Jurnal Wawasan dan Inspirasi Kehidupan

Bank Sampah, Manajemen Efektif Pengelolaan Sampah

Jangan pernah menganggap enteng masalah sampah. Ya, sampah kadang menjadi musuh paling serius dalam...

Budaya Sambat, Gotong Royong yang Mulai Luntur

Tanpa kita sadari namun sangat kita rasakan, banyak kebaikan dan kearifan yang hilang seiring berjalannya zaman. Dulu, jika..

Programer : Seniman Tingkat Tinggi?

Judul di atas mungkin terlalu “narsis” atau terkesan menempatkan programer pada derajat yang amat terpuji. Tapi agaknya itu yang

Membaca Soekarno, Soeharto dan Indonesia Kita

Kalau hanya untuk menghafalkan materi, tebak-tebakan soal, dan mempelajari keahlian tertentu, tidak usah pakai guru. Pakai komputer saja lebih hebat. Kalau sekolah hanya

Sebentar Lagi, Guru Akan Tersingkir?

Kalau hanya untuk menghafalkan materi, tebak-tebakan soal, dan mempelajari keahlian tertentu, tidak usah pakai guru. Pakai komputer saja lebih hebat. Kalau sekolah hanya menjalankan fungsi “pengajaran”, pakai komputer saja. Tidak usah dan tidak perlu bimbingan guru.

Tampilkan postingan dengan label Tokoh Inspiratif. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh Inspiratif. Tampilkan semua postingan

Andri Rizki Putra : Ganteng, Cerdas, Jujur dan Menginspirasi

Umumnya anak muda masa kini, Ia lebih fokus memikirkan dunianya sendiri dan masa depannya sendiri. Bahkan, konsep sesat “yang penting happy” sudah mewabah sedemikian parah di kalangan generasi muda Indonesia.

Apalagi mengaitkan pemuda dengan “kebobrokan” sistem pendidikan di negeri ini. Lengkap sudah. Mulai dari karut-marut kurikulum, komersialisasi pendidikan, tawuran pelajar /mahasiswa, jual-beli ijazah, skripsi palsu, plagiarisme, hingga suap menyuap dalam dunia pendidikan.

Kebanyakan dari pelaku pendidikan justru menyingkirkan jauh-jauh spirit kejujuran yang sebenarnya adalah ruh dari pendidikan itu sendiri.

Di tengah mewabahnya virus ketidak-jujuran yang melanda anak bangsa tersebut, muncul sosok pemuda yang bertindak di luar kebiasaan. Ia bahkan menggebrak keadaan dengan memberanikan diri melawan arus ketidakjujuran. Ia adalah pemuda tampan bernama Andri Rizki Putra.

Ketika profil anak muda ini dimuat  majalah Detik, mengundang rasa penasaran saya untuk menelisik lebih jauh, siapa sebenarnya sosok Andri Rizki Putra.

Ternyata, sungguh menakjubkan. Andri Rizki Putra adalah sosok yang layak untuk dijadikan inspirasi, khususnya bagi para kawula muda. Peraih penghargaan Kick Andy Young Heroes 2015 ini telah menorehkan kontribusi nyata bagi kemajuan anak bangsa.

Kisah itu bermula dari kekecewaan Rizki pada sekolahnya yang justru menyuruh peserta didik untuk menyontek saat Ujian Nasional. Saat itu, Ujian Nasional  adalah momentum yang menegangkan, dimana reputasi sekolah dan kelulusan siswa adalah segalanya. Jangan heran, jika kebanyakan sekolah menghalalkan segala cara agar peserta didiknya dapat lulus seratus persen. Ini bahkan hal yang lumrah, kesalahan yang dianggap sudah biasa.

Tapi nurani seorang Andri Rizki Putra tidak menerima ini. Ia berontak, membenci ketidakjujuran. Baginya, pendidikan tanpa kejujuran seperti “omong kosong”. Dalam acara talk show Kikc Andy, ia menyatakan telah mengadukan masalah pencontekan masal ini ke Kepala Sekolah. Namun hasilnya nihil. Ia justru dikucilkan dan dianggap pahlawan kesiangan.

Karena itu, ia semakin kecewa dan kehilangan kepercayaan pada institusi pendidikan. Setelah lulus dari SMP,  pemuda kelahiran Oktober 1991 ini mutung dan hanya mampir di bangku SMA selama dua bulan. Ia memutuskan drop out alias hengkang dari bangku SMA.

Setelah itu, ia mutuskan belajar sendiri secara otodidak, dengan referensi di internet dan buku-buku bekas yang Ia pinjam dari tetangga. Ia rangkum seluruh pelajaran, belajar habis-habisan dan tanpa guru. Ini metode belajar yang sungguh tidak lazim dan ajaib. Meski mengaku sempat stres, Rizki tidak patah arang.

Al hasil, hanya butuh waktu satu tahun bagi pria pemilik senyum manis ini untuk mengikuti ujian kesetaraan Paket C/ setara SMA yang diselenggarakan Kementerian Pendidikan Nasional. Artinya, ia hanya butuh satu tahun untuk menamatkan Paket C setara SMA.

Tidak berhenti di situ. Rizki kemudian mengikuti Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) di Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Ia bersaing dengan peserta SNMPTN di seluruh Indonesia secara jujur dan dinyatakan diterima. Dekan Fakultas Hukum UI sampai geleng-geleng kepala, ada lulusan Paket C diterima di Fakultas Hukum UI. Dan, hanya butuh waktu 3 tahun untuk meraih gelar Sarjana Hukum dari UI dengan predikat Cumlaude. Luar biasa.


Lebih mengaggumkan, sebagai bentuk kendulianya kepada pemuda dan anak-anak yang tidak bisa menempuh sekolah formal, Andri Rizki Putra tergugah hatinya untuk mendirikan Yayasan yang ia beri nama Yayasan Pemimpin Anak Bangsa (YPAB). Ia menyediakan pendidikan kesetaraan paket A, B, dan C bagi mereka yang tidak  memiliki kesempatan menempuh pendidikan di sekolah formal. Mulai dari asisten rumah tangga hingga pengangguran dapat belajar di YPAB secara gratis.

Kini, media ramai memberitakan Andri Rizki Putra sebagai inspiring person. Acara talk show dan seminar ramai-ramai mengundangnya sebagai narasumber. Ia juga mengarang buku berjudul “Orang Jujur Tidak Sekolah”. Ada-ada saja.

Di tengah kebanyakan pemuda yang lebih banyak menuntut ini dan itu, Andri Rizki Putra justru memberikan contoh bahwa Ia lebih banyak memberi daripada menerima. Ia yang menjadikan kejujuran sebagai ruh dan spirit bagi kehidupan. Bisa jadi, Andri Rizki Putra adalah calon pemimpin yang layak untuk diperhitungkan.

Author : Adi Esmawan, owner jurnalva.com
Sumber artikel    : Majalah Detik, Acara Tlak Show Kick Andy

Sumber Gambar : www.google.com
Share:

Ini Dia Tokoh Paling Berpengaruh Dunia 2015

(Vladimir Putin dan Mantan Presiden SBY)
Majalah terkemuka Amerika Serikat, Time, kembali merilis tokoh-tokoh paling berpengaruh di dunia. Adalah Presiden Rusia Vladimir Putin, yang dinobatkan sebagai orang berpengaruh nomor wahid pada tahun 2015 ini. Posisi Putin mengalahkan beberapa nama terkemuka seperti Presiden AS Barack Obama dan pemimpin umat Katholik Paus Fransiscus.

Dinobatkanya Putin sebagai tokoh paling berpengaruh bukan tanpa alasan. Presiden Rusia ini dianggap telah membangkitkan kembali  mimpi kejayaan Uni Soviet di abad 21. Seorang visioner dan ahli strategi politik, ekonomi dan dianggap memihak kaum proletar atau rakyat kecil.

Pribadi Presiden Putin juga dianggap sebagai tokoh yang memiliki karakter kuat, diantaranya adalah dikenal sebagai pribadi jujur, tegas, bukan pemabuk, dan pandai dalam jagad bela diri.

Dalam percaturan politik dunia, Vladimir Putin berikut kebijakan Rusia sangat berpengaruh dalam gonjang-ganjing kondisi keamanan dan isu strategis negara-negara di dunia. Jalinan hubungan yang mesra dengan negara pengembang nuklir macam Iran, sedikit banyak mempengaruhi suhu politiknya dengan Amerika Serikat. Dalam dunia pemberitaan, Putin begitu penting dan sakral. Terbukti, sikap dan keputusan Kremlin sangat dinantikan oleh media raksasa seperti CNN.

Ekonomi Rusia juga tumbuh pesat pasca runtuhnya Uni Soviet pada warsa 1991. Vladimir Putin benar-benar tokoh kuat Rusia dengan integritas cemerlang, mengigat Putin terpilih dua kali sebagai Presiden Rusia. Jadi, sangat layak mendapatkan gelar tokoh paling berpengaruh dunia tahun 2015.

Di jajaran sepuluh besar,  kebanyakan diisi oleh tokoh yang populer  di dunia entertainment atau keartisan seperti groub band perempuan Korea 2NE1known dan penyanyi populis Lady Gaga. Pengaruh yang ditimbulkan oleh industri hiburan tentu kalah bergengsi dengan pengaruh yang disebabkan karena karir politik dan kekuasaan.

Majalah Time dan responden yang menentukan tokoh berpengaruh melalui voting dianggap memiliki integritas terbaik sepanjang masa. Menurut mereka, yang terpilih tidak harus orang baik. Terbukti, nama Adolf Hitler dan tokoh Islam kontroversial  dari Iran Ayatullah Ali Khomeini pernah dinobatkan sebagai man of the year oleh majalah Time.


Author : Adi Esmawan, owner jurnalva.com
Share:

Membaca Sumbangsih SBY di Panggung Indonesia


Presiden RI ke-enam, Letnan Jenderal TNI (Purn) Prof. Dr. H Susilo Bambang Yudhoyono adalah sebuah teks abadi dalam catatan sejarah bangsa Indonesia. Membaca beliau, kita akan dapati sosok inspiratif yang nyaris di semua bidang. Mulai dari teladan kepemimpinan, pengendali stabilitas ekonomi (yang terbukti berhasil), pencetus kebijakan pendidikan terbaik (dana BOS), politisi yang santun dan berwibawa, hingga kepakaran beliau dalam bidang pertanian, pertahanan, hukum dan keamanan. Lembaga akademik, survei, dan dunia internasional telah mengakui berikut dalil dan bukti nyata.

Tulisan kecil dari orang kecil ini tentu tidak sanggup untuk mereview apalagi mengulas tuntas kiprah dan prestasi Pak SBY selama memimpin republik ini dalam satu dasa warsa (2004-2014). Namun, berikut kami kupas “membaca SBY” secara substansial sebagai bahan inspirasi.

1.   Teladan Kepemimpinan

Membaca SBY dalam hal kepemimpinan, kita disuguhi sosok figur leader yang begitu anggun dan istimewa. Maklum, SBY adalah peraih Bintang Adhi Makayasa tahun 1973, penghargaan level tertinggi  atau lulusan terbaik akademi militer yang memadukan prestasi akademik, fisik dan mental. Jadi, bakat beliau di bidang kepemimpin sudah teruji.

Selama dua periode menjadi Presiden RI, SBY selalu menunjukan diri sebagai pemimpin yang tenang, cermat, dan sangat hati-hati dalam mengambil keputusan. Pengalaman di dinas militer tentu sangat berpengaruh pada strategi kepemimpinan. Jadi, tidak grusa-grusu dan waton tumindak (asal bertindak). Anehnya, kadang publik justru menganggap pak SBY adalah pemimpin yang lamban dalam mengambil keputusan. Perlu diketahui, bahwa pengambilan keputusan seorang pemimpin harus mengkalkulasi sebab dan akibat dengan matang. Tidak bisa asal ketok palu kebijakan.

Dalam menghadapi oposisi (lawan politik), dan juga kritikan dari media, SBY. lebih mengedepankan sikap terbuka dan persuasif. SBY tidak pernah anti kritik apalagi sampai membungkam lawan politik dengan kekuasaan. Beliau membuka keran demokrasi yang selebar-lebarnya sehingga demokrasi di Indonesia terus tumbuh menuju arah kemapanan. Meskipun, ada hambatan dan kekurangan di sana-sini.



2.   Pengendali Stabilitas Ekonomi

Hingga akhir masa jabatan pada Oktober 2014, pemerintahan SBY – Boediono membukukan catatan pertumbuhan ekonomi yang baik, yakni di atas lima persen. Pengendalian inflasi di masa SBY – JK dan SBY – Boediono cukup baik, karena lonjakan kenaikan harga bahan pokok masih dalam taraf yang wajar dan selaras dengan peningkatan pendapatan masyarakat.

Sektor riil dan UMKM tumbuh pesat selaras dengan semakin banyaknya pengusaha di bidang ekonomi kreatif dari tahun ke tahun. Penurunan angka kemiskinan yang dilansir oleh Badan Pusat Statistik (BPS) juga menunjukan trafik yang menggembirakan.

Program pemberdayaan masyarakat yang terangkum dalam Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri (PNPM), juga secara umum dinilai berhasil dan manfaatnya langsung dirasakan oleh rakyat kecil.

Di mata dunia, ekonomi Indonesia sangat diperhitungkan. Indonesia mampu melewati badai krisisi di tahun 2008 meski menyisakan skandal Bank Century yang masih bias penyelesainya hingga kini. Namun kita semua sepakat, bahwa SBY telah membawa ekonomi Indonesia dalam pertumbuhan yang wajar dan sangat stabil.


3.   Kebijakan Pendidikan

Sertifikasi Guru dalam Jabatan dan Bantuan Operasional Sekolah (BOS), adalah sisa kebijakan mantan presiden SBY yang hingga era Pemerintahan Jokowi masih diteruskan. Kebijakan ini memberikan warna dan arah baru pada dunia pendidikan kita. Mulai dari ethos kerja guru dan kesejahteraan guru yang terus meningkat hingga sekolah gratis karena sudah ditanggung oleh biaya BOS. Meskipun, kebijakan ini juga menuai kontroversi dan kritik dari berbagai kalangan.




4.   Politisi yang Santun dan Berwibawa

Gaya komunikasi dan politik SBY selalu dalam tataran yang santun, lembut, dan sarat muatan edukasi politik bagi rakyat. Karena, baik dihadapan publik maupun media, SBY tidak pernah menggunakan bahasa yang melabrak etik apalagi norma kesusilaan.
 
SBY & BIIL GATES


Jika beliau menanggapi ataupun melontarkan kritik pada lawan politik, pasti selalu dikemas dengan bahasa yang etik dan berwibawa. Sayangnya, gaya komunikasi politik seperti ini dianggap sebagai lebay dan hobi curhat.

Padahal, kesantunan dan kelembutan dalam gaya politik adalah ciri khusus (identitas) dari para pemimpin Indonesia yang menjunjung tinggi budaya ketimuran.


5.   Kepakaran dalam Bidang Pertahanan, Hukum dan Kemanan
Soal pertahanan, hukum dan keamanan (Hankumkam), mantan Presiden SBY tidak perlu diragukan lagi. Beliau dikukuhkan sebagai guru besar (Profesor) bidang pertahanan pada Universitas Pertahanan Nasional. Tercatat pula, kurang lebih sepuluh kali beliau mendapatkan gelar doktor kehormatan (Doctor Honoris Causa) dari berbagai perguruan tinggi ternama baik di dalam maupun di luar negeri.

Secara nyata, kebijakan pertahanan di masa SBY cukup positif, ditandai dengan peningkatan anggaran pertahanan untuk Alutsista yang ditambah jumlahnya dari tahun ke tahun. Di bidang hukum, aspek penegakan hukum dan pemberantasan korupsi cukup baik. Sementara di bidang kemanan nasional, cukup memberikan ketenangan dan ketentraman umum. Peristiwa dan insiden yang membahayakan keamanan nasional memang ada, namun tidak sampai mengguncang kehidupan berbangsa dan bernegara.

Tanpa terasa, kepemimpinan era Susilo Bambang Yudhoyono telah paripurna pada Oktober 2014 silam. Ada plus dan juga minusnya. Sebagai putra terbaik bangsa, beliau telah memberikan apa yang bisa diberikan dengan sebaik-baiknya. Terima kasih pak SBY. Meski sudah terlambat, kalimat “sepuluh tahun yang membanggakan” tetap akan tersemat dalam sudut sejarah semesta.


Penulis : Adi Esmawan- Rakyat Kecil. Owner jurnalva.com

Referensi :
id.wikipedia.org


Sumber gambar : www.google.com 
Share:

Membaca Soekarno, Soeharto dan Indonesia Kita

Indonesia  telah menapaki tangga demi tangga  sejarah hingga hari ini. Dalam kehidupan yang riuh, peradaban dunia yang angkuh, Indonesia menempatkan diri dalam percaturan politik dunia. Tapi catatan waktu perjalanan bangsa ini tidak akan pernah melupakan dua nama besar pemimpin negeri , yakni Soekarno dan Soeharto. Keduanya adalah bagian dari perjalanan  bangsa ini, lengkap dengan jasa dan alpa.

Di era reformasi kini, banyak dari kita yang tidak begitu jernih memandang sejarah. Sehingga hobi sekali mencari cela, salah dan dosa para pemimpin kita sendiri. Bumbu-bumbu kepentingan, golongan, gerbong partai, ideologi dan pandangan berfikir kadang membuat kita tidak adil dalam menempatkan dua tokoh besar bangsa ini. Mari, kita membaca Soekarno, Soeharto dan Indonesia kita dengan mencoba sejernih dan seadil-adilnya.

Nama besar Presiden RI pertama, Achmad Soekarno atau yang lebih populer dengan sebutan Bung Karno tidak akan pernah terkikis oleh laju sejarah. Seorang visioner dengan gagasan cemerlang, dan nasionalisme yang tinggi ini terlahir di kota Blitar, Jawa Timur. Julukan  Putra Sang Fajar melekat pada diri beliau karena keajaiban konsep yang dibawanya.

Pada masa penjajahan, konsep menakjubkan yang ditunjukan Soekarno adalah sidang terkenal saat orasi dihadapan majelis hakim yang terkenal dengan sebutan “Pledoi Bung Karno”. Inilah awal kepemimpinan beliau mendapat sorotan di mata para penggagas berdirinya NKRI.

Soekarno adalah ikon Indonesia, mungkin hingga detik ini. Sumbangsihnya bagi bangsa tidak perlu diragukan lagi. Namun, sejarah harus berlaku adil. Kita tidak bisa menganut faham kultus individu dengan menempatkan figur tanpa cela. Agar generasi dapat belajar dan mengambil inspirasi.

Ya, di balik kebesaran dan gagasan besar dari Soekarno, tetaplah beliau adalah manusia biasa. Tentu, beliau memiliki ambisi politik, dan ambisi adalah bicara soal kepentingan yang kadang melabrak prosedur,  etik, hukum, dan inkonsisten. Kita harus membaca, mengetahui dan memahami soal penyelewengan Bung Karno pada masa Demokrasi Terpimpin, soal presiden seumur hidup, menunjuk anggota MPR sebagai menteri agar dibawah kendalinya, hingga soal penyimpangan ideologi yang digagas oleh beliau sendiri, yakni Pancasila.

Adopsi ideologi komunis yang terintegrasi dalam ide Nasional, Agama dan Komunis (Nasakom), jelas-jelas menodai sila pertama Pancasila, yakni Ketuhanan yang Maha Esa. Ideologi komunis jelas berseberangan dengan nilai-nilai religius dan budaya asli bangsa Indonesia. Namun karena pendirian beliau yang kuat dan sangat idealis, Bung Karno menjadikan konsep Nasakom sebagai jargon andalan. Hal inilah yang membuat beliau ragu untuk membubarkan Partai Komunis Indonesia (PKI) meskipun didesak oleh rakyat dan mahasiswa, pasca G-30-S/PKI pada tahun 1965.

Soekarno adalah pahlawan, proklamator dan ide dari sebuah bangsa bernama Indonesia. Mari sebagai generasi yang baik, kita menempatkanya dengan proporsional dalam kancah sejarah semesta. Tidak mencari cela dan tidak pula mengkultuskanya. Setiap figur memiliki plus dan minus-nya masing-masing.

Kedua, adalah membaca Soeharto. Seorang putra rakyat biasa yang berkarir dari prajurit sampai jenderal ini, adalah Pemimpin yang telah membawa banyak perubahan dan kebaikan, terlepas dari kontroversi dan kealpaan rezimnya yang berkuasa selama tiga dasa warsa.

Dari sisi track record, salah satu Jenderal Besar yang dimiliki oleh republik ini layak mendapatkan gelar pahlawan nasional. Soeharto mengalami dan melakoni fase demi fase perjuangan merebut kemerdekaan, mempertahankan kemerdekaan, hingga masa revolusi dan pembangunan.

Mulai dari perang gerilya, menjadi pengawal/ mendampingi Panglima Besar Jenderal Soedirman, memimpin serangan umum 1 Maret 1949, hingga memegang Komando Mandala  Pembebasan Irian Barat, adalah sumbangsih nyata yang melebihi persyaratan sebagai pahlawan nasional.

Sayang, pasca tumbangnya Soeharto pada tahun 1998, ia hanya mendapatkan badai gunjingan dan semakin tersudutkan di panggung sejarah. Mulai dari tuduhan korupsi dan punya rekening di bank Swis (yang sampai saat ini tidak ada dalil shahih yang dapat membuktikan), pelanggaran HAM, hingga tuduhan kudeta dan pembunuhan lebih dari setengah juta anak bangsa. Benarkah?

Sebagai pemimpin dan anak bangsa, secara logika dan nalar lahiriah, Soeharto pasti berkeinginan membawa bangsa ini ke arah lebih baik. Jika kita telaah lebih jauh, isu kudeta merangkak yang entah dihembuskan oleh siapa adalah lemah dan tidak berdasar. Apalagi jika dasarnya adalah dokumen luar negeri, sejauh manakah kita dapat mempercayai?

Tuduhan pertama, Soeharto adalah dalang kudeta karena tidak masuk daftar target G-30-S/PKI. Ini ngawur, karena banyak Jenderal lain juga tidak masuk daftar target. Lagi pula, Jenderal AH. Nasution yang lolos dari penculikan, justru kemudian berlindung ke Kostrad dan minta perlindungan Pak Harto. Artinya, integritas Soeharto dan Kostrad dapat dipercaya bersih dari pengaruh PKI.

Bantahan kedua, adalah peningkatan karir Soeharto pasca 1965 yang justru melonjak tajam. Jika ia adalah dalang dan berencana mengkudeta Presiden, mengapa pemimpin besar revolusi Bung Karno justru memberikan jabatan Pangkobkamtib dan Menteri Panglima Angkatan Darat, kemudian menaikan pangkatnya menjadi Jenderal Penuh?

Ingatlah, bahwa pemerintahan Soekarno memiliki dinas intelijen yang dikomandoi langsung oleh Wakil Perdana Menteri Dr. Soebandrio. Tentu sudah ada alarm jika memang Soeharto dianggap membahayakan rezim Soekarno. Nyatanya, Bung Karno justru memberikan berbagai amanah kepadanya.

Tuduhan berikutnya adalah soal Surat Perintah sebelas Maret (Supersemar) yang dianggap sebagai kudeta. Ini kengawuran nyata-nyata. Bung Karno dalam pidatonya jelas menyatakan bahwa Supersemar bukan mandat peralihan kekuasaan. Bahkan, supersemar justru memerintahkan Soeharto untuk mengamankan kewibawaan dan ajaran Presiden/Pangti ABRI/ Pemimpin Besar Revolusi Bung Karno.

Langkah Soeharto yang membubarkan PKI dengan dasar supersemar sebenarnya adalah untuk mengakomodasi tuntutan rakyat dan mahasiswa yang berdemonstrasi. Bung Karno yang tidak berani membubarkan PKI dan membekukan Universitas Indonesia, justru akan semakin tersudut di mata rakyat.

Proses peralihan kekuasaan justru terjadi ketika MPRS menolak pidato pertanggungjawaban Presiden yang terkenal dengan judul NAWAKSARA. Setelah itu, MPRS mencabut mandat Soekarno sebagai Presiden seumur hidup dan mengangkat Soeharto sebagai pejabat Presiden. Dan itu adalah sah secara konstitusi dan punya legalitas hukum di masa itu. Manakah yang layak disebut sebagai kudeta?

Kemudian, soal pembantaian terduga PKI di berbagai pelosok negeri. Perlu diketahui, bahwa peristiwa ini adalah sejarah kelam bangsa Indonesia. Peristiwa ini dilatarbelakangi oleh tindakan PKI dan ormasnya yang provokatif, keji, menteror, dan menebar kekerasan.

Sejarah mencatat bagaimana kekejaman PKI terhadap umat Islam di Jawa Timur, peristiwa Kanigoro, Bandar Betsi dan lain-lain sebagainya yang merupakan aksi sepihak PKI. Dilanjutkan dengan pembunuhan keji terhadap para Jenderal dan lawan politik. Dan tentu saja, peristiwa ini memancing dendam di hati rakyat pasca pembubaran PKI oleh angkatan darat.

Jadi, peristiwa saling bantai ini adalah peristiwa sistematis yang sulit dibendung. Seharusnya yang paling bertanggungjawab atas peristiwa ini adalah Bung Karno yang waktu itu masih memegang kekuasaan. Sudahlah, peristiwa ini telah lama berlalu, biarkan Indonesia menempatkanya dalam kancah sejarah semesta.


Indonesia kita saat ini bukan lagi bicara soal isu kekerasan dan bantai membantai. Indonesia sudah melangkah jauh menuju pembangunan dan pertumbuhan ekonomi yang lebih mapan ditengah kompetisi bangsa yang kian ketat. Melanjutkan perjuangan dan warisan luhur pemimpin pendahulu kita. Ya, beliau Bung Karno dan Pak Harto. Keduanya adalah kebaikan untuk Indonesiaku. 
Share:

Budaya "Sambat" : Gotong Royong yang Kini Mulai Luntur

Tanpa kita sadari namun sangat kita rasakan, banyak kebaikan dan kearifan yang hilang seiring berjalannya zaman.  Dulu, jika di sebuah desa ada warga yang membangun rumah, tetangga dan warga desa bersemangat membantu. Begitu pula saat musim tanam padi, panen, hingga tradisi gebug tikus bersama jika ada hama tikus menyerang sawah.

Kerja bhakti lingkungan seperti membersihkan drainase, mengelola sampah hingga membangun jalan kampung juga dulu  dilakukan secara swadaya dan gotong royong. Bahkan, di beberapa desa hingga saat ini masih ada budaya lunas yang artinya membersihkan kuburan setiap hari Jum’at Kliwon.

Di kawasan Jawa Tengah, gotong royong membantu tetangga terkenal dengan istilah sambat. Sebuah budaya gotong royong tanpa nir pamrih dan bentuk sengkunyung atau solidaritas yang luar biasa.

Zaman telah berubah. Di era yang mengedepankan keuntungan (profit), masyarakat saat ini cenderung melihat segala hal dari aspek bisnis. Masyarakat sudah tenggelam dalam arus budaya industrialisme yang kapital dan mementingkan individu.

Untuk musim panen padi-misalnya. Pemilik sawah lebih efisien membayar beberapa tenaga dengan upah uang daripada sistem sambat yang sebagai gantinya si pemilik sawah juga harus sambat di tempat orang yang dulu nyumbang tenaga di sawahnya. Jadi secara manajemen, sambat sangat tidak efisien.

Juga untuk kerja bhakti lingkungan. Daripada meluangkan waktu untuk bergotong-royong, masyarakat kekinian lebih memilih membayar tukang sampah dan tukang bersih-bersih. Secara, ini lebih efektif dan efisien.

Untuk membuat jalan kampung, sistem lelang pembangunan dan membayar tenaga lebih efisien daripada mengumpulkan warga untuk swadaya. Meski di desa-desa budaya gotong royong acap  kali masih dipakai, namun sudah tidak seguyup tempo dulu.

Sejatinya, lunturnya budaya gotong royong di masyarakat kita adalah gejala memprihatinkan dimana kita sudah kadung menceburkan diri pada budaya barat yang apatis, individualistik dan meterialistik. Hidup dipandang hanya sebagai kesempatan untuk mengeruk keuntungan ekonomis.

Simpulanya, tradisi kerja bhakti dan gotong royong mengajarkan banyak hal. Mulai dari kekompakan dalam membantu sesama, solidaritas, dan mengedepankan kerukunan daripada sekedar manajemen ekonomi.

Ah, sudahlah. Kita tonton saja perubahan kebudayaan dan geseran laju zaman. Tak ada seorangpun yang sanggup membendung. Lanjutkan saja ngopi anda.


Semoga menginspirasi. 
Share:

Kisah Serangan Umum 1 Maret 1949

Sejarah adalah kenangan berharga yang harus dijadikan pelajaran  oleh generasi penerus. Indonesia dibangun dengan pengorbanan darah, jiwa dan kobaran semangat juang para pahlawan. Tanpa mereka, entah seperti apa wajah Indonesia kita.

Hari ini, tepat 1 Maret 2015. Mengingatkan kembali peristiwa yang oleh rezim Soeharto disebut sebagai kejadian maha penting. Tepat enam puluh enam tahun  lalu, tanggal 1 Maret 1949, TNI melakukan serangan umum satu Maret. Sebuah peristiwa yang turut menentukan sejarah bangsa.

Peristiwa itu bermula oleh agresi militer Belanda yang meluluh lantakan lapangan udara Maguwoharjo (sekarang Bandara Adi Sucipto). Dilanjukan serangan bertubi-tubi hingga kota Yogyakarta yang dijadikan ibu kota negara pada saat itu, dikuasai Belanda. Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohamad Hatta ditangkap oleh Belanda.

Republik Indonesia yang baru berumur empat tahun dalam keadaan genting. Pemimpin Angkatan Bersenjata, Panglima Besar Jenderal Soedirman mengeluarkan maklumat perang gerilya. Saat itu, penanggungjawab militer di wilayah Yogyakarta adalah Letnan Kolonel Soeharto

Atas insiden ini, Belanda meminta Republik Indones bubar karena Presiden dan Wakilnya sudah ditangkap. Namun ternyata, sesaat sebelum ditangkap Soekarno mengirimkan surat kawat kepada Amir Syarifudin yang saat itu berada di Sumatera untuk mendirikan Pemerintahan Darurat  Republik Indonesia.

Tentara Nasional Indonesia tentu saja tidak tinggal diam. Letkol Soeharto segera menyusun rencana setrategis untuk melancarkan aksi balas dendam. Akhirnya pada subuh, 1 Maret 1949, Soeharto memimpin langsung pasukan untuk menyerang Belanda.

Entah apa maksud Soeharto. Mungkin untuk menandai pasukan atau sebagai sandi, sehingga setiap prajurit diminta mengenakan janur kuning sebagai simbol. Hingga pasukan itu dikenal dengan sebutan pasukan janur kuning.

Alhasil, Belanda kocar-kacir. TNI dapat menguasai kota hingga enam jam sebelum digempur kembali oleh Belanda. Dan dampak dari peristiwa ini sungguh luar biasa. Dunia Internasional mengecam agresi militer Belanda. Dan pernyataan Belanda bahwa Republik Indonesia sudah bubar seakan terbantahkan dengan peristiwa serangan umun satu maret. Belanda dipermalukan.

Akhirnya, PBB mendesak Indonesia dan Belanda melakukan perundingan diplomatik. Presiden dan Wakilnya dibebaskan. Kemudian diadakan perjanjian Roem – Royen dan diteruskan dengan Konferensi Meja Bundar di Den Hag, Belanda. Indonesia diakui kedaulatan dan kemerdekaanya.

Itulah sekelumit kisah tentang serangan umum satu Maret 1949. Namun sejak rezim Soeharto tumbang. Kisah ini seakan dihapus dan tidak lagi mendapat tempat. Bahkan ada yang dengan tega memfitnah Soeharto, bahwa dia justru bersembunyi dan makan soto babat di warung. Atau ada yang mengatakan Sri Sultan Hamengkubuwono IX yang jadi pimpinanya, bukan Soeharto.

Pendapat tersebut jelas tanpa dasar. Tidak semua sejarah yang ditulis oleh Orde Baru adalah salah. Buktinya, pasca kejadian itu, karir Soeharto di militer terus melejit.  Bahkan oleh Soekarno di kemudian waktu, ia diangkat sebagai Komando Mandala Pembebasan Irian Barat. Berarti sistem karir mengakui bahwa Soeharto berjasa. Tidak mungkin Angkatan Darat sepakat berdusta

Juga tentang Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Beliau tidak pernah membantah bahwa pemimpin serangan umum 1 Maret adalah Soeharto. Dan jangan lupa, Sri Sultan HB IX adalah wakil Presiden RI yang kedua dan mendampingi Soeharto. Jadi, jangan hanya  karena trauma terhadap Orde Baru, kita menjadikan Soeharto serba salah dan serba hitam. Itu adalah penyelewengan sejarah.


Share:

Mengenang Masjid Sebagai Pusat Peradaban

Ashar suatu sore di sebuah masjid nun megah di tengah kota Banjarnegara, Jawa Tengah.  Lantunan merdu muadzin menggiring kami untuk singgah sejenak dari perjalanan, menunaikan kewajiban memperbaharui keimanan dan kesaksian.  Kami berdua : saya dan sahabat karib  menepikan sepeda motor di pelataran masjid, kemudian bergegas untuk berwudhu. Bersamaan dengan kami adalah satu rombongan keluarga yang membawa mobil pribadi. Mereka dengan terburu-buru lari ke kamar mandi. Yang hendak saya ceritakan, ternyata mereka tidak berwudu dan turut berjama’ah. Mereka hanya numpang ke kamar mandi kemudian kembali tancap melanjutkan perjalan !

Sekelumit cerita di atas adalah gambaran sebagian kecil fungsi masjid di era modern. Begitu memprihatinkan. Masjid di era ini semakin dipersempit : tempat umat Islam menjalankan kewajiban shalat (berjama’ah) dan shalat Jum’at. Di luar agenda itu, masjid hanya sebagai simbol kegiatan ritual keagamaan.

Padahal, selaras dengan berdirinya Masjid Nabawi di Kota Madinatul Munawaroh adalah Nabi membangun pasar di sebelah utara masjid. Fungsi masjid di era Nabi adalah  tempat dilangsungkanya Ibadah dalam arti yang seluas-luasnya. Dan hidup adalah ibadah.

Masjid adalah pusat syiar Islam. Ruh persatuan, solidaritas, dan kekuatan Islam ada di masjid. Selanjutnya, Masjid adalah pusat keilmuan dan pengembangan intelektual umat  Islam. Dulu, dizaman Abasyiyah, masjid adalah cikal-bakal lembaga pendidikan Islam. Universitas Al Azhar yang besar dan tertua itu dulunya adalah pengajian kecil di masjid.

Zaman Khalifah Umar ibn Khattab, masjid bahkan menjadi pusat pemerintahan. Khalifah Umar menjadikan  sebuah pohon nan rindang di sudut masjid sebagai tempat istirahat. Padahal, di masa itu ekspansi umat Islam dan kekuasanya telah merambah Persia dan Romawi.

Masjidil Haram yang merupakan tempat suci umat Islam, secara historis dulunya adalah pusat kebudayaan masyarakat Arab. Di musim haji, penduduk sekitar juga memanfaatkan momentum ini untuk kegiatan muamalah (jual-beli).

Masjid adalah pusat peradaban. Di sana seharusnya generasi-generasi muda muslim belajar secara mendalam tentang agamanya. Di sana seharusnya perencanaan strategis pembangunan ekonomi masyarakat untuk maslahat umat direncanakan. Masjid adalah simbol kejayaan keilmuan dan intelektual. Ya, masjid adalah kejayaan umat Islam.

Tapi itu dulu, di masa keemasan Islam. Kini, di Indonesia telah dibangun berjuta-juta masjid  dari pelosok desa hingga di jantung kota. Sayangnya, boro-boro masjid sebagai pusat kegiatan, kebudayaan, dan peradaban umat. Waktu sholat jama’ah saja banyak masjid kosong melompong. Atau jangan-jangan, hanya sebagai tempat transit dan  kamar mandi  umum? Naudzubilah.


Salam Inspirasi..
Share:

Definition List

Unordered List

Support