Jurnal Wawasan dan Inspirasi Kehidupan

Bank Sampah, Manajemen Efektif Pengelolaan Sampah

Jangan pernah menganggap enteng masalah sampah. Ya, sampah kadang menjadi musuh paling serius dalam...

Budaya Sambat, Gotong Royong yang Mulai Luntur

Tanpa kita sadari namun sangat kita rasakan, banyak kebaikan dan kearifan yang hilang seiring berjalannya zaman. Dulu, jika..

Programer : Seniman Tingkat Tinggi?

Judul di atas mungkin terlalu “narsis” atau terkesan menempatkan programer pada derajat yang amat terpuji. Tapi agaknya itu yang

Membaca Soekarno, Soeharto dan Indonesia Kita

Kalau hanya untuk menghafalkan materi, tebak-tebakan soal, dan mempelajari keahlian tertentu, tidak usah pakai guru. Pakai komputer saja lebih hebat. Kalau sekolah hanya

Sebentar Lagi, Guru Akan Tersingkir?

Kalau hanya untuk menghafalkan materi, tebak-tebakan soal, dan mempelajari keahlian tertentu, tidak usah pakai guru. Pakai komputer saja lebih hebat. Kalau sekolah hanya menjalankan fungsi “pengajaran”, pakai komputer saja. Tidak usah dan tidak perlu bimbingan guru.

Tampilkan postingan dengan label Agama dan Kemanusiaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Agama dan Kemanusiaan. Tampilkan semua postingan

Memahami Agama sebagai Rambu-Rambu Kehidupan

Kalau kita dari Jakarta ingin pergi ke Surabaya, tidak tau rute jalan, tentu saja kita membutuhkan tanda. Entah itu petunjuk arah, google map, peta jalan, rambu-rambu, atau hal sejenisnya.

Begitu pula dengan hidup ini. Sebagai manusia yang percaya akan eksistensi Tuhan, kita tentu meyakini bahwa Tuhan telah memberikan petunjuk arah untuk hidup di persinggahan ini. Agar sampai tujuan dengan selamat, dengan akhir yang baik (khusnul khotimah). Bukan malah tersesat, terperosok atau gagal menempuh perjalanan.

Al Qur’an diturunkan sebagai petunjuk, bagi orang yang mau diberi petunjuk. Ia adalah penerang jalan yang terang benderang (burhan, nurom mubina). Seperti cahaya yang menerangi, tentu tanpa pilih kasih, menerangi semuanya. Menunjukan kepada semuanya.

Persoalan pertama, kadang manusia justru mengingkari tanda itu. Tidak mau menerima petunjuk. Atau meragukan petunjuk. Lebih parah, apabila ia menutup akses dari cahaya untuk masuk, sehingga hatinya gelap dan jalannya tersesat. Itulah kita. Karena bagaimana mungkin kita melihat terang mentari, ketika semua pintu, jendela dan lubang kita tutu rapat?

Persoalan kedua, adalah tentang tanda dari Tuhan itu sendiri. Tentu saja, tanda terbesar, terlengkap, dan merupakan petunjuk langsung tersurat dari Tuhan adalah Al Qur’an. Dan ternyata, Al Qur’an itu menunjukan kita pada tanda-tanda yang lain. Tanda-tanda yang sangat banyak. Bahkan jika lautan menjadi tinta untuk menulis tanda-tanda yang diberikan oleh Tuhan, akan habislah Ia. Bahkan jika ditambah lagi sebanyak dan semisal. Jadi salah besar jika kita berhenti pada Al Qur’an. Karena, Al Qur’an juga menunjuk kepada tanda-tanda yang lain. Atau menyuruh kita untuk melakukan sesuatu agar mendapatkan petunjuk.

Mungkin saya perjelas lagi agar tidak gagal faham, bahwa ayat itu tanda. Dan tanda-tanda kebesaran-Nya sangat banyak, bersliweran di sekitar kita. Maka perhatikanlah tanda-tanda itu dengan fikiran yang jernih, pengetahuan yang cukup. Jika kita temukan kebesaran Tuhan di sana, bertambahkan keimanan kita.  Dan kita mungkin termasuk orang yang mufilh alias beruntung.

Persoalan adalah, justru kebanyakan dari kita berhenti pada tanda (ayat). Ibaratkan saja, ketika kita sedang menuju Surabaya, kita melihat ada rambu-rambu yang menunjukan ke arah Surabaya itu. Tidak lucunya, kita malah berhenti disitu!

Al Qur’an itu bagian dari tanda-tanda yang menunjukan kita kepada jalan yang hanif. Kita ikuti jalan itu, bukan malah berhenti pada Al Qur’an. Mengotak-atik isinya, menafsirkanya secara serampangan dan tanpa ilmu, mempersempit makna, atau hanya berhenti pada teks tanpa memahami kontekstualnya. Ini berbahaya.

Karena kalau kita tahu, Al Qur’an itu komprehensif. Ma qaratna fiy kitabihi min syai’. Tapi jika kita terlalu tekstual, maka kita akan kebingungan. Maka sebelum mempelajari dan memahami al Qur’an, ilmu pengetahuan harus menjadi panglima utama.

Bahkan ilmu alam atau ilmu pengetahuan pada umumnya (science) adalah wajib dipelajari karena apa yang ada di langit dan dibumi merupakan bagian dari tanda (ayat) eksistensi Tuhan bagi orang-orang yang di beri ilmu. Dan di al Qur’an sudah disampaikan : Inna fi kholqisamawati wal ardhi wahtilafil laili wannahari laayatil li ulil albab.

Nah, jadi penting sekali membaca tanda-ramb-rambu secara utuh. Dimulai dari Al Qur’an, sunnah nabi, kemudian jangan melupakan ketetapan Alloh (sunnatulloh).

Mungkin lain waktu akan saya jelaskan lebih detail.

Salam hormat.
Share:

Esai : Inspirasi dari Matahari di Waktu Pagi


Suatu sore, seperti kebiasaan saya. Ngopi  sambil buka juz amma. Saya buka sembarang, ketiban di surat As Syams  atau  Wa Syamsi Wa Dhuhaha. Pembaca semua mungkin sudah hafal betul. Ku baca pelan-pelan. Alon-alon waton kelakon-adagium Jawa. Ketika sampai pada ayat : Qod Aflaha man zakaha. Wa qod hobba man dassaha. Sebuah sindiran menyeruak masuk di dada ini.

Sebelum lanjut, mungkin saya beri tahu pada pembaca ayat dan terjemahnya :



Pada ayat di atas, kita akan tahu, betapa Al Qur’an telah mengarahkan, kemana hidup ini harus diarahkan. Dan bagaimana menjaga jiwa agar tetap di jalan taqwa kepada-Nya.
Baik, mari kita mulai renungan berat ini. Di awal suroh As Syams (yang berarti Matahari), Alloh  telah bersumpah dengan tujuh ciptaan-Nya :

1    1. Wa syamsi wa duhaha (Demi (perhatikanlah) Matahari dan cahayanya di kala pagi)

2    2. Wal qomari idza talaha (Dan bulan, ketika mengiringinnya)

3    3. Wan nahari idza jalaha (Dan siang apabila menampakkannya)

4    4. Wal laily idza yaghsyaha (Dan malam ketika ia menutupnya)

5    5.Wa sama’i wama banaha (Dan langit serta pembinaanya)

6    6. Wal ardhi wama tohaha (Dan bumi serta perhamparannya)

Kemudian yang ketujuh, Alloh bersumpah dengan menyebut jiwa :
7    7. Wannafsiw wama sawaha (Dan (Perhatikanlah) jiwa serta penyempurnaan ciptaanya)

Setelah bersumpah dengan menyebut jiwa, ayat selanjutnya memberitahukan kepada kita :
8   8.Fa alhamaha fujuroha wa taqwaha (Maka Alloh telah mengilhamkan kepada jiwa itu, untuk (memilih) jalan Kefasikannya atau Ketaqwaanya.

Kemudian, di ayat selanjutnya, sungguh Alloh Azza wa Jalla telah memberikan petunjuk dengan terang benderang yang terkait dengan ayat sebelumnya :

9    9. Qod aflaha man zakaha (Maka sungguh beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu....)

1   10. Wa qod hoba man dassaha (Dan sungguh merugilah orang yang mengotori jiwannya...)

Maha benar Allo dengan segala firman-Nya. Ini adalah petunjuk sekaligus instruksi bagi kita. Jiwa kita. Betapa, jiwa manusia telah diberi dua pilihan sekaligus dua jalan oleh Alloh Robbul Alamin. Pertama adalah jalan kefasikan, jalan yang mengingkari ‘adanya’ eksistensi Tuhan, meniadakanNya dalam kehidupan, atau pura-pura mengaggapnya ‘ada’ secara simbolis. Tapi secara nyata mengingkari apa yang dikehendaki oleh-Nya. Itulah jalan fasik. Jalan yang mungkin dipilih oleh kebanyakan jiwa-jiwa yang mengisi raga kebanyakan manusia di jagad ini. Bahkan mungkin, jiwa kita terkadang “nyasar” atau sengaja mengambil jalan itu. Dan perjalanan hidup jiwa ini selalu berpotensi melenceng pada jalan kefasikan. Maka dari itulah kita selalu butuh bimbingan-Nya sepanjang perjalanan hidup ini.

Kedua adalah jalan ketaqwaan. Sebuah jalan hidup yang  tunduk pada-Nya. Mengakui eksistensi dan kekuasaan-Nya secara mutlak. Jalan yang membuat jiwa akan selalu mengabdi pada-Nya dengan ikhlas. Jalan orang yang dicintai, dirahmati dan diridhoi oleh-Nya.

Nah, kemudian jelas tegas. Bahwa alangkah beruntungnya orang-orang yang “membersihkan jiwanya”. Qod aflaha man zakaha. Jiwa yang selalu terjaga dari noda-noda kotor kehidupan dunia yang fana. Jiwa yang selalu menjaga integritasnya dihadapan sang Pencipta sekaligus Pengawas hidupnya. Jiwa yang selalu mendahulukan nurani dan akal jernihnya, dibanding hasrat dan nafsunya. Jiwa yang terjaga.. Jiwa yang akan kembali menghadap Robb-nya dengan tenang dan damai.

Dan, mari kita tengok jiwa kita masing-masing. Jiwaku, jiwa yang lemah dan lalai. Jiwa yang diperbudak oleh hasrat dan nafsu. Jiwa yang selalu dikotori oleh noda-noda keinginan ragawi. Jiwa yang tidak pernah puas atas anugerah dari-Nya. Jiwa yang mendahulukan nafsunya dibanding akal jernihnya. Jiwa yang jauh dari bijaksana. Jiwa yang menyesatkan ragannya. Jiwa yang menuntun mulutnya untuk selalu berkata dusta. Jiwa yang menuntun tangannya untuk melakukan tindak nista dan durja. Jiwa yang menuntun hatinya untuk angkuh, sombong dan merendahkan yang lain. Jiwa yang selalu mendorong untuk berlaku keji dan munkar. Jiwa yang selalu berambisi, berkhayal, untuk hidup “se-enak-enaknya”. Jiwa yang bermental berkhianat kepada-Nya. Jiwa yang jauh dari bimbingan dan petunjuk-Nya. Ampuni jiwaku ini...


Tidak ada cara lain. Selain berusaha membersihkan jiwa ini dari segala noda-noda yang lekat menempel sebegitu banyaknya. Jiwa yang sudah mengidap berbagai penyakit kronis : iri, dengki, sombong, dendam, pemarah, rakus, dan ingkar pada-Nya.

Mari, kita kunjungi jiwa kita. Mungkin jiwa kita terlalu berantakan, kotor. Perlu ditata ulang dan dibersihkan kembali. Dengan apa? Tentu saja dengan mengingat-Nya, berdzikir. Buka kembali Al Qur’an, baca dengan pelan, pahami makna dan anjurannya. Hiduplah berlandaskan kalam-Nya. Agar kita selalu ada di atas jalan-Nya. Jalan yang diridhoi oleh-Nya. Bukan jalan orang-orang yang dimurkai, dan bukan pula jalan orang-orang yang tersesat. Ammin ya mujiba sa’ ilin.

Begitulan coretan singkat ini. Mudah-mudahan bermanfaat bagi pembaca. Dalam hal belajar hidup dari Al Qur’an, kita mulai dari yang ayatnya pendek-pendek dulu. Baca dengan perlahan, kemudian resapi. Kalau dinding-dinding hati kita masih bergetar oleh ayat-ayat Al Qur’an, itu tandanya hati kita masih bisa diobati. Belum di tutup dari menerima hidayah-Nya.


Penulis : Al faqir, Adi Esmawan, seorang buruh. Pengasuh media jurnalva.com, sekaligus pengasuh sanggar Muhibul Qur’an Study Club, Tempuran, Wanayasa, Banjarnegara. Mahasiswa STIMIK Tunas Bangsa, Banjarnegara.




Share:

Bagaimana Hukum “Patung dan Gambar” Menurut Islam?


Masalah “patung dan gambar” menurut fiqh Islam kekinian masih saja memicu kontroversi, perdebatan bahkan pertentangan.
 Hal  ini wajar. Karena Indonesia adalah mayoritas berpenduduk muslim terbesar di dunia namun dibeberapa kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Medan dan lainnya, berbagai patung tinggi menjulang kita jumpai di sana sini. Lalu sebenarnya, apa hukum patung dan gambar dari sudut pandang hukum Islam?
Juga masih segar dalam ingatan ketika beberapa waktu lalu publik dihebohkan dengan aksi sweeping Front Pembela Islam (FPI) yang mencegah Bupati Purwakarta Dedi Mulyana memasuki kota Jakarta. Alasanya menurut FPI, Bupati Dedi dianggap menyebarkan kemusyrikan dengan membuat banyak patung di berbagai pusat kota Purwakarta. Entah patung-patung tersebut bertujuan untuk mempercantik kota dengan nuansa seni atau tujuan lainya.
Nah, berikut penjelasan yang disampaikan oleh Ustadz Ahmad Sutarwan Nawawi (Guru Penulis di Pondok Pesantren Al Fatah Banjarnegara, Jawa Tengah) tentang hukum patung dan gambar menurut hukum Islam.
Dalam terjemahan bahasa Arab, gambar atau foto disebut dengan kata “tashwir”. Dalam hukum Islam tashwir mempunyai beberapa hukum. Hukumnya tidak satu hukum tetapi ada beberapa tinjauan.
Karena tashwir mempunyai jenis yang berbeda-beda, karena itu hukumnya pun berbeda.
Tashwir jenis yang pertama ialah timtsal yaitu membuat patung. Entah itu terbuat dari batu atau kayu atau juga dengan sejenis materi yang keras yang bisa dibentuk dengan berbagai macam bentuk.
Dalam hal ini ulama bersepakat atas keharamannya, yaitu mengharamkan semua gambar yang bertubuh seperti patung hewan dan manusia. Karena yang demikian ini lah yang mendapat ancaman besar dari Allah SWT dan RasulNya SAW melalui hadits-haditnya.
Dan dalam kaidah ushul fiqh dikatakan, adanya ancaman atas sesuatu tententu dalam nash-nash syari’i merupakan penjelasana atas keharaman hal tersebut. Rasul SAW bersabda:

إن أشد الناس عذابًا يوم القيامة المُصَوِّرون

“sesugguhnya manusia yang paling keras siksaannya nanti di hari kiamat ialah al-mushowwirun (orang-orang yang membuat patung)”
الذين يضاهئون بخلق الله

Dalam riwayat lain disebutkan “mereka yang menyerupai/menandingi ciptaan Allah (membuat patung makhluk menendingi ciptaan Allah).” (HR Bukhori dan Muslim)

Dalam hadits qudsi, Allah SWT berfirman :

ومن أظلم ممن ذهب يخلق خلقا كخلقي..........

“siapakah yang lebih zolim daripada mereka yang menciptakan makhluk seperti makhlukku…….….” (HR Bukhori dan Muslim)

Dan patung juga merupakan penyebab dimana malaikat dak akan masuk kerumah yang ada patungnnya. Dan adanya mailakat di rumah setiap muslim ialah bentuk rahmat yang diturunkan oleh Allah SWT kepada orang tersebut.

Berarti jika malaikat itu tidak mau masuk, itu sama saja Allah Mengharamkan rahmat-Nya untuk orang tersebut. Rasul SAW bersabda:
“sesungguhnya malaikat tidak akan memasuki rumah yang didalamnya ada patung ……..” (HR Bukhori dan Muslim)”

Sebagian ulama mengatakan bahwa salah satu sebab kenapa malakait tidak mau memasuki rumah yang didalamnya ada patungnya ialah, karena si pemilik patung itu telah bertasyabbuh/menyerupai orang kafir; karena mereka membuat patung yang kemudian patung itu mereka agung-agungkan.

Pengecualian Mainan Anak-anak
Namun dalam hal ini dikecualikan patung semacam apa yang sering dimainkan oleh anak-anak. Tidak mengapa, karena apa yang dimainkan oleh anak-anak tersebut yang berupa patung-patung, itu tidak diciptakan untuk menandingi ciptaan Allah atau bahkan mengagung-agungkannya.


Disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan Imam Abu Daud dengan sanad yang shohih, bahwa dimasa awal pernikahan Nabi SAW dengan ‘Aisyah yang ketika itu masih kecil, aisyah sedang bermain bersama dengan anak perempuan lainnya.

Dan diantara mainan anak-anak tersebut terdapat sebuah patung kuda kecil bersayap yang membuat Rasul SAW bertanya kepada ‘Aisyah : “apa itu wahai ‘Aisyah?”. Kemudian ‘Aisyah menjawab “ini kuda wahai baginda Nabi”.

Kemudian Nabi bertanya lagi: “apakah kuda mempunyai 2 sayap?”. ‘Aisyah membalas: “apakah kau belum mendengar bahwa Sulaiman mempunyai kuda yang punya 2 sayap?”. Mendengar jawaban itu Rasul SAW tertawa hingga gigi grahamnya terlihat.

Jenis Tashwir Kedua :
jenis tashwir yang kedua ialah lukisan tangan, yaitu berupa kesenian yang dilukis baik itu diatas kertas atau tembok atau baju, kaos dan sejenisnya.
Dalam hal ini ulama berbeda pendapat tentang keharaman dan kebolehan hal tersebut. Dr. Yusuf Al-Qorodhowi dalam kitabnya Al-halal wal-Harom [
الحلال والحرام] membahas tantang masalah lukisan ini. Beliau menjawab :

Hukum lukisan itu tidak bisa ditetapkan kecuali setelah dilihat dan ditinjau, untuk apa lukisan itu dibuat? Dimana lukisan itu dibuat? Dan apa tujuan si pelukis melukis itu?

Jika lukisan itu diniatkan oleh pelaku untuk sesembahan dan pengagungan selain kepada Allah SWT seperti melukis hewan Sapi, yang hewan itu ialah sesembahan orang-orang Hindus. Maka pelukisnya telah kufur karena kelakuannya telah menyalahi tauhid dan lukisannya itu jelas haram.

Ini didasarkan oleh hadits Nabi SAW yang telah lewat diatas tadi : "sesugguhnya manusia yang paling keras siksaannya nanti di hari kiamat ialah al-mushowwirun” (HR Bukhori dan Muslim)

Imam Thobroni mengatakan : "yang dimaksud dengan kata mushowwir dalam hadits tersebut ialah orang yang menggambar/melukis lalu kemudian lukisannya itu dijadikan sembahan"

Dan ia dengan sengaja melukis untuk tujuan itu. Maka karena perbuatannya itu ia menjadi kafir. Dan kalau ia melukis bukan untuk tujuan itu maka ia tidak menjadi kafir namun ia berdosa.

Yang juga haram ialah lukisan yang bertujuan tidak untuk sesembahan namun untuk menandingi ciptaan Allah SWT atau menyerupainnya. Ini sesuai dengan hadits Nabi SAW diatas:


أشد الناس عذابا يوم القيامة الذين يضاهئون بخلق الله
“sesungguhnya orang yang paling keras siksaannya dihari kiamat ialah mereka yang menyerupai/menandingi ciptaan Allah (membuat patung makhluk menandingi ciptaan Allah).” (HR Muslim)

Ini tergantung atas niat si pelakunya. Kemudian yang juga diharamkan ialah lukisan/gambar orang-orang yang disucikan dalam ritual kegamaan seperti gambar-gambar malaikat, para Nabi dan juga para Wali atau orang-orang sholeh. Karena perbuatan yang demikian itu termasuk tasyabbuh dengan orang-orang kafir.

Adapun gambar atau lukisan lain yang tidak dilukis untuk tujuan yang telah dijelaskan diatas. Kalau itu gambar yang tidak bernyawa seperti gambar pegunungan, kebun, mobil, motor dan semisalnya maka itu tidak mengapa, boleh-boleh saja.

Adapun jika itu gambar yang bernyawa, namun itu bukan karena tujuan yang telah dijelaskan diatas itu tidak mengapa. (lihat al-halal wal-harom hal 96)

Namun ada juga ulama lain yang mengatakan bahwa lukisan tangan yang boleh hanyalah lukisan yang tidak mengandung nyawa. Adapnun jika lukisan itu bernyawa maka itu hukumnya sama dengan patung yang jelas mendapat ancaman keras dari Allah dan Rasul-Nya.

Dan gambar bernyawa itu dibolehkan jika kepala tidak tergambar sempurna. Seperti lukisan orang yang sedang membaca kitab dan mukanya tertutup sebagian oleh kitab itu.

Atau juga tertutup dengan bunga yang sedang dipegangnya. Karena muka adalah gambaran nyawa dan jika muka itu tidak tergambar sempurna maka itu bukan disebut makhluk bernyawa. Ini sebagaimana yang dijelaskan dalam beberapa hadits nabi SAW.

Diantaranya ialah apa yang diriwayatkan oleh Imam An-nasa’i yang menyebutkan bahwa jibril pernah meminta izin kepada Nabi SAW untuk memasuki rumahnya dan rasul mengizinkannya. Namun ia menolak untuk masuk dan berkata:
كَيْفَ أَدْخُلُ وَفِي بَيْتِكَ سِتْرٌ فِيهِ تَصَاوِيرُ فَإِمَّا أَنْ تُقْطَعَ رُءُوسُهَا......

“bagaimana aku masuk kerumahmu sedangkan didalamnya ada satr (sitar/kain penghalang) yang ada gambarnya. Kalau memang harus begitu, potonglah kepalanya……” (HR An-Nasa’i)

Jenis Tashwir Ketiga:
Yaitu tashwir dengan menggunakan kamera atau video. Jumhur (kebanyakan) ulama melihat ini adalah perbuatan yang boleh-boleh saja. Tidak ada keharaman didalmnya.
Karena pada hakikatnya memotret bukanlah aktifitas tashwir yang diharamkan yaitu penciptaan atau menyerupai ciptaan Allah SWT. Sebagaimana yang disinggung dalam hadits-hadits diatas tadi yaitu dengan kata yakhluqu ka kholqi (menciptakan seperti ciptaan ku) atau juga yudhohi’una kholqollahi (mereka yang menyerupai ciptaan Allah). Nah inilah sebab pengharamnanya.

Memoto atau memotret walaupun disebut dengan aktifitas membuat gambar, namun itu tidak diharamkan karena tidak ada illat(sebab hukum) pengharamannya seperti pembuatan patung.
Dalam kaidah ushul fiqh disebutkan :

الحكم يدور مع العلة وجودا وعدما

“hukum itu berlaku sesuai dengan ada tidaknya illat hukum tersebut.”

Foto pada hakikatnya ialah menahan bayangan suatu benda dan bukan menciptakan. Sehingga tidak bisa dikatakan sebagai proses penciptaan gambar kecuali dalam makna kiasan.

Dalam proses penetapan suatu hukum, yang menjadin pedoman ialah hakikat itu sendiri bukan nama yang digunakan. Dan juga kebolehan kegiatan ini bukan tanpa syarat. Pengambilan foto ini dibolehkan jika objek-objek yang diambil adalah objek yang halal juga, seperti hewan, bangunan, pemandangan alam dan sebagainya.

Seperti kebutuhan setiap orang akan urusan admidnistrasi yang memang diharuskan untuknya menjadi objek potret. Semisal untuk kartu identitas, passport dan sebagainya.

Dan menjadi haram juga jika objek yang dipotret adalah objek yang haram juga, seperti wanita telanjang atau gambar-gambar yang mengundang syahwat. Tapi apa gunanya seorang muslim memotret objek-objek haram semacam itu? Atau menyimpannya malah di lemari dan di pajang ditembok kamar. Dan itu jelas keharamannya.

Walaupun demikian, memang dalam masalah ini tidak luput dari perbedaan pendapat dari para ulama. Namun penulis melihat bahwa kebanyakan ulama memboleh kan ini. Diantara ulama yang membolehknnya ialah Dr. Yusuf Al-Qordhowi, Sheikh Sholeh Utsaimin, Skeih Arifi, Dr. Muhammad Al-‘Umrowi juga Dr. Ali Jum’ah dan beberapa ulama lainnya.
Demikian penjelasan Ustadz Sutarwan, silahkan disimpulkan sendiri.

Walahu a’lam
Share:

Kisah Mengharukan Biksu Kecil dan Jalan Sunyi Pengikut Thariqoh

Usianya masih belasan tahun. Sekecil itu ia sudah berkepala gundul, memakai pakaian kusam berwarna orange dan tinggal di kuil nun terpencil di kaki gunung. Bersama belasan teman yang lainnya, ia memilih jalan hidup yang berat. Menjadi biksu atau pengamal ajaran agama budhist (budha) dengan mengamalkan berbagai dharma yang diajarkan Sidharta Gautama.

Jangan dulu bicara akidah mereka, keyakinan mereka. Karena itu urusan hidayah dan anugerah langsung dari Allohu Robbul Alamin. Dan mereka juga sama seperti kita, sama-sama ciptaan (makhluq) Alloh. Dan tidaklah Dia menciptakan mereka tanpa maksud dan sia-sia belaka. Pun pastilah Alloh tidak menciptakan mereka untuk kita musuhi. Jangan-jangan, kita yang disuruh banyak belajar dari mereka.

Yang hendak saya bicarakan dalam tulisan ini, adalah betapa berat dan luhurnya ajaran Budhis, yang itu telah diamalkan dengan sangat baik oleh para biksu-biksu kecil di kota Bangkok, negeri Gajah Putih, Thailand.

Bayangkan, di usianya yang belia, mereka sudah diajari bagaimana menahan hawa nafsu, berperilaku sederhana, menghindari kerakusan dan tamak dunia, mencintai sesama dan alam semesta. Laku kehidupan mereka lebih banyak diisi dengan meditasi, mendekatkan diri pada kekuatan yang mereka yakini sebagai pemilik hidup mereka.

Jangan dikira, para biksu kecil ini mendapatkan fasilitas mewah, smartphone, gaya hidup yang bergelimang kenikmatan. Mereka sudah dilatih untuk hanya memiliki barang yang benar-benar dibutuhkan saja. Jangan dikira mereka berlomba-lomba dalam kemegahan, mengupdate motor keluaran terbaru atau gagdet terbaru. Untuk menonton televisi dan berita terkini saja mereka tidak menyentuhnya.

Artinya, prinsip para biksu adalah menyerahkan hidupnya kepada ajaran budhis. Jejak hidup Sidharta Gautama benar-benar menjadi jalan bagi mereka untuk memperoleh kenikmatan spiritual. Mereka (sebagian besar) telah berhasil mengisolasi diri dari persaingan tidak sehat lomba rakus-rakusan mengeksploitasi alam ini. Dan mereka juga tidak pernah meminta-minta walau hidup sederhana. Dan jangan kira para biksu itu terlibat politik praktis berebut kuasa, menonton film porno, atau berbuat maksiat yang merusak. Untuk menikah saja mereka tidak boleh. Artinya, mereka benar-benar telah membebaskan diri dari hasrat seksual.


Melihat  kisah di atas dan membandingkanya dengan ajaran Islam, saya sendiri jadi malu kepada Alloh dan Rosulnya. Betapa mulia dan sempurnanya ajaran Islam yang hanya bertuhankan satu, Allohu Ahad. Islam yang juga membawa misi rahmat bagi semesta alam, tapi pemeluknya banyak yang jadi perusak dan pembunuh sesama.

Betapa malunya kita, kepada Alloh Aza Wa Jala, Rosul-Nya, Al Qur’an, dan sunnah, bilamana melihat perilaku biksu-biksu kecil ini yang sudah berperilaku zuhud, waro’ dan tidak bergantung pada dunia. Padahal, bukankah kita diajarkan untuk tidak tamak, rakus, dan tidaklah manusia dan jin dihidupkan melainkan hanya untuk mengabdi kepada-Nya?
Bahkan betapa mbalelonya kita kepada Alloh. Ketika al Qur’an memerintahkan untuk tidak bermegahan, kita justru berlomba bermegahan, mengikuti dan menyerupai kaum kuffar dengan sangat berlebih-lebihan. Menjadikan kemewahan sebagai gengsi, bukan fungsi.
Padahan ajaran Islam tidak sekeras ajaran budhis. Karena rosulluloh adalah contoh paling baik untuk seluruh golongan manusia. Islam sangat mengakomodir kepentingan umatnya. Menikah adalah bagian dari sunnahnya. Disuruh bekerja dengan keras agar bisa berjuang di jalan Alloh dengan harta dan jiwa, agar bisa berzakat, menyantuni anak yatim dan kaum faqir.
Sayang seribu sayang. Umat Islam di akhir zaman ini cenderung mengejar duniawi dan mencintainya dengan sangat berlebihan sebagaimana firman Alloh (wa tuhibunnal malla hubban jamma), dan kalian mencintai harta dengan sangat berlebihan.

Hingga sholat saja, kalah dengan jam kerja. Boro-boro berpuasa sunnah, puasa wajib saja kadang diam-diam kita tinggalkan. Boro-boro bersikap zuhud, paling uang tidak seberapa saja kadang memicu permusuhan dan pertumpahan darah. Apakah ini hidup kita umat Islam?

Namun, sebagian umat Muhammad SAW, ada yang memilih jalan sunyi lagi sepi menjadi penganut thareqoh. Sudahlah. Tidak perlu mempersoalkan thareqoh itu bid’ah atau sesat apa tidak, ada dalil shahihnya atau tidak. Tidak usah hobi mengoreksi dalil orang lain. Mereka sudah jauh beramal, kita baru berpikir soal dalinya mana?



Yang jelas, penganut thareqoh itu menyerahkan dirinya untuk mendekatkan diri kepada Alloh dengan menyepi di camp-camp atau masjid-masjid nun sepi. Mereka berdzikir dalam jumlah wirid tertentu. Dan itu hak mereka. Rosullulloh tidak pernah membatasi jumlah dzikir. Bahkan perintah Alloh “wadzkurulloha katsiro langalakum tuflihun.” Banyak-banyaklah mengingat Alloh (berdzikir) agar kalian beruntung.

Mereka berpuasa, menahan diri, mengasingkan diri dari hiruk pikuk kehidupan yang semakin renta. Mencoba membersihkan jiwa (tazkiyatun nafs), dari segenap  penyakit hati macam iri, dengki, riya, ujub, sombong dan kemaksiatan lainnya. Kita seharusnya malu. Karena para penganut thareqoh itu menjaga betul perilakunya, bicaranya, pandangan matanya, hafalannya, dzikirnya, menahan hawa nafsu, bahkan makanan dan minumanpun dibatasi. Harus jelas dzat dan sumbernya. Daging saja mereka “ngilari” demi menjaga diri dari kerakusan dan syubhat. Malu kita pada mereka jika yang kita bahas melulu hanya soal  bid’ah, kafir, sesat, konspirasi, Yahudi, Syiah amerika. Justru kita menjadi ketinggalam amal sholeh yang sudah terang jelas perintahnya dalam Al Qur’an maupun hadits.

Jangan harap pula para penganut thareqoh itu merayakan tahun baru, meniup terompet, menghadiri acara musik. Wong tidur dan amalann sunnahnya saja disiplin dan teratur setiap hari. Tak ada waktu untuk nonton TV dan main sosmed macam kita.

Ketika hidup itu keyakinan dan pilihan, maka perkuat dulu keyakinan dengan ilmu pengetahuan. Setelah itu baru jatuhkan pilihan. Perlahan-lahan, kurangi ketergantungan kita pada duniawi. Buang jauh sikap iri, dengki, dan sikap tamak rakus ingin memiliki ini dan itu.

Meski jangan pernah berhenti bekerja keras. Karena itu akan bernilai ibadah sangat besar, bila harta hasil kerja keras itu menjadi fasilitas untuk mendekatkan diri kepada Alloh sebagaimana sahabat Abu Bakar, Ustman bin Affan, Abdurrohman ibn Auf dan sahabat kaya raya lainnya.

Semoga tulisan ini menggugah hati dan fikiran kita. Allohu yarham.


Dukuh Sigong, 28 Desember 2015 
Share:

Definition List

Unordered List

Support