan,bahwa keempat motto di atas adalah proses runtut sistem pendidikan Gontor yang tidak boleh dibolak-balik. Keempat ini adalah formula yang paling pas untuk mencetak “manusia unggul” yang dibutuhkan agama dan bangsa.

Jangan lupa, bahwa akhlaqul karimah harus diimbangi dengan raga yang sehat, pengetahuan yang luas dan baru berpikir secara bebas. Tidak boleh berpikir bebas dulu baru berpengetahuan luas.
Selain itu, Gontor juga memiliki  Panca Jiwa, yakni keikhlasan, kesederhanaan, berdikari, ukhuwah Islamiyah, dan kebebasan. Panca Jiwa ini diajarkan bukan hanya dengan teori, tapi dipraktikan langsung oleh tiap santri dengan tahapan dan “dosis” yang pas.

Kembali kepada kiprah alumni. Gontor telah membuktikan pada dunia, bahwa alumni hasil didikan pesantren bukanlah orang sembarangan. Mereka punya kompetensi dan kapastitas yang sangat dibutuhkan Indonesia dan dunia.

Presiden Joko Widodo pada acara resepsi kesyukuran Gontor  mengatakan, bahwa Pondok Gontor telah membuktikan bahwa lembaga ini mampu bersaing, dibuktikan alumninya turut berkontribusi dalam pembangunan bangsa. Ada yang duduk di eksekutif, pimpinan DPD, legislatif dan profesional lainya.

Dan sejarah membuktikan, bahwa alumni Gontor telah mengabdikan ilmunya untuk bangsa dan negara. Banyak diantaranya adalah para Guru Besar bergelar Profesor Doktor. Para ahli bahasa asing, diplomat, menteri, wakil menteri, pimpinan lembaga tinggi negara, dan lain sebagainya.

Dan terpenting adalah pesan dari Trimurti, “Orang besar menurut Gontor, bukanlah orang yang terkenal dan kaya, tapi sesungguhnya mereka yang mau mengajar walau di surau-surau kecil. Mereka yang bermanfaatlah yang bisa disebut orang besar”.


Juga wejangan KH Imam Zarkasyi, “Kalau saya punya santri mau berjuang kedesanya, membina dakwah dalam desa itu, anak seperti itu cukup besar bagi saya”

Terakhir, kita butuh gontor-gontor di seluruh penjuru tanah air.  Mengajarkan, menyebarkan dan mendidik anak bangsa dengan “cara” dan metodenya yang luar biasa.

Salam.

Penulis : Adi Esmawan, owner jurnalva.com



Share:

Waspada Virus Cerber Ransomware!

Bagi para pengguna komputer yang belum tau apa itu virus cerber ransomware, waspadalah! Ini adalah virus ganas yang menyerang pengguna komputer, utamanya pengguna windows. Cerber menyerang komputer dengan cara meng-enkripsi­ semua file yang ada pada komputer anda. Enkripsi adalah merubah data asli menjadi data yang hanya si perubah data yang dapat merubahnya kembali.

Nah, setelah file anda dirubah dan diacak-acak oleh virus cerber, maka untuk mengembalikanya kembali, anda akan  digiring pada sebuah web tertentu dan diminta untuk membayar tebusan. Jika tidak dibayar, data anda akan hilang selamanya! Ya, karena untuk mengembalikan data kembali seperti semula, file yang ter-enkripsi harus di dekrip kembali, dan hanya siperubah atau si pembuat virus yang tau kunci untuk merubahnya kembali.

Memang, para pakar IT dan para pembuat antivirus sedang mencari cara untuk mengatasi virus cerber ransomware . Namun mencegah lebih baik dari mengobati.

Beberapa tips untuk mencegah virus cerber ransomware :
1.   Jangan coba-coba atau iseng membuka link website yang mencurigakan, yang kemudian menawarkan dan meminta kita untuk menginstal program tertentu.
2.   Hati-hati saat mendwonload data, jangan-jangan data atau file yang kita dwonload adalah virus berbahaya. Pastikan situs penyedia dwonload adalah situs terpercaya.
3.   Hati-hati dengan ad fly atau situs penyedia dwonload (pasar dwonload), karena kebanyakan virus berasal dari sini. Meskipun tidak semua yang tersedia disana adalah virus;
4.   Jangan pernah coba-coba membuka email dari orang tidak dikenal, apalagi jika dibuka kemudian meminta kita untuk menginstal program
5.   Gunakan anti virus berlapis guna mengantisipasi segala kemungkinan
6. Untuk jaga-jaga, simpan file-file penting anda di device atau media penyimpanan eksternal.

Jika komputer anda sudah terkena cerber ransomware, jalan terbaik adalah instal ulang sampai bersih. Jika anda browsing di google kemudian ada situs yang katanya mampu mendekrip file dan mengembalikan file, maka itu sulit dipercaya. Kalaupun bisa, harus di dekrip satu persatu (per file), dengan sistem upload-dwonload. Biasa dibayangkan berapa waktu yang dibutuhkan. Dan datapun tidak akan kembali sempurna seperti sediakala. Tetap waspada.


Author : Adi Esmawan, mahasiswa semester VII STIMIK Tunas Bangsa Banjarnegara, Jurusan Sistem Informasi
Share:

Yuk, Belajar Al Qur’an dan Tajwid Dengan Aplikasi Ini

Sudahkah, anak-anak kita, adik-adik kita, keponakan, dan tunas-tunas muda di sekitar kita dapat membaca Al Qur’an dengan baik dan benar sesuai dengan kaidah Ilmu Tajwid? Atau jangan-jangan, kita sendiri masih “tertatih-tatih” saat membaca kalamulloh tersebut?

Karena sudah bisa dipastikan, kalau membacanya saja tidak  bisa, apalagi mampu memahami, memaknai dan mengamalkanya?

Lebih parah lagi, jika kita justru semakin meninggalkan Al Qur’an dan tidak memberikan “porsi penting” pendidikan Al Qur’an bagi anak-anak dan adik-adik kita. Lalu lebih mementingkan les matematika, bahasa Inggris, dan lain sebagainya.  Ingat, semuanya adalah sama-sama penting, baik matematika, bahasa Inggris, dan juga Ulumul Qur’an.

Di era kemajuan teknologi, sudah selayaknya kita menyelaraskan diri, menyesuaikan keadaan. Karena kemajuan teknologi, tak ada seorangpun yang sanggup membendung, apalagi menolaknya. Kita harus memanfaatkannya untuk kemaslahatan dan kemudahan umat, terlebih di bidang pendidikan.

Saat ini, telah banyak metode pendidikan berikut perangkatnya yang dibuat dan dikembangkan dengan plafond digital, baik versi dekstop (komputer duduk) mapupun versi android untuk ponsel pintar.

Nah, untuk memudahkan belajar Al Qur’an dan Ilmu Tajwid, telah ada aplikasi yang disajikan oleh situs http://quran-terjemah.org/ .  Aplikasi tersebut tersedia untuk komputer  dekstop dan android.



Apa saja menu yang ada dalam aplikasi? Nah, ini yang penting. Ada aplikasi Qur’an dan terjemahnya, baik ke dalam bahasa Indonesia maupun Bahasa Inggris. Kemudian tersedia audio Qu’an untuk diperdengarkan. Terpenting, ada pedoman praktis Ilmu Tajwid yang bisa digunakan untuk belajar. Selain itu, dilengkapi aplikasi jadwal adzan yang akan berbunyi otomatis.  Untuk pengaturan, tersedia menu setting dan konfigurasi.

Untuk komputer dekstop, ada versi untuk windows 32 bite dan 64 bite, tinggal pilih sewaktu dwonload. Untuk sistem operasi selain windows (linux) mungkin belum tersedia.

Nah, bagi pembaca yang tertarik dengan aplikasi ini, silahkan dwonlad di sini. Kemudian silahkan diinstal di komputer / smartphone masing-masing. Info lengkap, silahkan kunjungi  http://quran-terjemah.org/


Selamat belajar Al Qur’an serta tajwid dengan  menyenangkan. Semoga bermanfaat.
Share:

Sebentar Lagi, Guru akan Tersingkirkan?

Kalau hanya untuk menghafalkan materi, tebak-tebakan soal, dan mempelajari keahlian tertentu, tidak usah pakai guru. Pakai komputer saja lebih hebat. Kalau sekolah hanya menjalankan fungsi “pengajaran”, pakai komputer saja. Tidak usah dan tidak perlu bimbingan guru.

Di komputer itu semuanya sudah tersaji lengkap. Anda mau ilmu apa? Komplit sudah. Mau bahasa apa? Tanya masalah apa? Bahkan para sarjana-sarjana, ilmuwan-ilmuwan, dai-dai, ustadz-ustadzah, hingga doktor dan profesor, mereka lebih suka merujuk ke google untuk menjawab permasalahan yang dihadapi.

Komputer  itu seperti siluman. Ia bisa menjelma sebagai orang tua, manajer, konsultan, kyai, teller bank, dokter, tentara, pacar, mata-mata, bahkan Tuhan tempat minta tolong. Komputer menjelma sebagai berhala baru, sesembahan baru.

Komputer itu hafal Al Qur’an dan segala kitab, teori Newton, Enstein, morfologi dan deskripsi seluruh makhluq semesta. Komputer hafal semua itu.

Guru-guru yang kata pepatah Jawa “digugu lan ditiru” itu, kini lebih suka menyuruh muridnya cari referensi di komputer. Ibu rumah tangga kalau mau masak, tingal cari resepnya di jagad mayantara. Bahkan kalau mau belanja, tidak perlu repot ke pasar. Silahkan ambil gagdet dan belanja sepuasnya di ujung jari.
------
Era komputer telah membawa warna baru dalam dunia pendidikan. Kini, akses terhadap berbagai macam disiplin ilmu  dengan mudahnya dicari dan dipelajari lewat internet. Wawasan dan cakrawala pengetahuan begitu melimpah ruah di jagad mayantara, tentang apapun, dimanapun dan kapanpun, tanpa berbatas jarak, ruang dan waktu.

Komputer dan internet seolah dapat menjawab segala kebutuhan yang diinginkan masyarakat. Maka kita dapati, anak-anak SD sampai kuliahan, dari ibu rumah tangga sampai akademisi, ada masalah sedikit saja langsung merujuk  internet  untuk mencari jawaban, solusi sekaligus informasi yang diinginkan.

Menjamurnya sistem pembelajaran online, kuliah online, serta banyaknya artikel tutorial dan edukasi di komputer, perlahan tapi pasti akan menggeser peran guru dan sekolah dalam memberikan pelajaran. Bahkan, anak-anak muda sekarang lebih suka mengasah skill dan kompetensinya melalui internet dibandingkan belajar pada gurunya atau komunitas.

Bahkan ada ungkapan, bahwa lembaga pendidikan terbaik adalah “Google”. Sungguh mencengangkan.

Memang, jika hanya knowledge yang hendak dicapai dari sebuah proses pendidikan, maka internet adalah ruang terlengkap. Internet adalah perbendaharaan terkomplit segala pengetahuan.


Komputer pada awalnya memang di desain untuk memudahkan manusia, bukan untuk menggantikan peran manusia dalam tatanan kehidupan. Namun pada faktanya, komputer dan robotika (kecerdasan buatan) telah menggusur peran manusia di beberapa bidang. Mulai dari penggunaan robot dalam dunia industri, penemuan sistem terintegrasi di berbagai sektor kehidupan, hingga penggunaan drone untuk menggantikan personel militer saat berperang.

Dan bukan tidak mungkin, posisi guru juga akan tergantikan oleh komputer. Apalagi kalau guru hanya berorientasi “mengajar”, bukan mendidik. Mengajar itu hanya memberikan materi kepada peserta didik untuk hafal teori, mengajari agar bisa keahlian tertentu. Dan hal seperti ini sangat mudah dilakukan oleh komputer.


Komputer dapat melakukan apa saja sesuai kehendak pemiliknya. Ya, karena komputer adalah sebuah perangkat yang  punya otak dasar dan siap diisi dengan berbagai program untuk menjalankan sebuah fungsi sesuai dengan yang diinginkan penggunanya.

Dari mulai hal yang sangat sederhana dan terkesan sepele, seperti menampilkan tulisan “Hello World” di layar monitor ketika kita meng-klik icon tertentu, menghitung luas segitiga dengan input angka alas dan tinggi, mengidentifikasi wajah dari foto/sidik jari pada KTP dengan mencocokkan data pada database pemerintah, menggantikan teller bank pada sistem ATM, menjawab keluhan pengguna di berbagai layanan costumer service, sampai cara untuk memberikan komando tertentu pada robot yang mendarat di planet Mars dengan jarak 225,300,000 km dan delay time sampai 13 menit.

Kembali ke soal guru, akankah peran dan kontribusinya akan tergusur oleh komputer. Jawabanya bisa ia dan bisa tidak. Jika guru  hanya berfungsi sebagai “pengajar” yang memindahkan teori di modul atau buku untuk dihafal peserta didik, kemudian mengujinya dengan tebak-tebakan soal, buat apa pakai guru? Guru akan tergantikan oleh komputer atau setidaknya peran dan fungsinya tidak lagi dominan dalam kehidupan.

Agar tetap eksis dan tidak tergeser oleh komputer, seharusnya guru lebih mengajarkan problem solving skill (kemampuan mengatasi masalah) dan berfungsi sebagai pendidik. Beda  antara “pengajar” dan pendidik. Jika pengajar hanya berorientasi membuat siswa-siswinya hafal dan tahu, maka “pendidik” akan membentuk peserta didiknya menjadi bisa, tangguh, faham, dan mengamalkan apa yang diketahuinya. Mendidik itu dengan teladan, dengan bahasa perbuatan. Bukan hanya sekedar lisan dan tulisan. Itulah yang akan membedakan Guru berbentuk komputer dan Guru berwujud manusia.
Kita lihat saja nanti.


Adi Esmawan, owner jurnalva.com Mahasiswa Sitem Informasi STIMIK Tunas Bangsa, Banjarnegara
Share:

Knowledge Is Power!

Secara fisik, manusia bukanlah makhluq yang terkuat. Dibandingkan macan, singa, gajah, bahkan kerbau dan sapi, manusia kalah “kuat” secara fisik dan tenaga. Apalagi  dibandingkan dengan pohon-pohon nan besar, tinggi lagi menjulang yang berumur ratusan tahun. Manusia bukanlah apa-apa secara fisik dan jasmani.

Namun dalam lembaran kitab suci, manusia adalah pemimpin sekaligus wakil Tuhan di muka bumi. Ia yang semestinya bertanggung jawab atasa apa yang terjadi di alam semesta. Dan manusia yang berkuasa atas masa depan bumi ini.

Untuk menjadikan manusia sebagai khalifah, Tuhan tidak membekali manusia dengan “taring dan kuku tajam” seperti macan dan serigala. Bukan pula  memberikan bentuk fisik yang jumbo dan kuat, macam gajah atau banteng. Secara fisik, manusia itu lemah (dhoif), tertusuk jarum yang kecil saja dia sudah merasa sakit. Batas umurnya juga tidaklah lama, rata-rata berkisar  enampuluh sampai delapan puluh tahun. Tidak seperti pohon beringin yang usianya bisa sampai sepuluh abad.

Lalu apa yang menjadikan manusia bisa menjadi penguasa dan mahkluq terkuat di bumi ini? Hingga binatang buas apapun akan tunduk pada manusia? Jangankan sebatang pohon, bahkan hutan nan lebat, gunung, lembah, sungai, lautan, hingga dasar bumi juga dikeruk dengan mudahnya?

Ya, begitu kuat dan hebatnya manusia. Ia diberi suatu kelebihan yang tidak dimiliki mahkluq lain, bahkan para malaikat sekalipun. Manusia dibekali akal untuk berfikir dan menciptakan sejuta cara untuk eksistensi hidupnya. Akal yang akan yang membuat manusia menjadi super power. Dan akal adalah penampung segala ilmu pengetahuan.

Maka, segala puji bagi Alloh, yang telah mengajarkan manusia dengan perantara pena, mengajarkan apa yang belum diketahuinya.

Ilmu pengetahuan adalah kekuatan. Ia adalah senjata adigdaya yang dimiliki oleh manusia untuk mengalahkan apapun, membuat apapun, singgah dimanapun. Tak jarang ilmu pengetahuan menjadikan manusia berbuat semena-mena dan merusak lingkungan.

Manusia dapat terbang tinggi mengarungi angkasa seperti rajawali bahkan lebih cepat, itu karena ilmu pengetahuan. Ia dapat mengarungi dasar samudra, berlayar di laut lepas dalam ombang-ambing badai, itu juga karena ilmu pengetahuan. Bahkan, saling bunuh dengan senjata berteknologi tinggi, itupun karena ilmu pengetahuan.

Ilmu pengetahuan adalah kekuatan. Bisa jadi kekuatan yang menyelamatkan, memajukan. Dengan ilmu pengetahuan, kemudahan hidup dan kesejahteraan manusia meningkat pesat. Rumah-rumah berdiri megah, gedung-gedung menjulang. Jalan-jalan menembus gunung, menyusuri lembah, bukit dan ngarai. Padi, buah, dan sayur melimpah.

Ilmu pengetahuan adalah kekuatan. Bisa jadi ia menjelma sebagai sumber kehancuran peradaban. Maha karya ilmu pengatahuan : teknologi nuklir misalnya. Jika ia tidak diimbangi dengan kearifan, maka masa depan dunia dalam kekhawatiran  akan bayang-bayang kehancuran.

Ilmu pengetahuan adalah kekuatan. Namun ia harus ditopang dengan keimanan, bahwa di atas segalanya, ada Dzat yang Maha Tahu dan memiliki segala ilmu. Ia yang mengenggam merah hitam   wajah dunia.

Manusia boleh dan sah-sah saja melakukan penelitian dan pengembangan. Di bidang apapun. Cari dan temukan ilmu  apa saja dan dimana saja. Asalkan tidak melupakan esistensi kekuasaan-Nya di atas segala-galanya. Dengan begitu, tidak ada ruang bagi manusia  untuk sombong, angkuh, congkak, dan merasa paling digdaya di alam ini.

Wallohu a’lam.


Share:

AWAS! WASPADA RADIASI MONITOR

Coba cek, berapa jam tiap harinya mata anda memandang layar handphone, komputer, atau televisi. Kemudian cek juga bagaimana kondisi kesehatan mata anda! Jangan-jangan, mata anda terdampak radiasi monitor.

Kemajuan gadget dari tahun ke tahun semakin canggih. Pada dua dasawarsa lalu layar monitor komputer yang beredar di Indonesia kebanyakan dalam bentuk tabung, kini layar monitor semacam itu sudah sulit dijumpai lagi bahkan hampir dikata sudah musnah.

Sebagai gantinya lahir layar monitor berbentuk pipih, hanya setebal 1-2 cm dalam berbagai ukuran. Layar monitor baik generasi lama maupun generasi baru tersebut yang diaplikasikan di komputer, laptop, telepon seluler, televisi dan berbagai produk gadget lainnya mempuyai radiasi yang membahayakan kesehatan mata. Risiko radiasi ini pada umumnya kurang diperhatikan oleh para pengguna komputer. Bahkan bagi maniak (penggemar berat ) komputer mengabaikan risiko tersebut.

Memang, betapa asyiknya duduk berlama-lama di depan komputer. Baik itu sebagai sebuah pekerjaan atau hanya sekedar mengisi waktu luang. Tidak jarang pecandu game mampu duduk di depan komputer sampai berjam-jam tanpa istirahat. Apalagi sekarang di jagat maya banyak terdapat jejaring sosial sepert facebook, dan twitter.

Selain itu, bagi para pengemar game, baik game-game instalan di komputer atau game online yang banyak beredar di dunia internet juga menjadi sebab utama bertahan lama di depan layar monitor komputer. Mereka tak menyadari, bahaya radiasi layar monitor dapat merusak kesehatan matanya. Tanda-tanda awal yang dapat dirasakan terkena radiasi adalah mata menjadi berair dan terasa pedih. Hal ini karena pengaruh dari radiasi yang ditimbulkan layar komputer. Elektromagnetik Monitor komputer menghasilkan beberapa jenis radiasi, yang kesemuanya tidak dapat diderai oleh pancaindera kita.

Adapun gelombang gelombang dan radiasi yang dihasilkan oleh sebuah monitor adalah sinar X, sinar Ultraviolet, gelombang mikro, radiasi elektromagnetik frekuensi rendah, radiasi elektromagnetik frekuensi amat sangat rendah. Radiasi gelombang elektromagnetik yang ditimbulkan komputer tersebut bisa mengganggu kesehatan mata.

Hal ini berdasarkan hasil riset yang dilakukan American Optometric Association (AOA) bahwa radiasi komputer dapat menyebabkan kelelahan mata dan gangguan lainnya pada mata. Kebanyakan gejala yang dikeluhkan responden adalah soal kelelahan mata, pandangan menjadi kabur dan mata kering. Masalah visual lainnya yang timbul adalah soal gangguan sakit kepala dan sakit leher atau bahu. Untuk itu bagi pengguna komputer sangat dianjurkan melindungi kesehatan matanya dengan cara antara lain menggunakan pelindung layar komputer atau filter, pilih layar komputer yang tingkat radiasinya rendah seperti layar liquid crystal display (LCD), jaga jarak pandang mata dengan monitor yakni idealnya 45 cm.

Selain itu sesuaikan posisi layar komputer dengan mata. Artinya jangan ketinggian dan jangan terlalu rendah karena bisa menyebabkan sakit pada leher. Jika posisi monitor ketinggian dari pandangan mata akan menggangu pasokan udara ke otak. Untuk itu ebaiknya layar monitor diposisikan sejajar dengan pandangan mata. Guna mencegah kelelahan mata sebaiknya tempatkan monitor dengan posisi yang ergonomis. Monitor harus ditempatkan pada posisi 16-30 inci dari mata, tergantung seberapa besar layar. Umumnya posisi yang nyaman untuk menatap monitor adalah 20 hingga 26 inci.

Sering Berkedip Hal penting lainnya adalah pencahayaan yang terlalu terang atau terlalu buram tidak baik bagi kesehatan mata. Pencahayaan yang terlalu terang akan membuat mata menjadi silau, sedangkan pencahayaan yang terlalu buram membuat mata bekerja lebih keras untuk melihat. Hal ini akan membuat mata menjadi cepat lelah. Untuk itu, cobalah sesuaikan pencahayaan dan kontras monitor hingga mata bisa melihat dengan nyaman.

Jangan lupa juga untuk menyesuaikan resolusi dengan karakter di monitor agar dokumen- dokumen mudah dibaca. Upaya lainnya jangan terus-terusan pandang layar komputer. Usahakan sediakan waktu beberapa menit untuk mengendorkan dan mengistirahatkan mata dengan mengalihkan perhatian. Ini akan mengurangi kepenatan mata dan otot. Segarkan mata dengan cara memandang ke ruangan lain atau memandang indahnya langit biru atau tanaman hijau. Bagi pengguna komputer jika jarang mengedipkan mata akan membuat matanya menjadi kering.

Karena itu sering berkedip, karena dengan berkedip mata akan mengeluarkan air mata yang akan menyebar ke seluruh permukaan kornea untuk menjaga mata tetap lembab dan jernih. Terhadap masalah bahaya radiasi monitor komputer ini, seorang ahli mata (optometrist) yakni Dr Jay Schlanger mengatakan, beberapa perusahaan mulai membuat lensa yang bagian atasnya dirancang untuk melihat komputer, dan bagian bawahnya untuk membaca.

Pengguna lensa kontak juga punya solusi, yaitu dengan mengganti lensa kontak generasi baru yang terbuat dari silikon hydrogel. ”Silikon jenis ini memungkinkan daya transmisi oksigen yang lebih tinggi dibanding jenis lain,” ungkap Schlanger.


Sumber : Harian Suara Merdeka Cetak edisi 02 Agustus 2013 
Share:

Programer : Seniman Tingkat Tinggi?

Judul di atas mungkin terlalu “narsis” atau terkesan menempatkan programer pada derajat yang amat terpuji. Tapi agaknya itu yang akan kita bahas pada tulisan ini.

Bermula penyampaian materi OSPEK di sebuah Sekolah Tinggi swasta di Banjarnegara. Kebetulan disiplin ilmunya bidang Teknologi Informasi. Ada yang menyentak, ketika sang pemateri (bernama Bapak Fajar Junaedi EP, S.Si, M.Kom) berpesan kepada para peserta “jangan kira anda itu calon teknokrat, tapi sebetulnya programer itu “seniman tingkat tinggi”. Bahkan, seorang programer dunia,  Donald Knuth, menyusun buku berjudul “The Art of Computer Programing”.

Pesan itu sanggat menggelitik penulis dan menarik untuk dikaji.
Ternyata benar, programer itu seniman tingkat tinggi. Atau minimal, seorang programer harus bisa mengadopsi nilai-nilai seni dan estetika dalam membuat sebuah program. Tidak usah jauh-jauh, ketika seorang programer merancang bangun sebuah website, maka dia bukan hanya dituntut untuk merangkai dengan sempurna kode-kode atau script HTML, CSS, kemudian mengkonfigurasinya dengan PHP dan MySQL atau database online. Lebih dari itu, sang programer juga harus menganalisa bagaimana agar website yang dibuatnya memiliki nilai estetika dan keindahan, sehingga tampilan interface-nya disukai oleh user.

Karena percumah saja, sebuah website dibuat dengan script yang rumit dan tingkat tinggi, namun interface-nya menyulitkan, tidak menarik dan tidak disukai pengguna.

Itu baru seorang programer web. Seorang programer atau pengembang Sistem Operasi, baik berbasis Linux maupun windows-misalnya, harus berprinsip “mengembangkan untuk memperbaiki dan menyempurnakan”. Ibarat pelukis, ia disuruh menambal “bagian mana” yang dianggap tidak elok. Jadi, fungsi “memperindah” mutlak dipakai. Bukan malah pengembanganya justru menambah runyam dan meperjelek tampilan.

Mungkin tertinggi adalah programer kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), yang harus dengan “apik” mengintegrasikan nilai-nilai seni dan estetika dalam perancangan algortitmik yang terpadu. Alhasil, robot komputer yang dihasilkan bukan hanya cerdas menirukan apa yang dilakukan manusia, melainkan menyajikan sebuah karya seni yang agung.

Sampai disini mungkin kita wajib “tersadar”, bahwa programer adalah seniman tingkat tinggi.


Author : Adi Esmawan, owner jurnalva.com, pengasuh  komunitas belajar bersama “Muhibul Qur’an”, Dusun Sigong Desa Tempuran.
Share:

Yuk, Nabung Ilmu!

Kita selalu mengkhawatirkan hari esok dan masa depan. Mulai dari persediaan beras, lauk, biaya sekolah, biaya nikah, biaya persalinan, biaya kuliah, biaya wisuda, biaya cicilan, biaya pengembangan ini dan itu, renovasi ini dan itu, hingga biaya kesehatan di hari tua. Saban hari, selalu hari esok dan masa depan kehidupan duniawi yang kita pikirkan dan kita usahakan. Bahkan, ada yang sampai stres dan lupa bahagia gara-gara pusing memikirkan masa depan.

Manusia mungkin adalah satu-satunya makhluk di bumi yang selalu mempersiapkan “hari esok” sebaik-baiknya. Kita tengok makhluk lain, tidak ada satupun yang punya “saldo tabungan” untuk hari esok. Kalaupun ada, paling hanya cadangan makanan atau cadangan air, misalnya pada tumbuhan dan hewan padang pasir seperti unta.

Ironisnya, kita justru lupa satu hal. Misalnya, seseorang yang sudah mempersiapkan masa depan sebaik mungkin, sekolah sudah tinggi. Deposito, asuransi dan tabungan sudah berjibun. Tapi sayang, Tuhan memanggilnya lebih cepat dari yang Ia kira. Apesnya lagi, dia belum sempat mempersiapkan diri untuk menemui-Nya dengan berbuat baik dan bermanfaat bagi manusia lain. Yah, dia terlalu sibuk mencintai dirinya sendiri.

Bukankah, sebagai makhluq beriman, kita menyakini bahwa kita akan kembali kepada-Nya?  Merpertanggungjawaban kesempatan hidup didunia yang singkat ini? Kebaikan atau keburukan apapun, walau sebesar biji dzarroh akan diperhitungkan dengan seadil-adilnya? Ya, kematian adalah keniscayaan, kepastian. Tak ada yang mengingkari itu. Dan kehidupan pasca kematian, itulah sebenarnya harus kita persiapkan sebaik mungkin.

Dengan apa? Dengan ilmu dan perbuatan (amalan). Semuanya harus dilandasi dengan ilmu. Makanya, nabi sudah mewanti-wanti, bahwa siapa yang berkehendak pada dunia, maka harus dengan ilmu. Siapa yang menghendaki akhirat, maka dengan ilmu.  Dan barang siapa yang menghendaki keduanya, juga dengan ilmu. Jadi monggo, anda menghendaki yang mana. Kalau enak-nya sih, menghendaki keduanya : dunia dan akhirat.

Tapi yang kita lakukan, hanya menabung untuk dunia kita, masa depan hidup kita di sini. Setiap hari kita mencari uang, kita belajar, kita sekolah, semuanya untuk hidup kita hanya “di sini”. Sehingga akhirat terabaikan, bahkan dianggap tidak penting. Na’udzubillah.

Acap kali, kita suruh adik-adik dan putra-putri kita untuk semangat belajar, sekolah, ikut les ini dan les itu. Ikut ekstra ini dan ekstra itu.  Tapi soal mencari ilmu agama. Ah, kita anggap itu sampingan. Itu tidak penting. Cukup ngaji di TPQ saja sudah.

Padahal, ngaji di TPQ itu hanya baru bisa membuat anak membaca huruf hijaiyah, jadi baru tahap dasar. Bayangkan, ilmu Alloh yang begitu luas, yang jika pohon-pohon dijadikan pena dan air laut dijadikan tinta, tidak akan cukup. Nah kok, anak cuman disuruh belajar TPQ. Sudah lulus SD mentok ngajinya?

Mari kita merenung sejenak. Samakan persepsi kita tentang apa makna sesungguhnya dari “Ilmu Agama”. Ketahuilah, bahwa ilmu agama adalah Ilmu yang mengatur tentang hubungan manusia dengan Tuhannya (transendental), mengatur hubungan manusia dengan manusia (sosial-horisontal), dan juga manusia dengan alam semesta. Ilmu agama akan menunjukan bagaimana hidup yang seharusnya, untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

Jadi, belajar agama itu bukan melulu tentang bagaimana cara beribadah, prosedur ritual keagamaan, apalagi hanya sebatas belajar hukum ini dan hukum nganu. Itu sempit sekali. Agama adalah ilmu tentang membentuk peradaban unggul, sebagaimana dicontohkan oleh Nabi dalam mebangun Madinah sebagai pusat peradaban.

Ajakan saya, mari belajar, mencari ilmu  sebanyak-banyaknya mumpung masih diberi kesempatan. Menabung untuk masa depan dunia juga penting, menabung untuk kehidupan kita yang panjang  lagi abadi juga sangat penting. Carilah ilmu untuk  dunia kita yang bahagia (fi dunya hasanah) dan akhirat kita yang bahagia (akhiroti hasanah).

Mari, ngaji tiap hari!
Penulis : Adi Esmawan, Pengasuh “Muhibul Qur’an”

Sumber gambar : idaluckynew.blogspot
Share:

MENGAPA AL QUR'AN DITURUNKAN BERBAHASA ARAB?

Mengapa bahasa Arab dipilih oleh Alloh sebagai bahasa al Qur’an? Pertanyaan ini sudah terjawab sendiri di dalam Al Qur'an Suroh Yusuf ayat dua. Inna anzalnahul Qur’anan ngarobiyya langalakum ta’qilun. "Sesungguhnya telah kami turunkan Al Qur'an dengan bahasa Arab, agar kalian berfikir". Dari ayat ini, umat manusia disuruh untuk berfikir, mendalami, memahami dan mengkaji kandungan Al Qur’an. Jadi, jangan mengeluh apalagi coba-coba protes. Kenapa ya Al Qur'an tidak berbahasa Jawa? Agama itu harus berhenti di sami’na wa atho’na. Kami mendengar dan kami taat.

Kemudian, soal keunggulan bahasa Arab yang katanya elegant, ringkas, dan beberapa keunggulan lainya yang dikemukakan para ahli, itu juga kehendak Alloh. Apalagi struktur tata bahasa (gramatika) dan pilihan kata dalam Al Qur’an yang memiliki kandungan sastra sangat tinggi. Itu rahasia Alloh, kita hanya bisa mengaggumi. Coba buat satu kalimat saja seperti Al Qur’an? Terlebih, Al Qur’an itu diturunkan kepada Nabi yang umiyy alias tidak bisa membaca dan menulis. Jadi, tidak mungkin nabi yang mengarang sendiri Al Qur’an.

Tapi kita perlu prihatin, mengingat Al Qur’an semakin ditinggalkan oleh umat Islam sendiri, utamanya generasi muda. Boro-boro Al Qur’an sebagai petunjuk jalan kehidupan, wong membacanya saja tidak bisa. Lebih parah lagi, keinginan atau semangat untuk mempelajari Al Qur’an kian luntur. Kajian dan komunitas yang mempelajari Al Qur’an semakin tidak diminati.

Masyarakat pada umumnya, belajar Al Qur’an hanya di waktu kecil, di TPQ dan TPA, itupun hanya belajar membaca huruf hijaiyah. Setelah lulus SD atau khatam Iqro’, selesai sudah. Bahkan ada yang tidak sampai bisa dan lancar membaca AL Qur’an sudah meninggalkan Al Qur’an.

Kita tentu bertanya-tanya. Ada apa? Bukankah Al Qur’an adalah satu-satunya penghubung antara kita sebagai hamba dengan Tuhannya? Bukankah Al Qur’an yang akan menunjukan kita pada kebaikan kehidupan dunia dan akhirat?  Bukankah Al Qur’an yang berfungsi sebagai obat hati dan penentram kegelisahan? Bukankah Al Qur’an, pangkal dari seluruh ilmu pengetahuan? Hujjah dari segala argumentasi?

Orang tua misalnya, lebih bersemangat untuk mendorong putra-putrinya mengikuti les ini dan les anu. Ekstrakurikuler ini dan ekstrakurikuler anu. Kemudian soal belajar agama? Ah, kamu sudah besar. Saatnya melatih life skill kehidupan. Ketrampilan hidup lebih utama di era persaingan hidup. Begitu kurang lebih arahan kita kepada yang lebih muda.
Padahal, di dunia ini ada dua yang harus kita cari. Harta dan Ilmu. Kedua-duanya sama-sama penting untuk hidup bahagia. Namun yang sering kita abaikan, harta dan ilmu lebih condong untuk kebahagiaan jasmani. Bukan ruhani. Padahal hukum pasti, bahwa jasmani akan rusak, mati atau punah. Harta akan berpisah dengan pemiliknya. Sedangkan ruhani akan menghadap Pencipta-Nya. Ilmu yang diamalkan dan bermanfaat akan menemani pemiliknya sebagai penolong.

 Jadi pertimbangkan kembali  alokasi harta dan ilmu untuk kehidupan kini (dunya) dan kehidupan nanti (akhirat). Agama menganjurkan kita berdo’a untuk diberi kebaikan dunia dan kebaikan di akhirat (fi dunya hasanah wa fil akhiroti hasanah).

Soal Al Qur’an, ini menjadi sangat penting.  Karena ia adalah peta jalan (road map) bagi kehidupan. Ia menuntun orang-orang yang beriman menuju kebahagiaan hidup, dunia maupun akhirat. Sudahlah, tinggalkan keragu-raguan di hati kita. Dzalikal kitabu la roiba fihi, hudal lil mutaqin. Kalau kita masih meragukan Al Qur’an, berarti di hati kita ada penyakit. Segera obati dengan belajar!

Mari kita kembali kepada Al Qur’an sebagai pedoman hidup, cara hidup, dan pembeda antara mana yang baik dan mana yang tidak baik.

Sampai disini dulu. Lusa kita sambung kembali. Oh ya, bagi yang tinggal di daerah Banjarnegara, khususnya di Kecamatan Wanayasa dan sekitarnya, silahkan bergabung dengan komunitas Muhibul Qur’an, dengan datang ke Mushola Al Falah Dukuh Sigong Desa Tempuran Kecamatan Wanayasa, setiap ba’da magrib sampai dengan ba’da Isya. Ada kajian belajar bersama tentang materi keagamaan. Ingat, sebaik-baik komunitas adalah perkumpulan belajar.


Penulis : Adi Esmawan, owner jurnalva.com
Share:

Menerawang Masa Depan Orang “TI”

Jika kita membandingkan perlombaan kemutakhiran teknologi, maka yang paling cepat melejit adalah Teknologi Informasi. Ia muncul sebagai pemenang di era ini. Saat dunia disatukan oleh piranti komunikasi, kemudian menyulap informasi menjadi pelebur jarak antar benua sehingga yang jauh menjadi sangat dekat.

Bahkan, persaingan kehidupan saat ini bukan lagi antara yang kaya dengan yang miskin, yang desa dengan yang kota. Yang serius dengan yang “dagelan”. Persaingan sesungguhnya adalah antara siapa  paling cepat meraih informasi, dan mengolahnya sebagai dasar pengambilan keputusan.

Penggunaan Teknologi Informasi, utamanya ponsel pintar (smartphone) dan komputerisasi di segala aspek kehidupan, membuat disiplin ilmu Teknologi Informasi laris manis diserbu oleh peserta didik kita. Jurusan Teknologi Informasi (TI) dan Sistem Informasi (SI) menjadi buah mangga yang ranum sekaligus menggiurkan bagi calon mahasiswa yang sedang bingung menentukan jurusan.

Ironisnya, banyak yang tidak mempertimbangkan bahwa baik jurusan TI maupun SI adalah bidang ilmu pengetahuan yang menjadikan logika matematis sebagai spirit olah berfikir. Al hasil, banyak mereka yang dari awal sudah alergi terhadap angka-angka atau membenci matematika menjadi produk gagal dan mutung di tengah jalan.

Meskipun dua jurusan ini, (yakni TI dan SI), bermuara pada dua hal yang berbeda. Jika TI mencetak seorang programer dan teknisi IT handal, maka SI akan melahirkan seorang analisis sistem, web developer, dan pakar yang  mensinergikan antara perkembangan TI dengan kebutuhan informasi yang berkembang di masyarakat.
Karena itu, Pakar “IT” yang dibutuhkan, baik oleh dunia industri maupun masyarakat, adalah mereka yang memiliki skill mumpuni dengan kecepatan meng-inovasi atau mengembangkan program yang sudah ada menjadi lebih uptudate dan mengimbangi perkembangan zaman. Dunia IT adalah dunia yang cepat “basi” jika hanya berpuas diri dan tidak mengembangkan apa yang sudah ada alias statis. Kemampuan menganalisis dan memecahkan masalah jika sewaktu-waktu ada troubleshooting juga menjadi keharusan bagi mereka yang telah menceburkan diri ke dunia IT.   

Lalu, bagaimana dengan sarjana-sarjana lulusan IT atau SI yang hanya berbekal Ijazah? Sekedar tahu secara teoritis tapi gagap jika berurusan dengan permasalahan IT dalam dunia kerja dan industri? Banyak kasus, sarjana komputer yang jika di test untuk membuat program atau mengotak-atik web, tidak tahu apa-apa.

Inilah yang perlu digaris bawahi. Ilmu pengetahuan apapun, apalagi IT, jangan hanya diperlajari sebatas di bangku kuliah. Itu sangat sempit dan sangat teoritis. Cobalah menambah cakrawala wawasan dengan belajar dari berbagai sumber, komunitas, buku dan apapun diluar bangku kuliah. Kemudian langsung praktik. Jangan muter-muter di teori meskipun teori juga penting. Jika anda hanya berbekal ijazah dan sekelumit ilmu yang anda dapat dari bangku kuliah, maka hanya “bejo” sebagai satu-satunya harapan.

Memang, masa depan dan rezeki, apalagi perkara “finansial” itu urusan Tuhan. Namun, membekali diri dengan ketrampilan di bidang yang paling banyak dibutuhkan, akan membuat kita menjadi manusia yang memiliki nilai tambah. Bukan hanya sekedar “manusia”.
Salam inspirasi.


Author : Adi Esmawan, owner jurnalva.com
Share:

Bayang-Bayang Ijazah Instan

Kita kembali tersentak dengan terkuaknya jual beli Ijazah berikut gelar akademik. Tidak tanggung, yang terlibat dalam skandal memalukan ini adalah kalangan pejabat tinggi, anggota parlemen, hingga civitas akademika yang seharusnya ikut menjaga kesucian dunia pendidikan.

Mungkin, terkuaknya kasus ini di mata publik hanya fenomena puncak gunung es. Dimana pada alam nyata, jual beli ijazah dan gelar adalah hal biasa. Ini bukan hanya kepalsuan legalitas, melainkan bentuk penghinaan terhadap ilmu pengetahuan.

Dalam ranah pendidikan, gelar dan ijazah hanya dapat diperoleh jika sudah menjalani serangkaian proses yang panjang. Ia adalah simbol pengakuan kualitas keilmuan dengan tahapan-tahapan prasyarat  yang mengharuskan perjuangan dan olah kemampuan. Transkip nilai bukan hanya angka-angka semu melainkan predikat kemampuan yang sudah teruji dan terbukti.

Nah, jika gelar dan ijazah dapat dibeli dengan uang tanpa melewati serangkaian proses sebagaimana rule akademik, maka alangkah hina dunia pendidikan di negeri ini. Dimana orang-orang yang hanya “berduit”, tanpa kemampuan dan perjuangan, dapat menyandang gelar akademik.

Atau mungkin karena dunia pendidikan di negeri ini sudah kadung korup dan telah lama menyalin diri sebagai institusi korporasi. Logika yang dipakai adalah menempatkan ilmu sebagai komoditas, sedang ijazah maupun gelar adalah entitas utama. Masyarakat dan peserta didik hanyalah konsumen dengan relasi simbiosis mutualisme alias sama-sama untung.  Uang memegang daulat tertinggi.

Dalam dunia pendidikan di pesantren tradisional, ijazah hanya dapat diberikan setelah santri melewati tingkat demi tingkat atau tahapan yang tidak mudah. Serangkaian prosesi dan uji kemampuan benar-benar dilakukan dengan jujur dan menjunjung tinggi etika akademik. Maka Ijazah atau syahadah yang diperoleh merupakan bukti shahih pengakuan keilmuan.

Dalam kitab klasik yang populer di kalangan pesantren “Ta’lim Muta’alim Tharekat Ta’alum”, memposisikan ilmu pengetahuan  dengan pangkat tertinggi. Ia harus diperlakukan di atas segalanya. Ilmu sebagai hal yang tidak ternilai dan tidak akan tergadai oleh berapapun nilai uang. Maka jangan heran jika kitab ini memerintahkan pencari ilmu untuk tidak menaruh buku di tempat sembarangan, menghormati dan memuliakan guru sebagai sumber ilmu, dan  disarankan untuk dalam keadaan suci (tidak berhadast), ketika mengikuti majelis ilmu.

Dunia pendidikan umum  perlu belajar dari pesantren.
Salam inspirasi.

Author : Adi Esmawan, owner www.jurnalva.com


Share:

Kuliah itu Tidak Penting!

Eits, jangan protes dulu dengan judul di atas. Ada pandangan menyentak dari seorang inspirator sukses Almarhum Bob Sadino. Dalam acara interview di stasiun televisi swasta, beliau justru agak "ngece" dengan anak kuliahan dan menyatakan kuliah tidak begitu penting. Bob Sadino sendiri droup out alias (murung) dan hanya tiga bulan kuliah.
Di panggung dunia, ada Bil Gates, orang paling kaya nomor wahid di jagad ini juga mengatakan kuliah justru membatasi ruang belajar kita pada disiplin ilmu tertentu. Tak ayal, bos Microsoft itu memilih hengkang alias murung kuliah dari Universitas Havard dan memilih bertapa menekuni apa yang menjadi bakat dan karyanya. Alhasil, microsoft tercipta sebagai masterpic seorang Bil Gates.

Dan lebih tercengang lagi ketika mendiang Steve Job, bos Aple dan owner facebook Mark Zuckerberg, juga tidak lulus kuliah alias memilih mogok berhenti di tengah jalan. Kalau yang terkini, ada nama Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti yang hanya berijazah SMP namun memiliki perusahaan perikanan dengan kapal dan pesawat bahkan merambah bisnis penerbangan dengan brand "Susi Air".

Pertanyaan saya selanjutnya, apakah kuliah begitu penting? Atau urusan nafsi-nafsi (masing-masing individu), dan tergantung urgensi dan situasi?

Masih di panggung sejarah, ada nama Jenderal Besar Soeharto, legenda Penguasa terlama yang memimpin negeri ini selama lebih dari tiga dasa warsa. Beliau lulusan apa? Ah, tentu bukan insinyur atau sarjana apalagi doktor. Dan pada tingkat tertinggi, adalah manusia paling mulia sepanjang sejarah menurut perspektif kami sebagai muslim, yakni Nabi Muhammad SAW. Beliau adalah nabi yang tidak mengenal huruf dan angka. Namun muara segala ilmu. Adapula Maha Guru IAIN Sunan Kalijaga, KH Ali Maksum yang menyusun Kamus Al Munawir, beliau bukan akademisi tapi kualitas keilmuanya bahkan di atas level guru besar.

Jadi saya tetap menyimpulkan bahwa kuliah itu tidak penting. Atau paling tidak, kuliah bukanlah perkara fardhu ain atau syarat wajib bagi setiap individu untuk  menggapai kesuksesan. Apalagi, jika tujuan hidup kita bukan semata materi atau kesuksesan finansial. Selalu dingat, bahwa waktu membatasi segalanya, termasuk keberhasilan. Semua hal akan berganti dan tergantikan. Anda boleh saja menyusun strategi dalam jangka panjang atau perencanaan manajemen untuk berapa puluh tahun ke depan. Namun harus diingat, bahwa waktu anda untuk singgah menatap matahari begitu terbatas!

Ya, kuliah itu tidak penting! Apalagi di tengah sistem pendidikan negeri ini yang masih kacau balau, tidak menghargai proses dan tedensi yang penting ijazah. Parahnya lagi, komersialisasi pendidikan nyata di depan mata. Akses pendidikan berkualitas hanya bagi mereka yang berlimpah harta. Dan puncak kesesatan dari arah pendidikan di negeri ini adalah hanya orientasi pada aspek duniawi dan memposisikan "mahasiswa" sebagai tenaga siap pakai bagi mesin industri dan hamba korporasi.


Ya, kuliah itu tidak penting! Yang terpenting adalah ilmu pengetahuan. Memang, domain dari ilmu pengetahuan berada pada institusi pendidikan tinggi, namun perlu digarisbawahi, bahwa ruang mayantara telah menjadi universitas bayangngan dan menjadi maha guru bagi sebagian pakar di seluruh penjuru dunia.

Kuliah itu tidak penting! Setidaknya bagi sebagian orang yang lebih menganggap formalitas bukan segalanya dan lebih mengutamakan kualitas.

Tulisan ini bukan mengajak anda yang kuliah untuk mogok, apalagi memprovokasi agar anda tidak semangat kuliah. Bukan itu. Yang hendak saya sampaikan, bahwa kuliah itu bukan perkara wajib yang nanti akan diminta pertanggungjawabannya kelak. Perkara wajib adalah mencari ilmu dimanapun dan kapanpun agar kita tidak tersesat hidup di kehidupan ini.

Bagi anda yang sedang berposisi sebagai "mahasiswa", apalagi kuliah di Universitas ternama, tidak perlu terlalu berbangga diri dan meremehkan sahabat-sahabat lain yang tidak sempat mengenyam bangku sekolah. Karena menjadi "mahasiswa" dan duduk di bangku kuliah, bukanlah sesuatu yang "istimewa".

Dan bagi anda yang tidak bisa duduk di bangku kuliah, tidak perlu berkecil hati. Anda harus bersemangat. Siapa tau, anda adalah Bil Gates, Steve Jobs, atau Bob Sadino berikutnya yang akan membuat sejarah tercengang dan terkagum-kagum.

Salam Inspirasi


Adi Esmawan, owner jurnalva.com
Share:

Definition List

Unordered List

Support