1.
Banjarnegara, 29 April 2012
Senja melukiskan jingga di langit barat daya.
Mentari sore yang kekuningan menyapa hamparan
dedaunan teh yang tertata rapi menyajikan keindahan yang menawan. Zidny
masih menikmati panorama cerahnya
minggu sore sambil menunggu kedatangan
seseorang. Ya, seseorang yang kini
selalu mengisi hari-harinya nan sepi.
Menghibur, menjadi pelipur lara,
sekaligus menjadi samudra curhat dan
keluh kesah.
Akhirnya yang dinanti datang jua, seorang
berpostur tinggi tegap, berkulit putih dan potongan rambutnya rapi ciri khas
militer, tampak memarkirkan kuda besinya tak jauh dari tempat Zidny berdiri.
“Maaf, sudah lama menunggu”, Sigit Nugraha menyapa
Zidny sambil menyunggingkan senyumnya yang khas.
“Ya, tak apa.., belum lama kok”, Jawab Zidny
dengan tatapan yang lembut. Keduanya menuju kursi kayu yang memanjang di tepi
perkebunan teh milik PT Pagilaran ini. Lama keduanya tertegun dalam diam,
menikmati mentari yang mulai bersembunyi di kaki bukit. Senja sore ini terasa begitu indah.
“Mungkin.., akan lama kita tidak bisa menikmati
senja yang indah ini bersama, Zidny.
Besok aku harus berangkat ke Manokwari,
Papua”, Sigit Nugraha membuka dialog dengan kata-kata yang kaku.
“Kamu jadi berangkat??, kamu mau meninggalkan aku
lagi??”, Jawab Zidny dengan nada tinggi dan posisi berdiri dari duduknya.
Sigit Nugraha juga beranjak dari duduknya. Lalu
tanganya meraih jemari Zidny yang putih dan lentik. Matanya yang lembut
memandang selaksa wajah Zidny yang agak
memerah namun terlihat semakin cantik.
“Dengarkan aku Zidny, aku tidak penah ingin
meninggalkanmu.., tidak pernah terbesit sedikitpun aku untuk berpisah darimu
lagi. Namun.., ini tugas negara dan panggilan kemanusiaan. Lagipula.., meskipun
ragaku berpisah jauh darimu.., namun percayalah.., bahwa hatiku selalu aku jaga
dan hanya untumu”, Sigit Nugraha berkata dengan nada yang haru. Matanya yang
lembut sedikit berkaca-kaca. Ekspresi wajahnya tak sanggup menyembunyikan
kesedihan. Sementara Zidny hanya diam seribu bahasa. Matanya yang lentik
mengeluarkan air mata keharuan. Mereka
berdua berpeluk erat sebagai ungkapan perpisahan sepasang kekasih.
“Besok, ku harap kau ikut mengantarkanku di
bandara”, Sigit Nugraha kembali memecah kebekuan. Pemuda tampan yang baru
meluluskan Sekolah Calon Bintara (SECABA) Angkatan Darat, Gombong, Cilacap ini
begitu berat melepas kekasihnya yang baru beberapa minggu berjumpa. Apa daya,
ini tugas dan perintah dinas. Integritasnya sebagai parajurit sedang diuji.
***
2.
Lanud Ahmad Yani, Semarang, 30 April 2012
Hari itu cuaca di Lapangan Udara (Lanud) Ahmad
Yani, Semarang, tidak begitu cerah. Gerimis yang turun sedari tadi belum
memberikan tanda akan reda. Sigit Nugraha diantar oleh tiga orang, Ayahanda,
ibunya serta Zidny.., pacarnya sejak sekolah menengah dulu. Sigit Nugraha
benar-benar tak sanggup menahan kesedihan. Ya, sedih, karena Ia akan berpisah
dengan orang-orang yang ia cintai. Sementara
orang yang ditinggalkanya pasti
merasakan was-was dan khawatir karena ia ditugaskan di daerah konflik.
Sebelum pemberangkatan, diadakan upacara pelepasan
dengan bertindak sebagai Inspektur Upacara adalah Panglima Daerah Militer (Pangdam) IV
Diponegoro. Upacara dilaksanakan ketika rintik-rintik gerimis mulai reda. Usai
upacara, Sigit Nugraha yang berpangkat
Serda dari kesatuan Infantri Angkatan Darat tampak begitu gagah dengan
seragam lengkapnya. Ia kembali menemui orang –orang tercintanya.
“Ibu,.., ayah..,
do’akan Sigit Nugraha agar selalu
sehat dan dapat menjalankan tugas dengan baik.., Idul Fitri tahun depan, insya
Allah Sigit minta cuti untuk pulang dan menikahi Zidny”, pamit Sigit Nugraha pada Ibu dan ayahandanya.
“Ya, ibu
selalu mendo’akanmu nak, semoga kau selalu sehat. Jaga dirimu
baik-baik”, Jawab Ibunya dengan nada yang menyejukkan.
“Zidny..., ku harap engkau sabar menantiku. Dan
jangan palingkan hatimu dengan yang lain.., aku percaya itu. Dan, cincin ini
sebagai janji komitmen kita, okay”, Kata
Sigit sambil memakaikan cincin pada jari manis Zidny yang hanya diam dan
tersipu malu.
Ya, detik-detik mengharukan itu tiba. Hampir semua
yang mengantarkan anaknya saat itu pasti menitikkan air mata. Pesawat Hercules milik Koppasus mulai merayap terbang
membawa putra-putra terbaik pengabdi
bangsa. Mereka akan di terbangkan ke Papua yang dulu bernama Irian Jaya,
wilayah paling barat Negara Kesatuan Republik Indonesia.
3.
Timika, Papua. Juli 2012
Kicau burung dan hijau pepohonan seolah
mengucapkan selamat datang di papua kepada Sigit Nugraha dan kesatuanya. Ya,
nuansa alami menampilkan pesona tersendiri. Belum ada keramaian kendaraan
bermotor seperti di pulau Jawa yang memekakkan telinga. Tak ada polusi, asap
pabrik dan kebisingan industri. Sigit
Nugraha benar-benar merasakan kedamaian alam di bumi papua.
Meski demikian, Sigit Nugraha membaca ada sesuatu
yang salah di sini. Masyarakat hidup
dengan sederhana sekali. Nikmatnya pembangunan infrastruktur, listrik, dan
kemajuan teknologi belum dirasakan warga
Papua. Namun kedamaian dan kelestarian alam tetap menyajikan kententraman.
Sayangnya, kedamaian alam itu harus dirusak oleh sekelompok kaum separatis yang menginginkan Papua Merdeka.., Papua yang
lepas dari NKRI.., bukankah NKRI sudah final dan harga mati ?
Tidak seperti yang dibayangkan sebelumnya, di
Papua tugas Sigit Nugraha begitu ringan.., hanya berpatroli keliling wilayah
dan berjaga secara rutin.
Ketika hari beranjak sore.., Sigit Nugraha selalu
teringat dengan Zidny, kekasihnya. Sudah menjadi hobi mereka berdua dulu,
memandang senja di ujung sore sambil berbincang dan berbagi cerita. Sungguh,
kenangan itu begitu manis dan ingin Ia mengulanginya kembali.
Hari itu, seperti
biasa Sigit Nugraha dan regunya yang berjumlah empat orang berpatroli
menyusuri pegunungan di Wilayah Timika. Di tengah perjalanan, ada puluhan
pemuda papua menghadang kendaraan patroli. Komandan regu memerintahkan semua
tetap berada di kendaraan, sementara Ia sendiri turun dan menghadapi kerumunan
warga secara persuasif. Sigit Nugraha dan tiga temanya tampak sedikit tegang.
Tangannya erat menggenggam senjata laras panjang jenis M 16 kaliber 7. Awalnya
mereka melihat dialog biasa saja antara komandan regu dengan gerombolan pemuda
Organisasi Papu Merdeka itu. Dan..., apa yang dikhawatirkan terjadi, komandan
regu dikeroyok ramai-ramai dengan menggunakan belati, tombak, dan parang.
Tanpa dikomando, keempat anggota regu yang tersisa
termasuk Sigit Nugraha langsung turun dari kendaraan dan menembaki kerumunan pemuda
separatis tanpa ampun. Mereka dulu yang mulai menyerang dan membunuh komandan
regu dengan membabi buta. Jadi ini tindakan defensif yang amat prosedural.
Tanpa
diduga, ratusan anak panah menghujani mereka berempat dari berbagai penjuru.
Tak ada yang sempat menghindar apalagi
melarikan diri. Tiga anak panah sekaligus menancap di tubuh Sigit Nugraha.
Matanya kemudian gelap, dan Ia tak merasakan apa-apa lagi. Sigit Nugraha telah
menunaikan janji bhaktinya dengan baik dan tercatat sebagai kusuma bangsa..,
mempertaruhkan nyawanya demi prinsip NKRI harga mati.
4.
Banjarnegara, Juli 2012
Duka yang begitu mendalam. Puluhan karanggan bunga
sebagai ungkapan bela sungkawa terus datang dari orang-orang penting termasuk
dari Pangdam IV/Diponegoro. Kediaman Sigit Nugraha tampak ramai oleh warga yang
bersimpatik. Berita gugurnya Sigit Nugraha dan empat putra terbaik bangsa
disiarkan oleh media nasional.
Foto Sigit Nugraha yang gagah nan tampan
terpampang diantara rangkaian bunga. Semua yang hadir memberikan penghormatan
terakhir. Tak kurang, Sigit Nugraha diberi tanda penghormatan atau lencana, kenaikan pangkat anumerta (setingkat
lebih tinggi), dan akan tercatat dalam sejarah sebagai kusuma bangsa.
Bagaimana dengan Zidny????
Banjarnegara, April 2012
Adi Esmawan, Lahir dan besar di Wanayasa,
Banjarnegara









0 komentar:
Posting Komentar