Jurnal Wawasan dan Inspirasi Kehidupan

Bank Sampah, Manajemen Efektif Pengelolaan Sampah

Jangan pernah menganggap enteng masalah sampah. Ya, sampah kadang menjadi musuh paling serius dalam...

Budaya Sambat, Gotong Royong yang Mulai Luntur

Tanpa kita sadari namun sangat kita rasakan, banyak kebaikan dan kearifan yang hilang seiring berjalannya zaman. Dulu, jika..

Programer : Seniman Tingkat Tinggi?

Judul di atas mungkin terlalu “narsis” atau terkesan menempatkan programer pada derajat yang amat terpuji. Tapi agaknya itu yang

Membaca Soekarno, Soeharto dan Indonesia Kita

Kalau hanya untuk menghafalkan materi, tebak-tebakan soal, dan mempelajari keahlian tertentu, tidak usah pakai guru. Pakai komputer saja lebih hebat. Kalau sekolah hanya

Sebentar Lagi, Guru Akan Tersingkir?

Kalau hanya untuk menghafalkan materi, tebak-tebakan soal, dan mempelajari keahlian tertentu, tidak usah pakai guru. Pakai komputer saja lebih hebat. Kalau sekolah hanya menjalankan fungsi “pengajaran”, pakai komputer saja. Tidak usah dan tidak perlu bimbingan guru.

Tampilkan postingan dengan label Niaga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Niaga. Tampilkan semua postingan

Ekonomi Digital : Belanja Sambil Bobo Cantik

Anda  gemar berbelanja online? Ya, tahun 2015 merupakan era kebangkitan dunia e-comerce dimana trafic transaksi digital semakin melejit. Dari ujung jari, anda bebas pilah-pilih barang yang diinginkan tanpa harus repot-repot pergi ke pusat perbelanjaan, terjebak macet, membuang banyak energi, atau tawar menawar barang yang kadang menyita waktu.

Kini, untuk memesan barang incaran, kita tinggal mengetikan nama produk atau brand produk di kolom search pada situs e-comerce ternama, macam tokopedia, bukalapak, bli-bli, elevenia, lazada, zalora dan lain sebagainya. Kita tinggal mengklik “beli” kemudian proses pembayaran dan tinggal menunggu barang datang.

Dan menjawab semua itu, dunia perbankan juga terus mengembangkan sistemnya. Kini, untuk membayar semua jenis tagihan, anda sudah tidak perlu lagi repot-repot pergi ke bank atau ATM. Berbagai layanan macam mobile banking, internet banking, sms banking, hingga e-payment atau uang virtual sudah menyajikan kemudahan. Tinggal anda punya banyak saldo atau tidak.

Transaksi ekonomi kini berada di genggaman anda. Sambil “bobo cantik”, anda sudah bisa memborong ini dan itu. Apalagi menjelang detik-detik pergantian tahun. Tawaran diskon menggiurkan dan fantastis, kadang meningkatkan gairah anda untuk terus berbelanja. Hingga tidak jarang banyak konsumen yang terjebak diskon. Bukanya hemat malah boros.

Belanja online juga memiliki banyak kekurangan. Karena interaksi yang dilakukan penjual dan pembeli tidak secara langsung, maka terjadi pengikisan hubungan kemanusiaan di satu sisi. Tidak akan kita jumpai senyum yang ramah, tawar-menawar yang indah, atau hubungan kekeluargaan yang terbangun alami dari sistem ekonomi tradisional.

Dengan terus meningkatnya trafik belanja online, tentu ini merupakan angin segar bagi para pelaku bisnis online yang rata-rata perusahaan besar. Hal ini tentu sedikit banyak menjadi ancaman bagi pelaku usaha di dunia nyata yang memiliki toko fisik dan pasar tradisional.

Keluhan-keluhan pemilik toko fisik di mangga dua atau di pasar klewer solo-misalnya, merupakan contoh kecil yang bukan tidak mungkin akan menjadi percikan kecil bagi pelaku usaha lain yang serupa. Dan, nanti pada waktunya akan menjadi bom waktu : e-comerce membunuh sektor riil atau UMKM.


Terlepas dari kelebihan dan kekurangannya, belanja online sudah menjadi tren gaya hidup yang akan terus berkembang pesat. Tak ada yang bisa mencegah atau menghambat itu. Termasuk regulasi dan aturan. Kita tinggal tunggu saja, medan pertempuran bernama “pasar”  akan menjadi pembantaian baru ekonomi Indonesia, atau sebaliknya, menjadi penggenjot roda ekonomi rakyat yang berkelanjutan.
Share:

E-Commerce dan Masa Depan Ekonomi Indonesia

Ada yang menyentak, ketika kini kawasan pertokoan elektronik dan komputer terbesar di Indonesia, yakni kawasan Mangga Dua, Jakarta, banyak yang tutup alias gulung tikar. Hal ini tentu berbanding terbalik dengan jumlah pembelian komputer baik berbentuk dekstop (PC), laptop, tablet, maupun smartphone yang terus mengalami kenaikan dari waktu ke waktu.

Ternyata, penyebab utama menurunnya volume penjualan di toko-toko besar adalah semakin menjamurnya toko online. Kini, untuk membeli komputer tidak perlu repot-repot pergi ke Mangga Dua atau toko elektronik ternama. Cukup memesan di situs toko online seperti Lazada, Tokopedia, Elevenia dan lain sebagainya melalui layar komputer. Pembeli rela menambah ongkos kirim lebih mahal daripada harus langsung datang ke toko fisiknya.

Hal serupa juga berlaku untuk produk atau barang-barang lain. Mulai dari aneka fashion, aksesories rumah tangga, ATK, meubelair, hingga cemilan atau makanan ringan dapat dipesan secara online. Bukan tidak mungkin, di kemudian waktu toko-toko fisik untuk komoditas tententu, harus ikut menyalin rupa menjadi toko online agar tetap survive di tengah persaingan yang semakin ketat.

E-commerce (istilah umum dari perdagangan online/elektronik), adalah dunia baru kegiatan ekonomi yang masih menjanjikan peluang. Bahkan, Presiden Joko Widodo beberapa waktu lalu mengumpulkan para pakar IT untuk mendiskusikan peran IT dan e-commerce dalam pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Pertanyan yang menggelitik kita, sudah siapkah manusia Indonesia menghadapi persaingan e-commerce? Sudah siapkah masyarakat kita untuk berubah atau bermigrasi ke kultur digital? Bagaimana keadaan ekonomi Indonesia, jika kebanyakan produk e-commerce adalah produk impor (bukan produk lokal?

Untuk masyarakat yang tinggal di perkotaan dan juga anak-anak muda (baik di desa maupu kota), mungkin budaya online sudah menjadi cara hidup keseharian. Meskipun kebanyakan baru digunakan untuk sosial media. Lambat laun, masyarakat akan semakin mengerti tentang e-commerce dan dua kemungkinan akan terjadi : tertarik atau tetap nyaman di kultur tradisional.

Ingat, bahwa perdagangan online bukanlah tanpa resiko dan kekurangan. Ada beberapa hal yang sering dikeluhkan seperti integritas penjual, kasus penipuan online, judi online, penyelundupan narkoba, pencurian kartu kredit, hingga ketidaksesuaian antara gambar dengan barang yang dibeli.

Namun, melirik geliat pasar e-commerce yang kian menjanjikan, ada banyak peluang yang bisa dimanfaatkan oleh pelaku usaha. Mulai dari jasa pengiriman barang, distributor produk tertentu, atau ikut berjualan di lapak yang sudah disediakan oleh situs pasar online.

Peluang mengembangkan produk lokal dan kuliner tradisional juga terbuka lebar, meskipun harus berani bersaing dengan kompetitor ternama atau bahkan dari luar negeri.

Simpulan akhir, kita telah memasuki era baru, yakni e-commerce. Mungkin saja, tahun-tahun mendatang, kita akan memesan sate dari kamar tidur lewat ­e-commerce. Gaya baru, cara baru, tradisi baru dengan segenap kelebihan dan kekurangannya. Bersiap-siaplah. Kembangkan skill dan kompetensimu!


Penulis : Adi Esmawan----
Share:

TIPS MENGATASI HAMBATAN BISNIS

Menjadi pengusaha merupakan pilihan hidup. Indeks jumlah pengusaha di Indonesia masih di bawah standar dengan ratio perbandingan antara pengusaha dengan non pengusaha 10 : 2. Jika dikonversi kedalam prosentase, hanya sekitar 20% dari populasi hidup manusia Indonesia yang menjadi wirausaha.

 Maklum, setiap usaha pasti ada hambatan, kendala dan pasang surut bahkan badai yang tidak dapat ditebak sebelumnya. Dalam sejarah para pengusaha sukses, tidak ada yang berjalan mulus dan bebas hambatan.

Nah, bagi anda yang mulai merintis usaha kecil, kenali hambatan dalam berusaha. Kemudian, antisipasi dan cari inspirasi tentang bagaimana mengatasinya.

Berikut hambatan usaha dan berbisnis yang telah dirangkum oleh tim jurnalva.com.

1.   Modal
Usaha apapun, pasti membutuhkan modal. Baik itu modal materil (finance) maupun modal non materil seperti ketrampilan hidup (life skill) dan kemauan kuat. Dua-duanya sama-sama penting dan harus bersinergi, berjalan berdampingan.

Terkadang, banyak orang yang memiliki kemauan dan bakat untuk berusaha, namun tidak memiliki modal pendanaan untuk usaha. Ini hambatan pertama.

Cara mengatasinya, calon pengusaha yang memang memiliki keterampilan dapat mengajukan pinjaman kredit perbankan dengan bunga ringan. Saat ini, jasa kredit perbangkan dan kredit pembiayaan (leasing) sangat banyak. Anda dapat menggadaikan apa yang bisa dijadikan jaminan atau agunan. Dengan catatan, hutang yang anda ajukan akan digunakan untuk usaha, bukan untuk konsumtif.

Sampai dengan saat ini, pemerintah telah menggelontorkan miliyaran rupiah untuk program kredit ringan seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR) di BRI, Kredit Pembangunan Ekonomi (KPE), dana PUAP di Kementerian Pertanian yang dikelola oleh Gapoktan Desa, dan fasilitas kredit lainya.


2.   Kompetisi/ Persaingan Usaha

Hambatan bisnis yang paling berat dihadapi adalah persaingan. Sekarang, persaingan bisnis semakin ketat dengan menjamurnya outlet waralaba (francise) yang merupakan jaringan usaha  besar.
Karena itu, pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) harus pandai menambahkan nilai jual (brand) agar tidak kalah saing. Diantaranya, dengan meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi, memperbaiki pelayanan kepada para costumer dan pantang menyerah.

Salah satunya, adalah melakukan dan menyediakan apa yang tidak mereka miliki. Serta membangun sebuah identitas atau ciri khusus yang menjadi kode unik sebuah usaha.


3.   Pangsa Pasar dan Krisis
Mungkin karena nilai tukar rupiah yang naik turun, pengaruh harga BBM hingga kondisi politik dapat mempengaruhi daya beli masyarakat sehingga membuat bisnis semakin lesu. Ada baiknya, setiap pelaku usaha memiliki dana cadangan dan asuransi untuk mengatisipasi jika terjadi sesuatu yang diluar kekuasaanya.

Inovasi dan strategi pemasaran yang baik juga akan meningkatkan pangsa pasar dan daya beli masyarakat sehingga usaha kita tetap survive di tengah gonjang-ganjing ekonomi sekalipun.



4.   Hutang dan Piutang
Nah, kendala yang satu ini sering membuat usaha terhenti atau gulung tikar. Pelanggan yang tidak disiplin dalam membayar hutang atau penguaha yang mengalami palilit karena tidak bisa memanajemen hutang adalah kasus umum yang terjadi di mana-mana.
Solusinya, adalah soal kedisiplinan dan manajemen anggaran. Jangan biarkan pelanggan yang hobi menunggak hutang dipertahankan. Buang jauh-jauh pelanggan yang memiliki reputasi buruk soal hutang. Lebih baik kita kehilangan satu-dua pelanggan daripada usaha kita gulung tikar.

Kemudian, lakukan pencatatan keluar masuk keuangan dengan jelas dan dispilin agar pengusaha juga tidak telat bayar hutang. Jangan pernah sekali-kali menggunakan uang modal untuk konsumsi atau mengurangi nilai modal. Belanjalah sesuai dengan margin keuntungan bisnis anda. Artinya, jangan sampai besar pasak daripada tiang.


Demikian review inspirasi bisnis jurnalva.com kali ini. Sapai bertemu di review selanjutnya.

Author : Adi Esmawan, CEO and Owner Jurnalva.com
Share:

Definition List

Unordered List

Support