Jurnal Wawasan dan Inspirasi Kehidupan

Bank Sampah, Manajemen Efektif Pengelolaan Sampah

Jangan pernah menganggap enteng masalah sampah. Ya, sampah kadang menjadi musuh paling serius dalam...

Budaya Sambat, Gotong Royong yang Mulai Luntur

Tanpa kita sadari namun sangat kita rasakan, banyak kebaikan dan kearifan yang hilang seiring berjalannya zaman. Dulu, jika..

Programer : Seniman Tingkat Tinggi?

Judul di atas mungkin terlalu “narsis” atau terkesan menempatkan programer pada derajat yang amat terpuji. Tapi agaknya itu yang

Membaca Soekarno, Soeharto dan Indonesia Kita

Kalau hanya untuk menghafalkan materi, tebak-tebakan soal, dan mempelajari keahlian tertentu, tidak usah pakai guru. Pakai komputer saja lebih hebat. Kalau sekolah hanya

Sebentar Lagi, Guru Akan Tersingkir?

Kalau hanya untuk menghafalkan materi, tebak-tebakan soal, dan mempelajari keahlian tertentu, tidak usah pakai guru. Pakai komputer saja lebih hebat. Kalau sekolah hanya menjalankan fungsi “pengajaran”, pakai komputer saja. Tidak usah dan tidak perlu bimbingan guru.

Tampilkan postingan dengan label Environment. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Environment. Tampilkan semua postingan

Mengurai Asap di Tanah Andalas


Malapetaka kabut asap  seolah menjadi penderitaan rutin di tanah andalas. Utamanya Riau, Bengkulu, Jambi, Sumatera Utara dan Sumatera Barat. Kebakaran hutan baik tanpa sengaja maupun disengaja adalah faktor utama  kabut  asap, bahkan sejak rezim terdahulu.

Ironisnya, kejadian terus berulang tanpa upaya antisipasi dari Pemerintah Daerah setempat. Respon yang lamban dari pemerintah baik pusat maupun daerah juga menjadi bumbu tersendiri  hingga persoalan asap merembet kemana-mana.

Di jejaring sosial twitter, hastag #MelawanAsap menjadi trending topic. Begitu juga video yang diunggah di Youtube tentang betapa gelisah dan terganggunya masyarakat di ujung Pulau Andalas. Kehidupan mereka abnormal. Penyakit gangguan saluran pernapasan (ISPA), hingga resiko kecelakaan akibat jarak pandang yang  sangat pendek, menjadi ancaman serius yang harus segera ditangani.
Mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melalui akun twitternya @S.B.Yudhoyono berkicau memberikan saran kepada pemerintah, bahwa untuk menangani masalah kebakaran hutan dan asap yang cukup kompleks. Diperlukan kepemimpinan, kesatuan komando, alat peralatan dan pengerahan petugas. Pencegahan dan tanggung jawab daerah penting. Reaksi cepat pusat penting. Hukum mesti ditegakkan dengan tegas bagi yang lalai dan membakar.

Memang, masalah kabut asap ini cukup pelik. Perlu dukungan dan kesadaran semua pihak untuk mencegah sekecil mungkin potensi kebakaran hutan di tanah Andalas. Baik warga yang hendak membuka lahan, perusahaan perkebunan, maupun “oknum” golongan yang punya kepentingan sehingga tega membakar hutan.

Sekarang, bukan waktunya salih menyalahkan dan lempar tanggung jawab. Mudah-mudahan, semua pemangku kepentingan baik Pemerintah Daerah, TNI, POLRI dan Pemerintah Pusat saling bersinergi mengatasi persoalan ini. Masyarakat setempat juga semoga tetap diberi kesehatan. Mari jaga lingkungan hidup untuk kedamaian Indonesia kita tercinta.

Author : Adi Esmawan, owner jurnalva.com


Share:

Darurat Lingkungan

Kondisi lingkungan hidup kita kian hari kian kritis dengan beragam faktor yang kompleks dan rumit. Laju jumlah penduduk, target pertumbuhan ekonomi, hingga hasrat konsumerisme gaya hidup membuat manusia dengan tanpa rasa bersalah “merusak” sarangnya sendiri, yakni bumi yang kita tinggali.  Kerusakan lingkungan hidup sudah nampak telanjang di depan mata. Dampaknya juga sudah dirasakan baik di musim hujan maupun kemarau panjang.

Perlu gerakan yang massif dan melibatkan seluruh komponen warga negara untuk melakukan penyelamatan di menit-menit terakhir. Mulai dari masyarakat umum, mahasiswa, dan para pemangku kepentingan harus “sadar diri” akan kondisi darurat penyelamatan lingkungan. Buang segala pragmatisme sempit yang mementingkan target pertumbuhan ekonomi dengan cara merusak lingkungan. Misalnya soal penambangan pasir, pembukaan hutan untuk lahan baru atau kawasan properti, penyulapan hutan lindung menjadi kebun kelapa sawit dan tindakan-tindakan bodoh lainya.

Meminimalisir penggunaan plastik kemasan juga merupakan bagian dari gerakan sadar lingkungan. Juga bangkitkan kembali mimpi satu orang menanam satu pohon. Jika program ini terwujud, maka di satu abad Indonesia yakni 2045 nanti, kita tidak khawatir kondisi lingkungan hidup di Indonesia semakin parah.

Di sekolah-sekolah, kegiatan penanaman pohon mudah-mudahan bukan hanya bersifat simbolis. Sehingga menanamnya hanya di momen-momen tertentu. Setelah itu, pohon yang ditanam tidak dirawat bahkan dibiarkan mati. Ini sama saja gerakan percumah.

Bumi bukan hanya untuk kita yang hidup hari ini. Seperti kata Gandhi : Bumi ini cukup untuk menghidupi manusia, tapi tidak akan pernah cukup untuk memenuhi keinginan-keinginannya. Manusia terlampau rakus dan ingin hidup serba mudah. Ya, dengan merusak lingkungan.

Sampai jumpa lain waktu.


Sumber foto : twitter milanasari
Share:

Selamatkan Sungai Damaikan Alam



Alam menyajikan fasilitas maha lengkap bagi kelangsungan hidup manusia. Diantara fasilitas istimewa adalah sungai. Di lain tempat ada yang menyebutnya “bengawan”. Masyarakat lebih banyak menyebutnya “kali”.

Selain berfungsi sebagai lalu lintas air dari hulu hingga hilir, sungai adalah sumber penghidupan bagi masyarakat, baik mereka yang bermukim di dekat Daerah Aliran Sungai (DAS), maupun penduduk yang tinggal jauh dari bantaran sungai.

Beberapa fungsi sungai diantaranya menjaga keseimbangan air, sanitasi air hujan, pengairan pertanian (irigasi), menunjang kehidupan keseharian manusia, potensi pariwisata, hingga sebagai sumber energi penghasil listrik melalui Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA).

Ironisnya, nasib sungai di negeri ini semakin tragis karena terus mengalami penurunan kualitas dari waktu ke waktu. Mulai dari pencemaran air sungai oleh berbagai limbah baik rumah tangga maupun industri, penyempitan badan sungai, pendangkalan sungai, hingga hilangnya sungai atau berubahnya sungai menjadi parit kecil penuh sampah.

Tentu saja, manusia adalah pihak yang paling bersalah atas kasus kerusakan sungai yang kian kritis. Akibat dari semua itu, kita lihat debit air sungai yang melimpah di musim penghujan sehingga menyebabkan banjir, dan kekeringan di musik kemarau. Belum lagi soal kejernihan air sungai yang kini berubah menjadi air comberan yang kotor dan tercemar.

Ekosistem air juga terancam kelestarianya. Dulu, saat memancing di sungai, kita dapat menemukan beberapa spesies ikan sungai seperti gabus, uceng, endong, mujair, melem dan sebagainya. Namun, keberadaan ikan-ikan khas sungai itu kini nyaris punah.

Perlu ada langkah nyata secara massif untuk menyelamatkan sungai. Mulai dari para pemangku kepentingan dan pemerintah yang harus menjadi inisiator gerakan penyelamatan sungai. Hal ini dapat dilakukan dengan menerbitkan kebijakan yang pro lingkungan dan tidak hanya berpihak pada pertumbuhan ekonomi. Penambahan program kegiatan pelestarian sungai terutama yang bersifat preventif (pencegahan).

Peran masyarakat juga sangat penting. Perlu kesadaran bersama untuk menjaga sungai tetap lestari. Airnya tetap mengalir begitu jernih dan keberadaanya tetap ada sebagai balance bagi keberlangsungan kehidupan semesta.

Kegiatan bersih-bersih sungai yang dilakukan secara rutin dan berkala juga sangat efektif dan terasa manfaatnya. Hal ini perlu mendapatkan dukungan dari seluruh elemen dan pemerintah.

Adanya Kongres Sungai Indonesia (KSI) yang akan digelar perdana di Banjarnegara pada Agustus 2015 harus menjadi momentum penting aksi nyata menyelamatkan kali-kali di seluruh penjuru negeri. Bukan hanya sekedar kegiatan mubadzir mengkampanyekan sungai sebagai magnet sektor pariwisata.

Salam inspirasi.

Author : Adi Esmawan, owner www.jurnalva.com


Share:

ETIKA LINGKUNGAN

Mungkin, kita bertanya-tanya dalam hati yang paling dalam, sejauh mana etika berpengaruh efektif bagi kehidupan modern ini? Ya, etika. Atau hampir sepadan dengan hukum moral (morals law).

Peru diketahui, bahwa etika atau moral hanya bersifat “kamu harus dan kamu jangan”, kemudian mengkategorikan pelakunya menjadi “orang baik dan orang tidak baik”. Hanya itu wewenang moral dan etika. Ia sama sekali tidak punya kuasa untuk menghukum pelanggar etika dengan ganjaran penjara apalagi hukuman denda. Sekali lagi, moral dan etika akan hanya menjadi omong kosong tanpa kepedulian masyarakat untuk tetap menganutnya sebagai hukum kebiasaan.

Lalu bagaimana dengan etika lingkungan? Dulu, waktu penulis kecil, orang-orang sepuh mengajurkan kami untuk berlaku “sopan” terhadap lingkungan. Mulai dari tidak buang air sembarangan di bawah pohon, tidak mengotori tempat tertentu, tidak mematahkan ranting tanpa guna, hingga larangan membunuh satwa dan menebang pohon. Entah itu karena alasan magis atau mistis. Yang jelas, semuanya adalah “hukum tidak tertulis” yang dengan penuh kearifan ditaati oleh masyarakat sekitar.

Bukan untuk menyembah pepohonan besar di tengah hutan, apalagi memuja dan menyajikan sesembahan seperti penganut paganis-animisme tempo dulu. Kita hanya mencoba menelaah, bahwa tradisi ternyata banyak menyisakan kearifan terhadap lingkungan. Di era modern yang mengedepankan materialis-hedonis sebagai panglima, bisakah etika moral terhadap lingkungan ini kita pertahankan?

Komitmen menjaga lingkungan harus melibatkan semua orang, semua pihak. Perlu kesadaran kolektif lintas lembaga. Menjaga hutan, lingkungan alam, pepohonan, satwa-satwa, dan sesama makhluk ciptaan Tuhan dengan berlaku “sopan” dan menghormati hak-hak mereka sebagai sesama penghuni bumi, adalah keniscayaan kita untuk membiasakan hidup berdampingan dengan sub human nature.

Semoga tulisan ini bukan hanya sekedar tulisan. Salam makna, salam inspirasi.


Adi Esmawan, Owner www.jurnalva.com
Share:

Hari Bumi dan Momentum Berbenah


Hari bumi mungkin bukanlah hari yang spesial atau istimewa. Selain karena tidak masuk sebagai hari besar nasional atau hari libur nasional, peringatan hari bumi setiap 22 April juga tidak menyajikan seremonial dan acara kebudayaan macam Hari Kartini-misalnya. Alhasil, sebagian besar kita membiarkan hari bumi hanya sekedar peringatan tanpa makna dan tanpa antusiasme apapun!

Kata “peringatan hari bumi”, setidaknya mengingatkan kita betapa bumi dalam kondisi semakin kritis. Tertandai dengan gejala alam yang sudah sedemikian tidak bersahabat dengan manusia,  iklim yang berubah tidak menentu, kualitas udara yang kian buruk, bencana, pemanasan global, dan menyusutnya sumber penghidupan semesta.

Dan, sebagai pemimpin semua makhluk hidup, manusia adalah pihak yang paling bertanggungjawab atas kronisnya bumi yang kian mengkhawatirkan. Mungkin karena manusia-nya yang kadung korup, rakus dan terlalu berhasrat kuasa, sehingga kelangsungan semesta harus tergadaikan oleh nikmat sesaat.

Tengoklah, ketika perut bumi dibor habis-habisan guna menyedot minyak mentah, dampaknya, tragedi lumpur lapindo bisa menjadi contoh. Pun, soal pengerukan tambang pasir dan kekayaan bumi lainya yang tidak diimbangi dengan upaya kelestarianya. Alhasil, malapetaka timbul dimana-mana.

Yang paling mengerikan adalah pembabatan hutan dan disulap menjadi areal properti. Atau lahan konservasi yang menjelma menjadi kawasan industri. Ini bukan lagi sekedar gelagat mengkhawatirkan, namun sudah lebih dari kejadian luar biasa kerakusan manusia.
Berkali-kali saya tegaskan, bahwa keseimbangan lingkungan tidak akan pernah bersinergi atau sejalan dengan logika pembangunan ekonomi. Kita, masyarakat dan manusia dihadapkan kepada dua pilihan : hidup sederhana dengan lingkungan yang seimbang, atau hidup serba dimudahkan oleh materi dan teknologi yang berbanding terbalik dengan keseimbangan lingkungan.

Dan, kita telah terlanjur memilih untuk hidup mudah dengan mengorbankan masa depan bumi. Selamat hari bumi.


Adi Esmawan, Owner jurnalva.com
Share:

Bank Sampah : Manajemen Efektif Pengelolaan Sampah

Jangan pernah menganggap enteng masalah sampah. Ya, sampah kadang menjadi musuh paling serius dalam kehidupan masyarakat. Pengelolaan sampah yang amburadul, tidak tertata atau asal-asalan, akan memicu kondisi lingkungan yang kumuh, tidak sehat dan menyebabkan malapetaka seperti banjir dan wabah penyakit pandemi (menular).

Di lingkungan padat penduduk misalnya, jika sampah rumah tangga dibuang sembarangan atau tidak ada manajemen pengelolaan sampah yang benar, maka bisa dibayangkan apa yang terjadi. Drainase penuh sampah, air comberan meluber,  lalat penyebab penyakit berterbangan,  wabah penyakit menyeruak, dan kondisi lingkungan hidup dipastikan : tidak layak.

Akhir-akhir ini, banyak solusi ditawarkan untuk setidaknya mengurai masalah sampah. Diantara yang paling efektif adalah konsep Bank Sampah atau menabung sampah. Lho kok?

Bank sampah adalah penampung sampah, kemudian dikelola sedemikian rupa agar sampah tersebut menghasilkan income atau nilai ekonomis. Masyarakat sekitar tinggal menyetor sampah dengan kategori dan klasifikasi tertentu. Pihak bank akan mencatat nilai rupiah tabungan sampah sesuai dengan kesepakatan.



Sampah rumah tangga yang sudah tidak memiliki nilai, dapat disulap menjadi sesuatu yang menambah income melalui bank sampah. Konsepnya sederhana, yaitu mengumpulkan sampah kemudian diolah menjadi sesuatu yang lebih berarti. Tentu saja proses pengelolaan itu dikelola oleh manajemen Bank Sampah. Ada beberapa orang yang harus mendedikasikan tenaga dan waktunya untuk menjadi pegawai bank sampah sekaligus pengepul sampah.

Mekanisme awal bank sampah adalah mengelompokkan sampah rumah tangga menjadi tiga, yakni sampah organik, anorganik dapat didaur ulang, dan anorganik tidak dapat di daur ulang. Jenis sampah yang boleh ditabungkan ke bank sampah adalah jenis sampah organik dan anorganik yang dapat didaur ulang. Sedangkan sampah tidak berguna (anorganik tak dapat didaur ulang) seperti plastik kemasan dan sterefoam sebaiknya diminimalisir penggunaanya.

Nah, untuk jenis sampah yang bisa ditabungkan seperti sisa-sisa makanan hasil limbah rumah tangga, dipisahkan tersendiri dan diolah menjadi bahan campuran pupuk kompos. Dapat juga dijadikan pakan ikan lele. Namun yang paling mudah adalah untuk campuran kompos.

Cara membuatnya, silahkan buat lubang agak besar untuk pengolahan. Siapkan bahan pembuatan kompos yakni jerami, rerumputan dan kapur gamping. Kemudian tinggal tambahkan limbah hasil rumah tangga dan juga kotoran ternak. Proses selanjutnya tinggal menunggu waktu untuk menjadi kompos.

Untuk  jenis sampah anorganik yang dapat didaur ulang seperti botol plastik, kardus, dan lain-lain, dapat disetorkan ke pengepul barang bekas atau diolah sendiri menjadi kerajinan. Namun cara paling mudah adalah menyetorkanya ke pengepul rongsok. Sekali lagi, semua kegiatan ini dilakukan oleh manajemen bank sampah. Masyarakat sekitar tinggal menyetor sampah dengan kategori dan klasifikasi tertentu. Pihak bank akan mencatat nilai rupiah tabungan sampah sesuai dengan kesepakatan. Dengan demikian, permasalahan sampah dapat sedikit ditanggulangi untuk meminimalisir pencemaran lingkungan hidup.



Author : Adi Esmawan, owner jurnalva.com
Share:

Earth Hour 2015 : Besok, Matikan Listrik Satu Jam!

Eart Hour atau Jam Bumi adalah tradisi memadamkan listrik selama satu jam pada hari sabtu di akhir bulan Maret. Kegiatan ini diikuti oleh berbagai kota besar, berbagai elemen dan komponen masyarakat di seluruh penjuru dunia. Bahkan, biasanya Google juga turut berpartisipasi dalam earth hour dengan menghitamkan background situsnya pada saat momentum eart hour.

Kegiatan jam bumi ini bertujuan untuk membangkitkan kesadaran akan kerusakan bumi yang sudah sangat kritis dan berdampak pada perubahan iklim. Dalam sejarahnya, tradisi Earth Hour pertama kali diselenggarakan pada tahun 2007 oleh World Wide Fund for Nature. Untuk tahun ini, peringatan Earth Hour jatuh pada Sabtu, 28 Maret 2015.


Mari turut berpartisipasi dengan mematikan listrik minimal selama satu jam, dimulai pada pukul 20.30 – 21.30 WIB. Selain berdampak pada penghematan listrik yang jika dihitung secara kolektif mengurangi pemakaian hingga jutaan mega watt, tradisi ini juga merupakan bentuk rasa sayang dan empati kita terhadap bumi yang kita tinggali.

Saatnya kita mengendapkan hati, menikmati keremangan malam dan bernostalgia mengunjungi masa lampau, masa yang belum ada jaringan listrik. Jika kebetulan cerah, anda akan melihat ribuan bintang dan satu rembulan yang menjadi tanda kemegahan semesta. Sekali lagi, tanpa neon dan terang cahaya bohlam.

Mungkin sangatlah sebentar, hanya satu jam, momentum untuk mengingat, merenung, dan berfikir mengenai kelanjutkan eksistensi bumi yang entah sampai kapan akan aman dan tetap nyaman ditinggali manusia. Sementara perilaku dan keadaban manusia justru berbanding terbalik dengan niat untuk memakmurkan bumi. Bukankah, kita adalah wakil Tuhan di muka bumi untuk menjaga, merawat dan melestarikanya?

Hanya satu jam di malam minggu besok. Sempatkanlah. Mulai dari mematikan lampu, kulkas, dispenser, televisi, radio, dan segala aktifitas yang berhubungan dengan listrik. Jangan lupa, bahwa pemakaian listrik adalah salah satu penyebab emisi, rusaknya lapisan atmosfer bumi dan berpengaruh pada keseimbangan lingkungan hidup (environment equilibrium). Gerakan sadar lingkungan dan efisiensi penggunaan listrik mutlak dikampanyekan. Ya, semuanya demi kelanjutkan bumi kita tercinta.

Jadi, sabtu malam minggu besok, pastikan ajak keluarga, sahabat, tetangga dan seluruh masyarakat Indonesia untuk mengikuti kebiasaan baik : earth hour 2015



Penulis : Adi Esmawan- Owner Jurnalva Media
Share:

Jurnal Kebudayaan : Memprediksi Dendam Alam


Ketika kita bangun di pagi hari, surya menyapa hangat di kaki langit memberikan cahayanya, adakah terbesit terima kasih pada alam dan Tuhan penguasa semesta? Kemudian menyadari, betapa megahnya alam ini dan kita berharap jangan biarkan damai ini pergi?

Sayang, manusia terlalu pongah dan angkuh. Hingga hasrat untuk berkuasa meluluhlantakan rasa malu dan memupuk subur budaya rakus. Lebih rakus daripada tikus sekalipun. Bumi ini diperkosa sampai lelah, terkikis habis oleh nalar konsumerisme dan industrialisasi.

Hutan dibabat habis. Disulap menjadi kawasan properti mewah atau deretan pepohonan sawit yang konon, pemiliknya adalah konglomerat dengan beking aparat. Tak jarang, konflik perebutan lahan terjadi disana-sini dan memakan korban nyawa manusia. Tapi itu dianggap tidak seberapa. Uang menjadi muara dari seluruh kepentingan.

Jalan tol dan pembangunan infrastruktur  lainya dikebut habis-habisan. Target pertumbuhan ekonomi dan trafic prestasi menjadi ambisi didorong nafsu yang aji mumpung. Ditambah dengan tumpah ruahnya kendaraan bermotor hingga ke pelosok sekalipun. Bumi menjadi bising, prungsang, gaduh dan semprawut oleh penguasaan manusia.

Tentu saja, tak ada seorangpun yang dapat membendung semua itu. Konsumerisme yang menasbihkan kenikmatan hanya untuk manusia dan seolah bumi ditakdirkan sepenuhnya untuk kebahagiaan manusia, adalah kenyataan dan kita menikmatinya. Kerusakan alam dan derita satwa, tetumbuhan, dan berjuta hayati lainnya, manusia tidak peduli. Falsafah yang penting happy sudah menjadi ideologi dan cara hidup.

Persetan dengan kearifan lokal, norma, moral, agama atau hasil kesepakatan para Kepala Negara Dunia yang termaktub dalam konvensi di Jenewa, Swis, beberapa tahun silam yang isinya adalah penyelamatan lingkungan. Semuanya hanya tulisan, teori, angin surga dan miskin implementasi.

Mungkin, lima atau sepuluh tahun kedepan. Merah hitam wajah bumi dan dendam alam akan lebih ganas membalas kepongahan manusia. Sekarang saja, dengan perubahan iklim yang tidak menentu, alam sedang menunjukan indikasi balas dendam. Dan manusia (kita), yang terlalo pongah, sombong dan kemaruk nafsu, hanya sebagian mahkluk yang lemah-tak berdaya jika alam sudah menunjukan sabdanya.


Penulis : Adi Esmawan, Pengasuh  www.jurnalva.com


Share:

Waspada Krisis Air, Berhematlah!

Kita semua tentu mafhum betul, betapa air adalah sumber kehidupan dan penghidupan yang sangat primer. Bayangkan, hidup manusia dan alam semesta tanpa ketersediaan air bersih.

Ironisnya, ketersediaan air bersih di bumi ini justru kian menipis. Di kota-kota besar yang sudah tidak ada resapan air karena semua tanah terlapisi beton, yang kita jumpai adalah krisis air. Di Jakarta, misalnya, air yang digunakan adalah air hasil rekayasa. Baik melalui water filter maupun campur tangan bahan kimia. Bukan air dari sumber mata air pegunungan. Apalagi di daerah pesisir. Air bagaikan barang berharga dan butuh perjuangan untuk memperolehnya. Pada tahun 2020 mendatang, bumi terancam krisis air bersih. Mengapa?

Pertama, kerusakan hutan semakin kronis. Hal ini menyebabkan penyerapan air hujan semakin menyusut dan mengurangi debit air tanah. Siklus hidrologi menjadi tidak seimbang karena air hujan akan hanyut ke sungai dan bermuara ke laut. Curah hujan akan mengalami peningkatan frekuensi namun penyerapan air oleh tanah justru semakin defisit. Hutan adalah jantung yang menopang ketersediaan air dan kerusakanya adalah malapetaka besar bagi manusia.

Kedua, penyerapan air tanah semakin berkurang akibat terlapisi oleh beton, semen, paving , aspal, atau properti lainya. Pembangunan pemukiman, jalan tol dan kemajuan peradaban telah membuat air menjadi kebingungan untuk singgah dimana. Hal ini diperparah dengan sistem drainase dan sanitasi yang buruk. Akhirnya, bukan sumber air dan kelestarian alam yang didapatkan. Melainkan bonus banjir tahunan dan krisis air bersih apalagi di musim kemarau.

Ketiga, frekuensi penggunaan/konsumsi air oleh manusia justru semakin meningkat. Karena faktor jumlah penduduk dan kemajuan industri, pemakaian air justru semakin jor-joran dan tanpa kendali. Baik untuk komersial, konsumsi sehari-hari dan lain sebagainya.


Untuk itu, kita wajib melestarikan lingkungan hidup dan menjaga ketersediaan air. Dimulai dari langkah sederhana untuk menghemat air, tidak menggunakan air PAM untuk mencuci kendaraan, dan menanam pohon di pekarangan anda. Lahan kritis di sekitar kita juga perlu diperhatikan.

Sekarang saja, konflik perebutan air bersih sudah menjalar dimana-mana. Maka dari itu, waspadalah. Ancaman krisis air bersih ada di depan mata!



Author : Adi Esmawan
Share:

MERAMAL NASIB BUMI DI WARSA 2020


Jumlah penduduk saban hari terus bertambah. Populasi manusia yang tumbuh dengan pesat ini, tentu saja membutuhkan ruang untuk tempat tinggal sekaligus lahan kehidupan. Dan kita mafhum betul, bahwa luas bumi ini tidak akan bertambah walau sejengkal. Sebaliknya, kerusakan lingkungan justru membuat bumi kita kian sempit, baik oleh kikisan air laut dengan bertambahnya garis pantai maupun tenggelamnya pulau seiring berjalan waktu.

Demi penghidupan manusia, berdasarkan rappid assesment yang dilakukan oleh Bank Dunia pada 2008 silam, tiap harinya sekurang-kurangnya 2 hektar lahan dibakar atau digusur untuk kepentingan manusia. Entah itu untuk membangun kawasan properti baru, untuk perkebunan, maupun pembangunan areal industri dan jalan tol.

Tidak bisa dipungkiri, bahwa manusia menghendaki semakin membaiknya kualitas hidup dan kesejahteraannya. Namun, mengesampingkan keseimbangan lingkungan hidup (environment equilibrium) akan merugikan manusia itu sendiri dalam jangka panjang.

Kita tidak tahu, bagaimana kondisi iklim dan cuaca di tahun 2020 mendatang. Apakah benar ramalan para ahli, bahwa ibu kota Jakarta akan tenggelam? Soal lumpur Lapindo di Sidoarjo yang belum berhenti menyemburkan lumpur. Soal erosi, abrasi, dan serangan hama pertanian akibat banyaknya penggunaan unsur kimiawi. Juga soal curah hujan yang entah bagaimana banyaknya akibat siklus hidrologi yang tidak lagi seimbang. Bencana-bencana  lain yang ditimbulkan akibat kerusakan lingkungan juga merupakan ancaman maha serius bagi kelangsungan hidup manusia.

Kita hanya bisa diskusi panjang dan menduga-duga, betapa ruwet dan kompleks permasalahan lingkungan di warsa 2020 mendatang. Mungkin langkah sederhana dengan tetap arif mencintai lingkungan dan terus berdo’a, adalah ikhtiar menjaga bumi agar tetap lestari.




Penulis : Adi Esmawan- Penggiat Lingkungan dan Kebudayaan
Share:

Sebuah Cerita tentang Kehidupan Pesisir

Jauh sepanjang mata memandang,  biru terhampar begitu megah. Ombak menggulung diantara laju waktu yang terus beradu cepat dengan kerasnya zaman. Sampan kecil bertenaga dayung terombang-ambing mesra diantara gemulai air laut. Nelayan  tua bersenjata pukat hela dan pukat tarik atau terkenal dengan sebutan cantrang begitu bersemangat mengunduh rezeki-Nya di belantara samudra.

Pak Kasmin nama nelayan itu. Hanya di lautlah harapan dan impian masyarakat pesisir seperti pak Kasmin dan ribuan nelayan kecil di Kabupaten Batang dan Pekalongan, Jawa Tengah. Bagian dari pantai  utara pulau Jawa  yang terbentang dari Banten hingga Jawa Timur.

Tapi, kehidupan tak begitu saja menyajikan kemudahan. Siapapun yang hidup, musuh-musuh kehidupan akan silih berganti menguji dan menantang bahkan dengan mentang-mentang. Anggapan bahwa masyarakat pesisir hidup dengan berkecukupan tidaklah sepenuhnya benar. Ya, benar. Berkecukupan bagi mereka yang punya koneksi dengan perusahaan besar, tengkulak atau makelar iklan. Sedangkan nelayannya?

Mereka hidup dalam kesederhanaan dan keterbatasan. Hidup di pesisir adalah pilihan untuk berjuang dengan keras seperti karang yang harus tahan gempuran zaman. Para nelayan kecil bukan hanya bergelut dengan ombak pasang dan gempuran badai di tengah laut. Namun, mereka harus berhadapan dengan jaringan korporasi perusahaan penangkapan ikan, tengkulak besar, maling ikan dari luar negeri dengan beking-beking dan cukong-cukong.

Tidak jarang, akhirnya para nelayan kecil itu memilih mengabdikan diri untuk bekerja pada perusahaan besar yang tentu saja tidak mau rugi dan harus untung besar. Belum lagi soal rentenir dan makelar ikan yang bergentayangan laksana hantu-hantu penghisap darah.

Adalah kabar gembira yang membangkitkan harapan, setelah Presiden ketujuh  Republik ini menunjuk juragan ikan, Susi Pudjiastuti sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan. Ibu Susi yang juga CEO dan Owner maskapai  penerbangan Susi Air,  tentu saja haqul paham tentang bagaimana sejatinya kehidupan pesisir.

Ketika terbit peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 2 tahun 2015 tentang larangan penggunaan alat tangkap ikan cantrang atau penggunaan pukat hela dan pukat tarik, ribuan nelayan di  pesisir pantai utara Jawa Tengah menjerit dan protes keras. Mereka bahkan sempat berdemo dan turun ke jalan.

Tentu saja, Menteri Susi Pudjiastuti sudah punya pertimbangan yang matang dan kalkulasi yang cukup atas terbitnya peraturan menteri ini. Pertimbangan lingkungan, ekosistem laut, hingga soal pemakaian bahan bakar bersubsidi. Dan sudah biasa, jika kebijakan menuai pro dan kontra.

Bagi nelayan, kebijakan tersebut adalah sangat memberatkan atau bahkan membunuh pendapatan nelayan. Mereka yang sedang kesulitan justru dilipatgandakan kesulitanya dengan peraturan menteri ini. Adalah langkah bijak, jika pelarangan kapal cantrang dipaketkan dengan solusi jitu  atau alternatif lain untuk mengalihkan kepada alat yang tidak merugikan. Artinya, mengatasi masalah, tanpa masalah. Bukan malah menumbuhkan masalah baru.

Akibat penolakan nelayan itu, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menulis surat kepada Menteri Pudji Astuti agar wilayah Jawa Tengah diberi kelonggaran soal pemberlakukan pelarangan ini. Alasanya, demi kesejahteraan nelayan dan tidak menimbulkan bara panas yang dapat mengganggu kestabilan kehidupan pesisir.

Akhirnya, kembali kita simpulkan. Bahwa hasrat pembangunan ekonomi dan mensejahterakan kehidupan manusia selalu bertentangan dengan teori menjaga keseimbangan lingkungan hidup. Tinggal pilih, mau meningkatkan kesejahteraan dan membuat hidup lebih baik dengan mengorbankan environment equilibrium atau tetap hidup sederhana bersama alam.


Penulis : Adi Esmawan - Aktivis Lingkungan Hidup
Share:

Menyelamatkan Bumi di Menit Terakhir



Bumi yang kita tinggali ini semakin renta. Perubahan iklim yang ditimbulkan oleh kerusakan alam nyata di depan mata. Negara-negara adikuasa yang menyumbang emisi gas kaca dan memiliki andil terbesar pada kerusakan bumi tetap saja jumawa tak merasa sedikitpun berdosa.

Lalu salah siapa, kalau bukan manusia. Bumi yang kita tinggali telah memberikan semuanya. Sumber penghidupan, kenyamanan, dan kesempatan untuk berbagi kasih. Tapi tetap saja. Manusia pongah dan terus membangun mimpi-mimpi kemudahan hidup dengan mengabaikan keseimbangan lingkungan hidup (environment equilibrium).

Kemajuan pembangunan tidak akan pernah bersinergi dengan kemauan alam. Artinya, kemajuan adalah kemunduran dan kerusakan lingkungan hidup. Mungkin ada beberapa hal yang bisa disiasati, misalnya soal Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDL) bagi para perusahaan yang mengeksploitasi dan mengesplorasi alam.

Tapi, hasrat  manusia selalu kemaruk dan tamak pada kenikmatan yang menyesatkan. Ketika kita jumpai sepeda motor tumpah ruah  menyesaki jalan, maka dada kita seharusnya ikut sesak. Betapa pertumbuhan ekonomi adalah kemunduran lingkungan. Pun, ketika kita jumpai rumah-rumah megah dan hutan disulap menjadi properti mewah, seharusnya kita ikut gelisah. Kemajuan, ataukah kemunduran?

Hidup sederhana dan memberikan hak bagi alam untuk tetap lestari, adalah solusi yang setidak-tidaknya bisa  menyelamatkan bumi ini di titik-titik akhir. Karena hampir sudah tidak ada waktu lagi untuk berlena. Sementara ancaman bencana dan kerusakan kehidupan nampak jelas di pelupuk mata.

Negara-negara digdaya yang harus ikut bertanggung jawab atas kerusakan bumi. Bagaimana tidak, ketika mereka melarang negara berkembang membuang polusi dan mengurangi emisi, padahal sumber polusi dan emisi adalah mereka!

Negara-negara maju melarang penebangan hutan di negara berkembang, sementara  negeri mereka hutan-nya sudah dibabat habis untuk proyek industri, lelucon macam apa lagi ini?

Tapi persetan dengan mereka. Langkah individu akan menjadi langkah massif dan mengubah dunia. Kurangi penggunaan bahan plastik yang sulit diuraikan, efektifkan penggunaan listrik dan BBM, serta ajak keluarga dan tetangga untuk tanam pohon di lahan kritis. Semoga, ikhtiar ini akan menyelamatkan bumi kita di menit-menit akhir, bahkan, detik terakhir!

Penulis : Adi  Esmawan - Penggiat Lingkungan Hidup




Share:

Betapa Memprihatinkanya Hutan Kita

Pohon puspa (Schima wallichii) itu terduduk sendiri. Seolah menjerit tanpa suara. Kiri-kanan hanya tampak tonggak kayu bekas tebangan  dan rerumputan kering  yang sengaja di bakar.  Tunas-tunas kecil pepohonan liar tampak sekarat tak tertolong.

Begitulah gambaran hutan alam di pulau Jawa yang kian kritis. Tidak beda halnya kondisi hutan di Sumatera, Kalimantan, bahkan Papua. Hutan yang terawat hanyalah hutan produksi seperti hutan pinus, akasia, atau albasia.

Selebihnya, hutan telah disulap menjadi perkebunan dan pemukiman. Padahal, dunia sangat bergantung pada kondisi hutan Indonesia.
Program Rehabilitasi Kawasan Lindung (RHL), reboisasi, ataupun konservasi hanya berhasil sekitar 40%. Sementara faktor penyebab kerusakan hutan seperti pertumbuhan penduduk, bencana alam, perluasan perkebunan, dan kebakaran hutan semakin kronis dan sulit dibendung.
Salah satu solusi yang bisa diharapkan adalah mencanangkan program tanam pohon secara massif dan berkesinambungan. Sasaran program adalah sekolah, instansi pemerintah, dan masyarakat perdesaan.
Masyarakat bahkan dunia perlu diingatkan betapa fatalnya akibat yang ditimbulkan oleh kerusakan hutan. Perlu juga dikampanyekan betapa pentingya hutan bagi kehidupan semesta. Mulai dari ketersediaan oksigen, ketersediaan air, keseimbangan lingkungan hidup, pencegah bencana alam, perlindungan satwa dan flora, hingga perlindungan kehidupan dari pemanasan global.

Bumi semakin kritis. Bumi yang sebenarnya mampu untuk menghidupi manusia, tetapi tidak pernah sanggup untuk memenuhi ambisi-ambisinya.

Semoga bermanfaat
Share:

Langkah Sederhana Untuk Menjaga Alam tetap Lestari

Pertama, hematlah menggunakan listrik

Hemat menggunakan listrik di rumah adalah upaya sederhana menjaga bumi agar tetap lestari. Lho kok, apa hubunganya? Jelas, listrik menggunakan bahan bakar sebagai sumber daya untuk menghasilkan listrik pada pembangkit listrik seperti PLTA. Apakah itu batu bara, gas, atau bahan bakar minyak (BBM). PLN saja sampai menunggak untuk membayar BBM ke Pertamina. Menghemat listrik juga akan mengurangi emisi gas dan karbon yang akan membuat alam dan bumi tetap lestari

Kedua, hematlah menggunakan BBM

Jelas, menghemat BBM akan mengurangi polusi dan emisi yang ditimbulkan oleh proses pembakaran. Jadi mulai saat ini, kurangilah penggunaan kendaraan bermotor jika tidar terlalu mendesak.


Ketiga, back to nature

Langkah ketiga adalah kembali ke alam. Maksudnya, minimalisir penggunaan bahan-bahan dari industri yang menimbulkan dampak lingkungan. Seperti detergen, pembersih lantai, kulkas, makanan instan dan lain sebagainya

Keempat, Bencilah perusak dan kerusakan Lingkungan

Ini yang harus kita lakukan. Kita harus membenci tindakan membuang sampah di sungai dan alam terbuka. Kita harus benci pengrusakan hutan. Dan lakukan pencegahan semampu kita.
Mari, jaga alam ini agar tetap lestari.

Share:

Akankah Alam ini Tetap Lestari?

(jurnalva.com)
Judul di atas setidak-tidaknya menjadi renungan bagi kita. Tuhan telah menitipkan kita di bumi yang megah, indah, dengan segala kebutuhan dan sumber penghidupan. Namun melihat kondisi kerusakan lingkungan hidup yang kian memprihatinkan, kita akan bertanya-tanya : akankah alam ini tetap lestari?

Hanya waktu yang akan menjawab. Namun demikian, sebagai bentuk terima kasih terhadap bumi dan upaya sederhana menjaga alam agar tetap lestari, kita harus bertindak! Kita tentu tidak mau disalahkan sejarah, karena bumi ini bukan hanya milik kita, tapi anak cucu kita kelak yang akan mewarisi dengan segenap permasalahan yang telah kita tinggalkan


Share:

Wow! Fakta Mengejutkan tentang Sampah Plastik

Setiap hari, hampir pasti kita selalu membeli sesuatu di toko, minimarket, kaki lima, atau warung langganan kita. 
Bagi anak-anak yang masih sekolah dan hoby ngemil, sudah dipastikan saban hari  nongkrong di kantin untuk melahap cemilan kesukaan. Nah, pertanyaan saya, berapa plastik yang anda habiskan dalam satu hari? Dibuang kemana plastik kemasan yang sudah tidak digunakan lagi?

Jangan-jangan, dengan tanpa malu-malu kita buang sampah plastik ke got, drainase, halaman sekolah, jalan, trotoar atau di pekarangan orang lain? Lebih parah lagi dibuang di sungai dan lahan pertanian produktif? Atau dibakar?

Ada fakta mengejutkan di balik sampah plastik. Indonesia adalah penyumbang sampah plastik terbesar kedua di dunia. Wow! Prestasi yang miris bukan? Padahal, perlu waktu ribuan tahun untuk menguraikan sampah bernama plastik itu.

Mari kita merenung, jika setiap hari satu orang warga membuang sedikitnya dua sampah plastik, berapa ribu sampah yang terproduk setiap hari. Di ibukota Jakarta misalnya, setiap hari sampah yang terkumpul sedikitnya 30 meter kubik atau ukuran setengah candi Borobudur.

Sampah plastik memberikan dampak linkungan yang sangat buruk. Adalah banjir langganan, sungai yang kotor (tercemar), lahan pertanian rusak, menyebarnya penyakit, global warming, menimbulkan bau yang tak sedap dan seabrek masalah lain yang ditimbulkan oleh sampah plastik.
Konsekuensi paling serius dari penggunaan plastik adalah perubahan iklim yang terjadi di dunia. Sampah plastik, emisi gas kaca, dan penebangan hutan adalah penyebab bumi yang kita tinggali ini semakin kronis.

Nah, mari kita jadi agen perubahan. Memulai langkah kecil yang kita mampu dengan tidak membuang sampah plastik sembarangan, mengurangi penggunaaan kemasan plastik dan memilih menggunakan kemasan lain yang lebih ramah lingkungan seperti tas kain atau kantong bekas kemasan beras.

Salam Perubahan!


Adi Esmawan, Pebruari 2015
Share:

Definition List

Unordered List

Support