Jurnal Wawasan dan Inspirasi Kehidupan

Bank Sampah, Manajemen Efektif Pengelolaan Sampah

Jangan pernah menganggap enteng masalah sampah. Ya, sampah kadang menjadi musuh paling serius dalam...

Budaya Sambat, Gotong Royong yang Mulai Luntur

Tanpa kita sadari namun sangat kita rasakan, banyak kebaikan dan kearifan yang hilang seiring berjalannya zaman. Dulu, jika..

Programer : Seniman Tingkat Tinggi?

Judul di atas mungkin terlalu “narsis” atau terkesan menempatkan programer pada derajat yang amat terpuji. Tapi agaknya itu yang

Membaca Soekarno, Soeharto dan Indonesia Kita

Kalau hanya untuk menghafalkan materi, tebak-tebakan soal, dan mempelajari keahlian tertentu, tidak usah pakai guru. Pakai komputer saja lebih hebat. Kalau sekolah hanya

Sebentar Lagi, Guru Akan Tersingkir?

Kalau hanya untuk menghafalkan materi, tebak-tebakan soal, dan mempelajari keahlian tertentu, tidak usah pakai guru. Pakai komputer saja lebih hebat. Kalau sekolah hanya menjalankan fungsi “pengajaran”, pakai komputer saja. Tidak usah dan tidak perlu bimbingan guru.

Tampilkan postingan dengan label Jawa Tengah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jawa Tengah. Tampilkan semua postingan

Waspada, Indonesia Darurat Begal!

Di media massa baik cetak maupun elektronik, berita tentang begal motor begitu meresahkan publik. Fenomena maraknya begal yang sistematis menjalar ke pelosok-pelosok daerah adalah ancaman  serius bagi ketentraman kehidupan masyarakat. Pemerintah, dalam hal ini Polri harus meningkatkan intensitas keamanan dan  bekerja lebih serius dalam memberantas penyakit menular “begal motor” ini.

Lihatlah, mulai begal di ibukota, kawasan industri, hingga daerah di pedalaman Sumatera dan Kalimantan, begal kian marak dan nekat berlaku kejam pada korban yang coba-coba melawan. Dan jika kebetulan ada begal yang gagal dan disergap penduduk, bukan main. Dikeroyok hingga tewas adalah hal lumrah yang terjadi di di tengah masyarakat kita.

Fenomena begal ini, dapat dikategorikan menjadi kejadian kriminal luar biasa. Mulai dari banyaknya kasus begal yang menjalar ke berbagai daerah, modus operandi pelaku yang selalu menggunakan senjata tajam hingga senjata api, serta kebanyakan pelaku yang tertangkap adalah anak-anak muda.  Bahkan salah satu media online memberitakan, ada Begal Imut yang baru berusia 16 tahun. Sungguh, Indonesia sudah layak disebut sebagai darurat begal.

Jangan sampai, timbul ketakutan dan trauma massif di tengah masyarakat. Kemudian terpancing oleh hal-hal yang tidak jelas musababnya dan akhirnya menimbulkan keresahan umum. Di Semarang misalnya, seorang siswa SMK tewas dikeroyok massa karena dikira begal, padahal bukan. Di Bekasi, seorang ibu di sawah jadi sasaran salah tembak oleh Polisi sewaktu memburu begal. Sedangkan di lain tempat, banyak begal menghilangkan nyawa korbanya.

Aksi kriminalitas yang marak, mungkin juga sebagai akibat dari kondisi ekonomi rakyat yang belum membaik. Upaya mengatasi begal dan kejahatan lainya harus ditarik dari akar penyebabnya. Pengangguran dan kemiskinan sampai saat ini adalah faktor dominan aksi kriminalitas. Untuk itu, para stakeholder terkait harus bekerja lebih keras lagi.

Sementara tindakan pemberantasan begal dari sisi hukum harus dijalankan. Polri harus membuktikan kepada masyarakat untuk dapat mengatasi begal dan menciptakan kenyamanan publik. Dan masyarakat, tetap harus berhati-hati dalam berkendara. Hindari berkendara di malam hari jika tidak sangat terpaksa. Jangan sendirian, apalagi di tempat yang sepi.

Semoga, darurat begal ini segera berakhir!


Adi Esmawan, Owner Jurnalva.com
Share:

Yang Terlupakan dari Banjarnegara

(Senja beranjak malam di Desa Wanaraja, Banjarnegara- Jawa Tengah)
Kabupaten yang secara administratif berada di wilayah Provinsi Jawa Tengah ini, pada akhir tahun 2014 silam menjadi headline di media masa nasional. Masih hinggap dalam ingatan, ketika peristiwa bencana tanah longsor meluluhlantakan dusun Jemblung, Desa Sampang, Kecamatan Karangkobar Kabupaten Banjarnegara.


Sejak peristiwa duka itu, nama Banjarnegara menjadi terkenal ke penjuru nusantara. Hal ini ditambah dengan kunjungan Presiden Indonesia yang ketujuh, Ir. Joko Widodo yang meluangkan waktu menengok korban tanah longsor waktu itu.


Sebenarnya, selain menjadi daerah yang rawan bencana tanah longsor karena topografinya yang curam dan berbukit, Banjarnegara adalah mutiara terpendam yang menyimpan sejuta potensi. Baik potensi kekayaan alam, keanekaragaman hayati, kearifan lokal, warisan seni budaya, hingga potensi pariwisata. Dan inilah yang terlupakan dari kabupaten kecil bernama Banjarnegara.

Potensi kekayaan alam yang umum adalah kesuburan tanahnya yang masih terjaga dari pencemaran dan limbah industri. Utamanya, untuk wilayah Banjarnegara bagian atas seperti Karangkobar, Wanayasa, Pejawaran, Kalibening dan Batur (Dieng). Karena itu, investasi di bidang pertanian dan agribisnis di daerah ini sangat cocok.

Potensi keanekaragaman hayati adalah banyaknya hutan lindung homogen dengan jenis tanaman kayu puspa dan rasamala yang masih terjaga kelestarianya. Hutan lindung ini terbentang di kaki Gunung Ragajembangan, meliputi beberapa desa di Kecamatan Wanayasa. Di kawasan ini meskipun tidak ada data yang pasti, masih ada berapa satwa langka yang hidup, antara lain  Harimau, Kijang Menjangan, Landak, Ular Piton, berbagai jenis burung hutan, dan babi hutan.

Untuk jenis potensi kearifan lokal, seni budaya dan pariwisata, ada kawasan Dataran Tinggi Dieng yang menawarkan eksotisme keindahan panorama dan jejak sejarah dengan adanya peninggalan Candi dan Arca  bercorak Hindu. Juga beragam kesenian tradisional seperti embig, jhatilan, jepin, wayang kulit dan sebagainya.

Untuk souvenir dan karya dari industri kreatif, ada kerajinan keramik dari Purwareja-Klampok Banjarnegara yang sudah menembus pasar ekspor. Motif keramik yang khas dan kualitas high level, sangat cocok sebagai buah tangan untuk menambah keindahan interior rumah anda.

Untuk kuliner, Banjarnegara punya dawet ayu yang khas dan mendunia. Silahkan saja mampir ke alun-alun Banjarnegara untuk membuktikan. Selain itu, ada juga buntil berbahan baku daun talas (lumbu), dan klatak  athos yang bisa anda temukan di toko galleri oleh-oleh sepanjang Karangkobar – Wanayasa – Batur – Dieng.

Meski belum menonjol, baik pembangunan ekonomi maupun frekuensi investor yang menanamkan modalnya di Banjarnegara, namun para pelaku usaha kecil di sana masih optimis, bahwa waktu akan membawa keadaan lebih baik dan sejahtera.


Salam dari Banjarnegara.
Share:

Definition List

Unordered List

Support