Jurnal Wawasan dan Inspirasi Kehidupan

Bank Sampah, Manajemen Efektif Pengelolaan Sampah

Jangan pernah menganggap enteng masalah sampah. Ya, sampah kadang menjadi musuh paling serius dalam...

Budaya Sambat, Gotong Royong yang Mulai Luntur

Tanpa kita sadari namun sangat kita rasakan, banyak kebaikan dan kearifan yang hilang seiring berjalannya zaman. Dulu, jika..

Programer : Seniman Tingkat Tinggi?

Judul di atas mungkin terlalu “narsis” atau terkesan menempatkan programer pada derajat yang amat terpuji. Tapi agaknya itu yang

Membaca Soekarno, Soeharto dan Indonesia Kita

Kalau hanya untuk menghafalkan materi, tebak-tebakan soal, dan mempelajari keahlian tertentu, tidak usah pakai guru. Pakai komputer saja lebih hebat. Kalau sekolah hanya

Sebentar Lagi, Guru Akan Tersingkir?

Kalau hanya untuk menghafalkan materi, tebak-tebakan soal, dan mempelajari keahlian tertentu, tidak usah pakai guru. Pakai komputer saja lebih hebat. Kalau sekolah hanya menjalankan fungsi “pengajaran”, pakai komputer saja. Tidak usah dan tidak perlu bimbingan guru.

Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Titip Salam buat Jenderal

Jiwaku turut berbangga, saat layar kaca menayangkan secara live acara pelantikanmu yang sangat sakral dan khidmat itu. Detik-detik penyematan tanda pangkat oleh orang nomor satu di negeri ini membuatku berdecak kagum dan haru.
“Beruntung benar kau Dito. Tak sia-sia belajarmu yang susah payah itu”, batinku sambil menahan gembira.
“Itu Mas Dito yang sedang dilantik oleh Presiden to pak?” Istriku bertanya sambil menyuguhkan kopi di depanku.
“Iya bu. Itu Dito, teman bapak sejak SD. Tak kusangka, dia kini sebagai orang besar dan begitu penting di negeri ini. Bapak bangga sekali punya teman seperti dia”.
“Hmm, bapak boleh berbangga punya teman seperti Pak Dito. Tapi beliau kayaknya sudah lupa deh sama bapak”, seloroh istriku sambil masuk kamar tidur.
Aku tak menjawab. Ku ambil remote TV dan kutekan tombol off. Maklum, acara pelantikan live telah usai. Bayangan masa kecil kembali hinggap di kepalaku.
Namanya Dito. Wajahnya putih bersih, berperawakan tegap. Gagah. Sorot matanya tajam seperti elang. Pendiam  namun murah senyum. Tapi, dia bukan tipe anak yang suka bercanda. Gurat wajahnya serius.
Dia dari kalangan biasa saja. Bapaknya pegawai negeri di lingkungan Pemkab, sementara sang ibu adalah pengurus rumah tangga. Rumahnya biasa saja. Apalagi gaya hidupnya. Meskipun anak seorang PNS, dia tidak mau pakai sepeda onthel apalagi motor. Dia pilih jalan kaki atau naik angkutan umum kalau berangkat ke sekolah. Tidak neko-neko.
Dan yang lebih menganggumkan, Dito adalah anak yang sangat keras dalam belajar. Bayangkan, sebelum berangkat sekolah, ia sempatkan belajar. Pulang dari sekolah belajar. Sore belajar. Sebelum tidur belajar. Coba kalau saya, ah, belajarnya hanya menjelang ujian catur wulan dengan sistim kebut semalam.
“Pak..pak.., itu hp-mu bunyi”, teriak istriku dari dalam kamar. Spontan aku masuk kamar dan meraih ponsel mungilku yang sedang dicas.
“Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikumus salam. Ini benar nomornya Pak Taufik?”
“Ya benar, ini siapa?”
“Alhamdullilah, ini sahabatmu, Dito”
“Dito yang Jenderal itu??”
“Ah, bukan, Dito sahabatmu dari SD. Kamu datang ya di acara syukuranku. Nanti  hari H dan jam D nya saya SMS. Sudah dulu ya, saya tunggu di Jakarta. Assalamu’alaikum”.
“Halo... halo.., mas Dittto...”, suara telephon terputus. Sudah ditutup ternyata.
“Bu, apakah saya mimpi?? Ini barusan yang telpon Jenderal Dito dari Jakarta? Sahabat sejak kecilku itu? Bu..., ibu...???
Terasa ada yang menggoyang-goyang tubuhku.
“Pak, bangun pak. Bapak mimpi apa to pak?? Pak...”
Aduh. Ternayata aku hanya mimpi, ketiduran setelah menonton acara pelantikan. Mungkin orang Jawa menyebutnya “dakelu”, harapan yang terbawa mimpi. Ya, mimpi bertemu sang Jenderal dan mengucapkan selamat bertugas kepadanya.

Titip salam saja  buat Jenderal. Semoga tetap amanah dan semakin setia pada bangsa.

Cerita ini hanya FIKTIF belaka :D 
Share:

Sepucuk Pistol dan Segumpal Dendam


“Dengarkan penjelasanku Devanda, kau harus tau ini”, kataku setengah memaksa sekaligus memohon pada suara di ujung telepon seluler.

“Cukup! Aku tidak butuh penjelasan apapun! Aku tidak akan pernah memaafkanmu. Kau harus bertanggungjawab atas semuanya. Mudah-mudahan anak kita kelak tidak tau kalau bapaknya seorang penjahat busuk!” Bentaknya dengan suara serak diikuti sambungan telepon yang terputus.

Ah, hidup ini memang terlalu rumit. Dan aku berada di tengah pusaran kerumitan ini. Andai saja dulu almarhum ayahku tidak kelewat berani melaporkan mafia itu ke pengadilan, mungkin alur hidupku tidak seruwet ini. Ah, sudahlah. Ini takdir. Terima dan jalani saja. Meski hidupku kini di bawah bayang-bayang penyergapan polisi. Tapi ternyata, menjadi buronan itu sensasi tersendiri. Lebih greget!

Ku ambil sebatang rokok kretek. Kopi yang masih mengepul menemani mataku yang masih nanar merenungi jalan hidup yang seperti mozaik dari pecahan kaca. Warna-warni. Dan satu lagi, benda ini. Benda yang selalu setia menemani petualangan hidupku. Ia lebih dekat daripada istriku yang kini meminta cerai dan amat membenciku. Benda yang selalu ku taruh di dekat tidur dan mimpiku. Dan yang lebih penting, benda ini adalah satu-satunya warisan keluargaku yang semuanya sudah terbunuh. Ia adalah sepucuk pistol revolver standar buatan pindad.

Jangan heran ayahku punya pistol, karena almarhum adalah bekas polisi berpangkat bintara. Kejujuran dan kecintaanya pada negara justru berbuah petaka. Dan dari sinilah cerita kelam itu di mulai.

Siapa yang tidak kenal pada Bob Jumanto. Mafia paling berpengaruh di kota ini. Zaman jaya-jayanya dulu, aku masih kelas satu SD. Kejahatan dan polahnya sudah sangat meresahkan. Anak buahnya berkeliaran di penjuru kota bak hantu drakula mencari mangsa untuk dihisap darahnya.


Anehnya, tidak ada aparat yang berani meringkusnya. Bob Jumanto tidak tersentuh. Kalaupun ada anak buahnya yang tertangkap tangan, paling beberapa hari langsung dilepas bebas. Beberapa LSM dan media yang berani “mengusik” namanya, beberapa hari setelahnya pasti rontok tak tersisa. Mungkin sebab itulah, hampir semua pihak bungkam akan kejahatan yang dilakukan Bob Jumanto berdebah itu.

Dan berani-beraninya ayahku. Seorang polisi dengan pangkat rendahan tanpa beking siapa-siapa yang berani mengumpulkan secarik bukti demi bukti untuk menjerat Bob Jumanto ke meja hijau. Dan, berhasil. Walaupun sebenarnya ini hanya dagelan semu. Jumanto dan beberapa anak buahnya harus meringkuk di penjara. Mereka divonis tiga tahun lebih tiga bulan. Sebuah vonis yang teramat ringan untuk penjahat kelas kakap macam Jumanto.

Hingga almarhum ayah tidak menyadari, kalau tiga tahun tiga bulan itu sangatlah sebentar. Hingga suatu ketika, peristiwa kelam dan mengerikan di usiaku yang masih duabelas tahun itu merenggut ayah, ibu dan kakakku. Hanya aku yang tersisa dari keluarga kecil ini.

Dini hari menjelang subuh. Ku dengar kegaduhan dari ruang tamu. Pintu digedor layaknya penggrebekan teroris. Almarhum ibu membopongku yang sudah terjaga dari tidur, lalu memasukkanku pada almari baju di pojok kamar.

“Nada, kamu tetap diam disini, apapun yang terjadi. Jangan bersuara”, bisik ibuku lembut. Dan itulah kata terakhir yang aku dengar darinnya.

 Kemudian pintu almari dikunci rapat. Beruntung aku tidak mati kehabisan nafas karena masih ada celah bagi oksigen untuk menyuplai nafas.

Hingga beberapa detik kemudian, letusan pistol bertubi-tubi menyalak di tengah keheningan. Dan daribalik celah engsel almari, ku menyaksikan sendiri jeritan ibu dan kakak yang terdengar pilu. Terpratri jelas pula dua sosok yang tega membunuh orang yang paling aku sayangi. Dan beruntung, Tuhan masih memberiku kesempatan hidup.  Keberadaanku di almari tidak terendus oleh Jumanto dan anak buahnya.

Baru saat suasana benar-benar sepi. Ku teriak minta tolong sebisaku. Tetangga kanan kiri datang bergerombol. Hingga lama menunggu, baru ada yang membuka paksa almari tempat aku sembunyi. Ternyata polisi.

Karena aku masih kecil. Belum terlalu paham apa yang sebenarnya terjadi. Ku lihat ayah, ibu, dan kakak sudah terbujur kaku di tengah mata-mata iba para tetangga. Tembusan peluru begitu kasat dan jelas.

Semenjak itu, hidupku diungsikan ke kampung. Ikut pamanku yang merupakan adik kandung almarhum ayah. Untung saja, paman menyembunyikan asal-usul hidupku rapat-rapat. Aku diperlakukan layaknya anak sendiri. Hingga saat aku lulus sekolah menengah. Baru ia ceritakan hal ihwal semuanya. Termasuk menyerahkan sepucuk pistol yang paman diam-diam sembunyikan saat mengemasi barang-barang ayahku dulu.

Dendam segera membara dari ujung ubun-ubunku. Bayangan pembunuhan kejam di mataku itu seakan membakar semangat untuk balas dendam. Namun berkali-kali niatku untuk bertindak goblok dicegah oleh paman. “Tunggulah saat yang tepat nak Nada. Kalau tidak. Kamu yang mati konyol. Nyawa pamanmu dan keluarga juga terancam. Jumanto itu bukan orang sembarangan”.

Dan karena nasehat  itu, kusimpan sementara dendamku di sudut kenyataan. Ku jalani hidup dengan semangat.  Belajar dan belajar terus ku jalani. Hingga gelar sarjana dengan seabrek prestasi aku raih.


Dan entah karena faktor kebetulan atau tidak, setelah sarjana aku justru melamar pekerjaan diperusahaan yang ternyata itu adalah milik Jumanto. Ia duduk sebagai owner sekaligus CEO-nya. Karena nilai dari prestasiku yang lumayan, diterimalah aku sebagai pegawai perusaahan. Dendamku semakin berkecamuk saat mataku dan matanya berpapasan. Namun aku tahan sekuatnya. Tunggu waktu yang tepat. Aku berusaha menjadi anak buahnya dengan sebaik-baiknya.

Hingga hal yang tidak aku duga benar-benar terjadi. Aku dipertemukan dengan gadis cantik yang memikat hatiku. Dan dia adalah anak bungsu Jumanto. Dan dia ternyata juga menaruh hati padaku. Dengan sekuat tenaga, kucoba berusaha memikat hati Jumanto agar aku bisa diterima sebagai menantunya. Ternyata : berhasil. Prestasi, ketrampilan dan dedikasiku pada perusahaan membuat hati mafia kelas kakap macam Jumato luluh. Diapun mengawinkan putri bungsunya denganku tanpa sedikitpun menaruh curiga.

Setelah itu, berbagai kesempatan emas untuk mengabisi Jumanto sengaja aku lewatkan. Aku bimbang. Walau bagaimanapun, ia adalah mertuaku, ayah dari isteriku, dan calon kakek dari anakku kelak. Ya, istriku, si anak dari pembunuh keluargaku sudah mengandung anakku. Pun Jumanto juga sudah tidak lagi sebengis dulu. Kelakuannya sudah membaik. Mungkin ia sudah insyaf.

Hingga beberapa waktu lalu, tanpa sengaja Jumanto memasukki kamarku dan menemukan fotoku bersama almarhurm ayah, ibu dan kakakku. Ia terkaget bukan main. Berarti ia masih ingat masa lalunya.

Dan saat itulah, niatku untuk membunuh Jumanto kembali muncul. Daripada aku yang nantinya dibunuh, mending dia yang aku bunuh. Ku dorong tubuhnya yang sudah tua itu hingga terbentur ke tembok. Tak kuduga, dia masih kuat dan balik menyerangku. Hingga, pistol yan selama ini kusimpan rapi di laci rias istriku itu ku bidikkan tepat di kepala Jumanto. Setengah tak percaya, akupun segera kabur dari rumah sebelum aksiku ketahuan anak buah Jumanto dan juga istriku tercinta.

Kini, dendam ayahku memang sudah terbalas lunas. Batok kepala mafia tua bangka itu sudah pecah tertembus peluru pistol bersejarah ini. Namun yang selalu aku khawatirkan, bagaimana jika anakku kelak menuntut balas atas kematian mendiang kakeknya?

Adi Esmawan, Dukuh Sigong, 26 Desember 2015




Share:

Cerpen : "Misteri di Malam Kelam"


Aku masih mengenang peristiwa itu. Kala remang-remang lampu jalan menyamarkan malam. Saya hendak pulang dari berjualan roti bakar. Pedagang sate dan kue serabi juga sudah berkemas-kemas hendak pulang ketika kegaduhan disusul letusan pistol mengagetkan rasa kantuk. Dan kami terperanjat, ketika sosok pemuda  lumpuh terkena timah panas di kaki kirinya, kemudian diringkus sekawanan polisi. Aku bergidik sambil tetap mengemasi dagangan di gerobak.

“Adnan?”, gumamku pelan sambil melongo seakan masih tak percaya. Pemuda tanggung itu merintih kesakitan ketika tubuhnya diseret setengah paksa dan dicampakan di mobil polisi.  Kemudian insiden itu berlalu dengan cepat.

Paginya, saya baru tau. Bocah baru gede itu ditangkap polisi karena diduga  terkait sekawanan begal. Ah, aku masih saja ragu. Adnan yang ku kenal orangnya baik. Pemuda tampan itu sering membeli roti bakar daganganku dan orangnya ramah. Tak dinyana, ia anggota komplotan begal. Dan beberapa bulan kemudian ia divonis hakim tiga tahun penjara. Katanya, ia hanya berperan sebagai juru informasi.

Dan kini, Adnan tengah kembali ke kampung ini. Ia menjadi buah bibir ibu-ibu yang hobi mewartakan gosip hangat. Kabar terbaru, sebagian besar warga baik bapak-bapak maupun ibu-ibu hendak berdemo di depan rumah Pak Karim, orang tua Adnan. Ya, mereka hendak mengusir Adnan agar tidak lagi tinggal di kampung ini.

“Pak, kita nanti ikut demo nggak? nanti dibilang tidak kompak lagi?”, Istriku  yang sedang menjahit membuka percakapan.

“Ah, nggak usah ikut-ikutan. Wong rumah-rumahnya dia. Lagian dia kan sudah dihukum sama negara to?”, sahutku menimpali sambil menyeruput kopi hangat. “Coba kalau si Adnan itu anak kita, kan kasihan”.

“Ih, amit-amit. Tapi kan, kata Bu RT dia sudah meresahkan dan merusak nama baik kampung kita Pak”.

“Ya, terserah Ibu saja kalau mau ikutan demo. Aku sih ogah”.
“Ihh, bapak nggak kompak. Diomelin tetangga baru tau ntar”.
Saya terdiam tak menanggapi. Kemudian merenung, menerawang langit-langit kamar yang penuh dengan hiasan sarang laba-laba , lama tidak dibersihkan. Ada selaksa bayangan wajah Adnan yang tiba-tiba muncul dalam lamunan pikiranku.

Kasihan dia. Usianya masih sangat muda. Mungkin hanya selisih dua tahun dari anak pertamaku yang masih 18 tahun. Masa  depanya masih sangatlah panjang. Seharusnya penduduk memperlakukannya dengan baik dan membawanya kembali ke jalan yang benar.

“Bu, aku tidur dulu ya. Bangunkan aku sebelum ashar. Saya mau ke swalayan ambil stok roti nanti sore”, pesanku pada istriku yang masih sibuk dengan jahitanya. Ia hanya mengangguk mengisyaratkan paham.

Malamnya, seperti biasa saya kembali mangkal di trotoar dekat kelurahan menjajakan roti bakar. Tidak biasanya, malam ini begitu sepi dan lengang. Si Pardi penjual serabi dan Mang Dodo penjual sate belum terlihat. Padahal, biasanya ia datang lebih awal. Ada yang aneh.

Tiba-tiba, terdengar teriakan kegaduhan dari tengah kampung. Bersamaan dengan itu, ku lihat sesosok manusia berlari tergopoh ke arahku.  Wajahnya berdarah-darah. Kakinya terseok-seok.
“Adnan?”, sambutku sambil sedikit memapahnya yang kesakitan.
“Pak, tolong aku”, jawabnya spontan dengan nafas yang memburu. Aku mulai menebak-nebak apa yang terjadi.

“Tenangkan dirimu nak, duduklah”, pintaku dengan nada kebapak-bapak-an.

“Rumahku sudah dibakar warga, bapak-ibuku dihajar beramai-ramai. Aku akan dibunuh pak”, jawabnya sambik menahan sesegukan. Air matanya mengalir diantara luka memar di wajahnya yang masih imut.

“Astagfirulloh”, sahutku pelan. Kemudian mengamati situasi kanan kiri. Beruntung. Tak ada orang. Dan entah terdorong oleh kekuatan dari mana. Aku lantas menggendong Adnan dan berlari sekencang-kencangnya menjauh dari kampung sambil menunggu keberuntungan ada angkutan lewat.

Dan, keberuntungan segera berpihak. Ada sopir truk yang melintas dan aku menyetopnya. Lebih beruntung lagi ketika truk itu tidak berisi muatan. Kemudian dengan alasan membawa anak kecelakaan, aku izin numpang di bak belakang untuk membawanya ke Puskesmas.

“Tenanglah nak, aku akan membawamu ke tempat yang aman”, kataku pelan.

“Terima kasih pak. Kenapa bapak tidak benci padaku? Aku ini penjahat pak?”, jawabnya sambil memelukku haru.

Aku tidak menjawab. Mataku sembab menahan tangis. Oh, ada saja takdir yang kau tetapkan atas hamba-Mu Tuhan. Tapi saya yakin selalu ada hikmah di balik peristiwa ini.

Dan truk berhenti tepat di depan Puskesmas Kecamatan. Kami berdua turun dan bergegas menuju ruangan utama. Disana ada petugas piket yang segera menyambut kami.

“Mohon pertolongan, anak saya kecelakaan, ia jatuh dari motor”,  ucapku pada petugas jaga. Dengan cekatan, ia langsung membawa Adnan ke ruangan  periksa.

Aku cemas. Apa yang  telah terjadi di kampungku? Gerobak roti bakarku yang kutinggalkan pasti menuai kecurigaan warga. Ah, sebaiknya aku pulang dulu membereskan segalanya dan menyusun langkah selanjutnya.

“Pak, aku titip anakku dulu, saya akan pulang mengambil uang”, pamitku pada petugas Puskesmas.

“Silahkan pak, anak anda biar istirahat di sini untuk perawatan lebih lanjut. Nanti soal identitas dan lain sebagainya segera di urus”, jawab petugas jaga itu datar.
“Baik Pak”, sahutku patuh. Segera saja saya bergegas keluar. Jalanan masih sepi. Tidak ada tanda-tanda angkutan malam. Namun semua segera teratasi ketika pangkalan ojek tak jauh dari Puskesmas.
Gerobak roti bakarku masih utuh. Segera saya membawanya pulang. Di tengah jalan menuju kampung, penduduk tampak sibuk yang tak lazim. Namun beruntung, lagi-lagi penduduk sekitar tidak menaruh curiga.
Dan, apa yang terjadi. Kampungku benar-benar mencekam. Rumah Pak Karim sudah ludes terbakar. Pak Karim dan istrinya  sekarat dihajar massa. Polisi datang terlambat seperti di film-film hollywod. Nasi sudah menjadi bubur.

Aku segera berlari menuju rumah sambil sekuat tenaga mendorong gerobak.

“Ada apa to pak, kok kayak di kejar setan”, istriku berseloroh melihat tingkahku yang tergesa-gesa.
“Kamu nggak ikut demo anarkhis ke tempatnya Pak Karim?”, tanyaku ngawur.
“Nggak to pak. Jahitan masih numpuk, memangnya sudah dimulai?”, tanya istriku penuh selidik.
“Sudahlah, kamu tidur saja. Di luar situasi gawat. Kayak sedang perang. Aku pamit keluar sebentar”. Kataku sambil menghidupkan mesin motor dan tancap gas.
Sesampainya di Puskesmas, aku bergegas ke ruangan Adnan. Betapa kagetnya, ketika batang hidungnya sudah tidak ada. Segera saya temuin petugas jaga tadi.
“Pak, dimana anak saya?”
“Lhoh, bukanya dia di kamar perawatan?”, dia bertanya balik.
“Tidak ada!”
“Tidak ada?”
Kami berdua cek balik, dan benar tidak ada siapa-siapa. Kami berdua saling bertatap muka. Kemudian saya segera bergegas keluar. Mungkin dia kabur.
Aneh, tidak ada jejak. Seperti di telan bumi.  Ku tanya warga yang berlalu juga tukang ojek. Tak ada yang melihat Adnan. Kabur ke mana kemana dia?
Aku tidak patah arang. Segera ku cari di sepanjang jalan dengan motor, mungkin dia berlari ke arah kota. Tapi hingga lima kilometer, tak ada hasil. Nihil. Dengan jiwa letih penuh penyesalan, aku memilih pulang.

Sesampainya di rumah, aku bergegas masuk kamar tamu dan menguncinya. Istriku terheran-heran. Aku tak peduli. Ku rebahkan kepala di bantal dan merenungi apa yang baru saja terjadi. Semua begitu cepat. Untunglah, di Puskesmas tadi saya belum sempat menuliskan identitas apapun. Semoga petugas jaga tadi tidak tahu.

Sepanjang malam, mata enggan terpejam. Bayangan Adnan masih hinggap di pikiranku. Kasihan sekali hidupnya. Ah, aku jadi teringat lagu Ebiet G. Ade “Kalian Dengarkanlah Keluhanku”.

Apakah buku diri ini harus selalu hitam pekat..
Apakah dalam sejarah orang, musti jadi pahlawan
Sedang Tuhan di atas sana, tak pernah menghukum
Dengan sinar mata-Nya yang lebih tajam dari matahari..
Ke manakah sirnanya, nurani embun pagi?
Yang biasanya ramah, kini membakar hati
Apakah, bila terlanjur salah, akan tetap dianggap salah?
Tak ada waktu lagi benahi diri?
Tak ada tempat lagi untuk kembali?
Kembali dari keterasingan, ke bumi berada.
Ternyata Lebih menyakitkan, dari derita panjang.

Paginya, kampung ini gempar. Insiden tadi malam segera menyebar ke penjuru. Pak Karim dan istrinya dikabarkan tewas. Nama baik kampung ini ikut ludes bersama rumah Pak Karim. Puluhan orang dibawa ke kantor polisi untuk dimintai keterangan.
Dan anehnya, si Adnan juga dikabarkan tewas terpanggang api. Ia terjebak di dalam rumah karena takut keluar dan masa yang marah membakar rumah itu.

“Lhah, tadi malam saya menyelamatkan siapa?”, tanyaku terheran-heran.


Tempuran,   Mei 2015
Adi Esmawan, owner jurnalva.com







Share:

Cerpen : Cinta Dan Pengabdian

1.   Banjarnegara, 29 April 2012
Senja melukiskan jingga di langit barat daya. Mentari sore yang kekuningan menyapa hamparan  dedaunan teh yang tertata rapi menyajikan keindahan yang menawan. Zidny masih menikmati panorama  cerahnya minggu  sore sambil menunggu kedatangan seseorang. Ya, seseorang yang  kini selalu mengisi hari-harinya nan  sepi. Menghibur, menjadi  pelipur lara, sekaligus  menjadi samudra curhat dan keluh kesah.

Akhirnya yang dinanti datang jua, seorang berpostur tinggi tegap, berkulit putih dan potongan rambutnya rapi ciri khas militer, tampak memarkirkan kuda besinya tak jauh dari tempat Zidny berdiri.

“Maaf, sudah lama menunggu”, Sigit Nugraha menyapa Zidny sambil menyunggingkan senyumnya yang khas.

“Ya, tak apa.., belum lama kok”, Jawab Zidny dengan tatapan yang lembut. Keduanya menuju kursi kayu yang memanjang di tepi perkebunan teh milik PT Pagilaran ini. Lama keduanya tertegun dalam diam, menikmati mentari yang mulai bersembunyi di kaki bukit. Senja  sore ini terasa begitu  indah.

“Mungkin.., akan lama kita tidak bisa menikmati senja  yang indah ini bersama, Zidny. Besok aku harus berangkat ke  Manokwari, Papua”, Sigit Nugraha membuka dialog dengan kata-kata yang kaku.

“Kamu jadi berangkat??, kamu mau meninggalkan aku lagi??”, Jawab Zidny dengan nada tinggi dan posisi berdiri dari duduknya.

Sigit Nugraha juga beranjak dari duduknya. Lalu tanganya meraih jemari Zidny yang putih dan lentik. Matanya yang lembut memandang selaksa wajah  Zidny yang agak memerah namun terlihat semakin cantik.

“Dengarkan aku Zidny, aku tidak penah ingin meninggalkanmu.., tidak pernah terbesit sedikitpun aku untuk berpisah darimu lagi. Namun.., ini tugas negara dan panggilan kemanusiaan. Lagipula.., meskipun ragaku berpisah jauh darimu.., namun percayalah.., bahwa hatiku selalu aku jaga dan hanya untumu”, Sigit Nugraha berkata dengan nada yang haru. Matanya yang lembut sedikit berkaca-kaca. Ekspresi wajahnya tak sanggup menyembunyikan kesedihan. Sementara Zidny hanya diam seribu bahasa. Matanya yang lentik mengeluarkan  air mata keharuan. Mereka berdua berpeluk erat sebagai ungkapan perpisahan sepasang kekasih.

“Besok, ku harap kau ikut mengantarkanku di bandara”, Sigit Nugraha kembali memecah kebekuan. Pemuda tampan yang baru meluluskan Sekolah Calon Bintara (SECABA) Angkatan Darat, Gombong, Cilacap ini begitu berat melepas kekasihnya yang baru beberapa minggu berjumpa. Apa daya, ini tugas dan perintah dinas. Integritasnya sebagai parajurit sedang diuji.
***


2.   Lanud Ahmad Yani, Semarang, 30 April 2012

Hari itu cuaca di Lapangan Udara (Lanud) Ahmad Yani, Semarang, tidak begitu cerah. Gerimis yang turun sedari tadi belum memberikan tanda akan reda. Sigit Nugraha diantar oleh tiga orang, Ayahanda, ibunya serta Zidny.., pacarnya sejak sekolah menengah dulu. Sigit Nugraha benar-benar tak sanggup menahan kesedihan. Ya, sedih, karena Ia akan berpisah dengan orang-orang yang ia cintai. Sementara  orang yang ditinggalkanya  pasti merasakan was-was dan khawatir karena ia ditugaskan di daerah konflik.

Sebelum pemberangkatan, diadakan upacara pelepasan dengan bertindak sebagai Inspektur Upacara  adalah Panglima Daerah Militer (Pangdam) IV Diponegoro. Upacara dilaksanakan ketika rintik-rintik gerimis mulai reda. Usai upacara, Sigit Nugraha yang berpangkat  Serda dari kesatuan Infantri Angkatan Darat tampak begitu gagah dengan seragam lengkapnya. Ia kembali menemui orang –orang tercintanya.


“Ibu,.., ayah..,  do’akan Sigit Nugraha  agar selalu sehat dan dapat menjalankan tugas dengan baik.., Idul Fitri tahun depan, insya Allah Sigit minta cuti untuk pulang dan menikahi Zidny”,  pamit Sigit Nugraha pada Ibu dan ayahandanya.

“Ya, ibu  selalu mendo’akanmu nak, semoga kau selalu sehat. Jaga dirimu baik-baik”, Jawab Ibunya dengan nada yang menyejukkan.

“Zidny..., ku harap engkau sabar menantiku. Dan jangan palingkan hatimu dengan yang lain.., aku percaya itu. Dan, cincin ini sebagai janji komitmen kita, okay”,  Kata Sigit sambil memakaikan cincin pada jari manis Zidny yang hanya diam dan tersipu malu.

Ya, detik-detik mengharukan itu tiba. Hampir semua yang mengantarkan anaknya saat itu pasti menitikkan air mata. Pesawat Hercules milik Koppasus mulai merayap  terbang membawa putra-putra terbaik  pengabdi bangsa. Mereka akan di terbangkan ke Papua yang dulu bernama Irian Jaya, wilayah paling barat Negara Kesatuan Republik Indonesia.



3.   Timika, Papua. Juli 2012

Kicau burung dan hijau pepohonan seolah mengucapkan selamat datang di papua kepada Sigit Nugraha dan kesatuanya. Ya, nuansa alami menampilkan pesona tersendiri. Belum ada keramaian kendaraan bermotor seperti di pulau Jawa yang memekakkan telinga. Tak ada polusi, asap pabrik dan  kebisingan industri. Sigit Nugraha benar-benar merasakan kedamaian alam di bumi papua.

Meski demikian, Sigit Nugraha membaca ada sesuatu yang salah di  sini. Masyarakat hidup dengan sederhana sekali. Nikmatnya pembangunan infrastruktur, listrik, dan kemajuan teknologi belum  dirasakan warga Papua. Namun kedamaian dan kelestarian alam tetap menyajikan kententraman.

Sayangnya, kedamaian alam itu harus  dirusak oleh sekelompok kaum separatis  yang menginginkan Papua Merdeka.., Papua yang lepas dari NKRI.., bukankah NKRI sudah final dan harga mati ?

Tidak seperti yang dibayangkan sebelumnya, di Papua tugas Sigit Nugraha begitu ringan.., hanya berpatroli keliling wilayah dan berjaga secara rutin.

Ketika hari beranjak sore.., Sigit Nugraha selalu teringat dengan Zidny, kekasihnya. Sudah menjadi hobi mereka berdua dulu, memandang senja di ujung sore sambil berbincang dan berbagi cerita. Sungguh, kenangan itu begitu manis dan ingin Ia mengulanginya kembali.

Hari itu, seperti   biasa Sigit Nugraha dan regunya yang berjumlah empat orang berpatroli menyusuri pegunungan di Wilayah Timika. Di tengah perjalanan, ada puluhan pemuda papua menghadang kendaraan patroli. Komandan regu memerintahkan semua tetap berada di kendaraan, sementara Ia sendiri turun dan menghadapi kerumunan warga secara persuasif. Sigit Nugraha dan tiga temanya tampak sedikit tegang. Tangannya erat menggenggam senjata laras panjang jenis M 16 kaliber 7. Awalnya mereka melihat dialog biasa saja antara komandan regu dengan gerombolan pemuda Organisasi Papu Merdeka itu. Dan..., apa yang dikhawatirkan terjadi, komandan regu dikeroyok ramai-ramai dengan menggunakan belati, tombak, dan parang.

Tanpa dikomando, keempat anggota regu yang tersisa termasuk Sigit Nugraha langsung turun dari kendaraan dan menembaki kerumunan pemuda separatis tanpa ampun. Mereka dulu yang mulai menyerang dan membunuh komandan regu dengan membabi buta. Jadi ini tindakan defensif yang amat prosedural.

 Tanpa diduga, ratusan anak panah menghujani mereka berempat dari berbagai penjuru. Tak ada  yang sempat menghindar apalagi melarikan diri. Tiga anak panah sekaligus menancap di tubuh Sigit Nugraha. Matanya kemudian gelap, dan Ia tak merasakan apa-apa lagi. Sigit Nugraha telah menunaikan janji bhaktinya dengan baik dan tercatat sebagai kusuma bangsa.., mempertaruhkan nyawanya demi prinsip NKRI harga mati.


4.   Banjarnegara, Juli 2012

Duka yang begitu mendalam. Puluhan karanggan bunga sebagai ungkapan bela sungkawa terus datang dari orang-orang penting termasuk dari Pangdam IV/Diponegoro. Kediaman Sigit Nugraha tampak ramai oleh warga yang bersimpatik. Berita gugurnya Sigit Nugraha dan empat putra terbaik bangsa disiarkan oleh media nasional.


Foto Sigit Nugraha yang gagah nan tampan terpampang diantara rangkaian bunga. Semua yang hadir memberikan penghormatan terakhir. Tak kurang, Sigit Nugraha diberi tanda penghormatan atau  lencana, kenaikan pangkat anumerta (setingkat lebih tinggi), dan akan tercatat dalam sejarah sebagai kusuma bangsa.

Bagaimana dengan Zidny????

Banjarnegara, April 2012


Adi Esmawan, Lahir dan besar di Wanayasa, Banjarnegara
Share:

Cerpen : Kerinduan dari Canbera

Aku  tak sabar menunggu laju hari, seperti calon pengantin yang menunggu hari perkawinan. Ya, besok, tepat tiga April 2015, saat libur tanggal merah,  adikku akan pulang dari Canbera, Australia. Aku sudah kelewat rindu dengan adik satu-satunya itu lantaran sudah hampir satu windu tak pernah berjumpa. Seperti apa wajahnya kini, aku tak bisa membayangkan. Karena yang tersisa di rumah ini hanya kenanganya tempo dulu sewaktu ia duduk di bangku SMA. Foto hitam putih yang sudah buram dimakan usia itu masih aku pajang di dinding ruang depan. Dialah adikku, Anis Ramadhan.

Aku jadi ingat, bahkan masih sangat ingat, kejadian malam itu. Kejadian yang menjadi tonggak perubahan laku dan sikapnya. Waktu itu, arloji di pergelangan tanganku sudah menunjukan pukul sebelas malam. Mataku juga sudah menyempit menahan kantuk. Namun harus ku tahan hasratku untuk memeluk bantal dan menyandarkan letih setelah seharian bekerja. Aku masih menunggunya dengan setia di kursi kayu ruang tamu. Hatiku resah, khawatir, sekaligus geram dan marah karena sampai selarut ini adikku satu-satunya belum pulang dari sekolah.  “Keluyuran kemana saja kau, Anis!”,  batinku mengomel seorang diri.

Tak  lama berselang ku dengar daun pintu berderit, ada yang membukanya pelan. Spontan ku nyalakan lampu ruang tamu. Dan benar, Anis Ramadhan, adik yang aku banggakan baru pulang dari sekolah tepat jam setengah dua belas malam. Baju putih Osis nya terlihat sudah kumal dan tak rapi lagi. Wajahnya yang putih tampan terlihat kusut dan letih. Matanya merah.

“Dari mana saja kau, Anis!!”, tanyaku datar saja. Ku tahan amarahku di hati. Namun Ia tak menjawab pertanyaanku. Ia justru menunduk lesu. Kupandang ia lekat-lekat. Kemudian ku dekati  tubuhnya dan aku tersentak ketika aroma alkohol begitu menyengat menusuk hidungku.

“Kau mabuk, Anis ?!”,  gertakku dengan mata melotot. Tanpa sadar dan seperti gerakan spontanitas ku tampar pipinya hingga terlihat memerah. Ia tetap terdiam saja. Seolah sengaja mempasrahkan diri untuk kumarahi habis-habisan. Akupun tersadar. Tiada gunanya mengomeli bocah ini dengan kekerasan. Akupun beranjak dari ruang tamu, masuk ke kamar dan membanting pintu dengan keras. Aku benar-benar marah waktu itu.

Pagi ketika menjelang fajar, kubangunkan Ia dengan paksa. Kusuruh ia mandi kemudian ikut shalat malam bersamaku. Ku lihat wajahnya yang letih dan menahan kantuk waktu itu. Tapi aku tak peduli. Disaat itulah, ku perlihatkan foto mendiang Bapak dan Ibunya.

“Kau tau Anis, semenjak kecelakaan tragis itu merenggut nyawa orang tua kita, kaulah harta kakak yang paling berharga”, aku memulai nasehatku dengan haru.

“Anis, aku ingin kau jadi orang besar, orang sukses, agar orang tua kita yang nun jauh disana bisa tersenyum  dan bangga padamu. Aku rela bekerja keras,  menuruti kemauanmu. Masalah biaya sekolah, kuliah, berapapun, akan kakak usahakan. Aku rela tidak memikirkan masa depanku asal masa depanmu kelak terjamin. Lalu kita bungkam  orang-orang yang pernah meremehkan kita.”, pungkasku sambil menatapnya lekat-lekat. Ia hanya menunduk. Dari pipinya keluar air mata bening. Syukurlah, dia menyesal.

“Mulai besok, berjanjilah pada Kakak, kau harus jadi anak yang baik, tidak mabuk-mabukan. Tidak suka membolos sekolah.., apalagi tawuran dan bikin onar, itu bukan karakter calon orang besar !”, tandasku dengan nada yang mantap.

Sejak nasehat itulah, tingkah polah adikku, Anis Ramadhan menjadi lain. Dia menjadi penurut, rajin, mandiri, dan  tak kusangka dia mendapakan beasiswa untuk kuliah di  negeri Kanguru, Australia. Meskipun aku ditinggal seorang diri di sini. Aku tetap bahagia dan bangga.

Teringat dengan jelas perpisahan di ruang tunggu bandara Soekarno-Hatta waktu pemberangkatanya ke Canbera, delapan tahun silam. Wajah putihnya tampak menyimpan kesedihan yang mendalam. Ia memelukku dengan erat, seperti tak pernah berjumpa kembali.

“Kakak, doakan Anis Ramadhan, semoga berhasil dan pulang kembali dengan membawa kemenangan, untuk kakak”, ucapnya kala itu.
“Adikku, dalam setiap do’aku, tak pernah kulupakan namamu. Kau juga harus berjuang dengan keras, tunjukan bahwa kamu adalah calon orang besar, ingat, kebahagian terbesar diri kita adalah ketika kita dapat melakukan apa yang menurut orang lain tidak bisa kita lakukan”, nasehatku panjang lebar. Kemudian ia menyalamiku, mememelukku sekali lagi, dan beberapa saat kemudian Ia lepas landas bersama Garuda Indonesia yang meninggalkan tanah Cengkareng menuju Canbera.

Kini hampir delapan tahun berlalu. Masa studi  Anis Ramadhan seharusnya sudah selesai sejak tiga tahun yang lalu. Namun  kabar yang sampai kepadaku, ia langsung bekerja di sana sebagai pakar konstruksi bangunan dan praktisi agribisnis. Dia juga sudah berkeluarga kabarnya. Sekali lagi aku sangat bangga. Meskipun sepucuk surat, sebait sms, atau satu kata dari telepon tak pernah sekalipun Anis Ramadhan lakukan pada kakaknya. Tapi aku yakin Anis Ramadhan tidaklah lupa. Kata Pak Darmawan, pegawai Kedutaan Besar Indonesia di Australia, mengatakan bahwa Anis Ramadhan sangat rindu padaku. Tapi demi konsentrasi dan dedikasinya, ia sengaja tak mau menghubungiku. Nanti saja kalau sudah ada waktu luang, Ia akan mengunjungiku kemari bersama keluarga kecilnya, begitu kata Pak Darmawan. Staf Kedubes itu jua yang memberitahukan bahwa tanggal 03 April, saat libur paskah dan akhir pekan, ia akan berlibur kemari.

Aku memang tak habis pikir, kenapa ia setega itu. Namun tak apalah, yang penting besok, saat yang  dijanjikan, Ia akan kembali ke sini, di tanah kelahiranya. Ke rumah yang dulu membesarkanya. Di kampung tempatnya pertama kali memulai kehidupan. Saya yakin, dia tidak akan menghapus kenangan sebagian waktu hidupnya di sini.

Meski mungkin dia tidak tahu, telah banyak perubahan dan kejadian ketika ia meninggalkan kampung halaman. Pak Surip, guru matematika yang mengajari Anis Ramadhan dengan penuh kasih sayang hingga dia pandai di bidang fisika, sudah mangkat sekitar dua tahun silam. Pak dhe Salim, kakak dari Ibu, juga sudah dipanggil yang kuasa beberapa waktu lalu. Adalagi, kali di belakang rumah yang dulu waktu kecil Anis Ramadhan suka memancing, kini sudah jadi selokan kecil. Desa ini juga sudah tak ramah lagi. Namun ku yakin desa ini juga merindukanmu, Anis Ramadhan.

***
Hari ini,    3 April. Sang  surya yang jenuh kembali muncul dari ufuk timur. Inilah hari yang ku tunggu. Sudah kusapu bersih halaman rumah yang tak seberapa luas ini. Tak lupa kupel dan kuberi parfum seluruh ruangan rumah layaknya akan menyambut tamu agung. Padahal adik kandungku sendiri yang akan pulang ke rumahnya, rumahnya sendiri. Namun bagiku,  ini adalah ujung dari penantian panjang. Sudah lama aku gerah dengan kata-kata tetangga yang bilang bahwa kau tidak akan pulang, Anis Ramadhan. Kata mereka kau sudah melupakan kakakmu, karena kau sudah sukses di sana.

Sekaranglah saatnya kau tunjukan, kau bukan adik durhaka, Anis Ramadhan. Kita bungkam orang-orang yang  pernah meremehkan kita. Tunjukan bahwa kau sudah menjadi orang besar sekarang.
Jarum  jam seolah berjalan sangat lamban. Tengah hari berlalu, belum jua nampak tanda-tanda kepulanganmu kemari, Anis Ramadhan. Apakah kau tak jadi datang hari ini ?

Dan, ketika sebuah nomor dengan kode Australia berkedip memanggil dari ponsel tuaku, bergegas ku terima. Ternayata Pak Darmawan, staf kedubes yang mengabarkan padaku : “Anis Ramadhan, adik kandung bapak, tak jadi pulang hari ini, mungkin liburan tahun depan Ia bisa kemari, ia hanya nitip salam”, kata-kata yang membuat jantungku seolah berhenti. Air mata hangat dari mataku keluar, menandakan rapuhnya hati dan betapa besar rinduku. Kini penantianku harus diperpanjang satu tahun lagi. Tapi di rumah ini, akan kunanti kepulanganmu, sampai kapanpun, barang satu tahun, dua tahun, sewindu, dua windu, hingga hilang pandangan mata dariku. Aku tetap menanti kepulanganmu, Anis Ramadhan, adikku tercinta.

Banjarnegara, 2012


Adi Esmawan- Cerpenis aliran realis, lahir dan besar di Wanayasa, Banjarnegara.
Share:

Cerpen : Secarik Rindu Untuk Ayah

Ingin ku ungkapkan dalam secarik puisi, rindu yang tak tertahankan padamu ayah. Rindu yang mungkin tinggal hanya kerinduan. Ingin aku kabarkan padamu ayah, hasil panen padi dan singkong melimpah tahun ini. Ingin aku basuh peluhmu di kerut wajahmu dan kubuatkan kopi manis untukmu, ayah.

Aku seperti mimpi, ketika kabar duka itu datang melalui telephon pak RT di senja kala menjelang magrib waktu itu. “Dik, segera pulang, ayahmu mengalami kecelakaan, beliau sudah tidak ada”, begitu bunyi suara serak Pak RT di ujung telephon.

“Ah, tidak mungkin. Tidak mungkin secepat ini”, jeritku kalang kabut. Aku menangis sejadi-jadinya hingga teman-teman di kamar sebelah mengerubungiku. Hamid, teman sekampungku memeluk dan menepuk pundakku. “Aku turut berduka atas musibah ini, Tuhan telah menggariskan semuanya. Mari, kita bergegas pulang. Tabahkan hatimu”, bisikan Hamid membuatku sedikit berpikir jernih.

Pengurus asrama pondok mengantarkan kami pulang kampung. Sepanjang perjalanan, hatiku kalut, jiwaku remuk dan mataku tak henti-hentinya melinangkan air mata. Ayah, harapanku satu-satunya. Ia yang mengasuh hidupku sejak kecil pasca meninggalnya ibu saat melahirkanku di dunia. Beliau tetap setia hingga memutuskan tidak menikah lagi. Kini aku kehilangannya untuk selamanya. Secepat ini.

Tiba di rumah,  ku lihat bendera putih simbol lelayu teronggok lesu di depan rumah. Para tetangga, kerabat, dan sanak saudara yang sedari tadi menunggu kedatanganku langsung menoleh ke arah mobil kami. Begitu aku keluar dari mobil, pelukan paman Sartobi langsung menghampiriku.

“Kuatkan hatimu Nak. Masih ada Paman dan Bibimu di sini”, bisik paman. Aku terus melangkah cepat melewati beberapa pelayat yang memandangku dengan nelangsa. Begitu sampai ruang tamu, ku lihat sosok yang paling aku sayangi terbaring sepi. Dengan pilu, ku buka selubung yang menutupi wajahnya. Aku tidak kuat. Aku menangis disertai pening di kepalaku. Kemudian aku tak ingat apa-apalagi. Ya, benar. Aku pingsan.

***


Ayahku seorang pekerja keras. Sehari-hari, ia menjadi buruh tani di sawah Haji Dullah Kamari. Beliau juga beternak beberapa kambing sebagai pekerjaan sambilan. Jadi, ngarit adalah aktvitas rutin selain menggarap sawah.

Di mata tetangga dan warga kampung, ayahku adalah sosok yang dituakan. Maklum, ayah adalah tokoh agama dan imam mushola kecil di dukuh kami. Prinsip dan ajaran hidupnya soal agama tak bisa di tawar lagi. Mungkin karena sebab itu, setelah lulus sekolah dasar aku dikirimkan ke pondok pesantren.

Masih sangat hinggap dalam ingatan. Ketika ayah membangunkanku di pagi saat adzan shubuh berkumandang. Beliau yang menuntunku penuh kasih menuju pancuran bambu untuk berwudhu dan  melaksanakan shalat jama’ah di mushola tua dukuh kami.

Setelah itu, biasanya beliau menyuruhku belajar atau menggarap PR. Sementara ia sibuk di dapur menyiapkan sarapan sederhana sebelum aku berangkat sekolah. Dan yang tidak pernah terlupakan adalah nasehat beliau yang sering diulang-ulang “kamu harus jadi orang baik dan manfangat, nak. sekolah yang rajin”.

Sebuah petuah sederhana namun dalam akan makna. Dulu ayah juga pernah mengisi kultum di mushola yang mengajarkan tentang jenis-jenis manusia yang jumlahnya ada tiga. Pertama, adalah jenis manusia makruh. Yaitu manusia yang kehadiranya tidak memberikan apa-apa pada kehidupan. Ia adalah manusia pada umumnya, ada dan tidaknya ia tidak begitu penting bagi sejarah.

Jenis kedua adalah manusia haram. Ia yang kehadirannya di dunia justru menjadi bencana bagi sesama. Adalah manusia-manusia yang suka merugikan orang lain, bertindak kekerasan, membunuh, para pencoleng, bandit, koruptor dan para benalu hidup lainya.

Jenis manusia ketiga adalah manusia wajib. Dimana kehadiranya sangat bermanfaat bagi kehidupan sesama. Ia yang tanpa nir pamrih mengajarkan ilmunya. Manusia yang banyak memberi daripada penerima, para abdi negara, pahlawan dan juga lentera teladan kehidupan.

Contoh manusia wajib adalah kuli bangunan. Ia yang rela menghidupi keluarganya dengan nafkah yang halalan thayiban. Kehidupanya adalah pahlawan bagi keluarganya. Juga tukang ngarit seperti ayahku. Ia yang tetap setia dalam keterbatasan demi kasih sayang pada sang putra tunggal.
***

Malam ini, ku ingat kembali semua kisah dan kenangan bersama ayah. Sosok teladan hidupku. Kupandangi foto hitam putih yang sudah buram sebagai satu-satunya kenangan. Maafkan aku ayah, aku belum menjadi manusia baik dan bermanfaat seperti pesan ayah.

Dalam kesenduan dan kerinduan, ingin aku nyanyikan lagu titip rindu buat ayah karya Ebiet G. Ade :

Dimatamu masih tersimpan selaksa peristiwa
Benturan dan hempasan terpahat dikeningmu
Kau nampak tua dan lelah keringat mengucur deras
Namun kau tetap tabah...
Meski nafasmu kadang tersengal
Memikul beban yang makin syarat
Kau tetap bertahan
Engkau telah mengerti hitam dan merah jalan ini
Keriput tulang pipimu gambaran perjuangan
Bahumu yang dulu kekar legam terbakar matahari
Kini kurus dan terbungkuk..
Namun semangat tak pernah pudar
Meski langkahmu kadang gemetar kau tetap setia
Ayah.. dalam hening sepi kurindu
Untuk menuai padi milik kita
Tapi kerinduan tinggal hanya kerinduan
Anakmu sekarang banyak menanggung beban


Ya, benar sekali. Anakmu kini banyak menanggung beban.


Tempuran, 15 Maret 2015
Share:

Definition List

Unordered List

Support