Jurnal Wawasan dan Inspirasi Kehidupan

Bank Sampah, Manajemen Efektif Pengelolaan Sampah

Jangan pernah menganggap enteng masalah sampah. Ya, sampah kadang menjadi musuh paling serius dalam...

Budaya Sambat, Gotong Royong yang Mulai Luntur

Tanpa kita sadari namun sangat kita rasakan, banyak kebaikan dan kearifan yang hilang seiring berjalannya zaman. Dulu, jika..

Programer : Seniman Tingkat Tinggi?

Judul di atas mungkin terlalu “narsis” atau terkesan menempatkan programer pada derajat yang amat terpuji. Tapi agaknya itu yang

Membaca Soekarno, Soeharto dan Indonesia Kita

Kalau hanya untuk menghafalkan materi, tebak-tebakan soal, dan mempelajari keahlian tertentu, tidak usah pakai guru. Pakai komputer saja lebih hebat. Kalau sekolah hanya

Sebentar Lagi, Guru Akan Tersingkir?

Kalau hanya untuk menghafalkan materi, tebak-tebakan soal, dan mempelajari keahlian tertentu, tidak usah pakai guru. Pakai komputer saja lebih hebat. Kalau sekolah hanya menjalankan fungsi “pengajaran”, pakai komputer saja. Tidak usah dan tidak perlu bimbingan guru.

Menafsirkan Emha Ainun Nadjib


Emha Ainun Nadjib atau lebih akrab disebut “Cak Nun” adalah “teks” yang multitafsir. Pemikiran-pemikiran beliau yang tertuang dalam bahasa tulisan (inscription) selalu menggelitik pembacanya untuk menguliti, mendalami, merenungkan, dan merefleksikanya dalam praktik kebe-ragamaan dan kebudayaan. Acap kali, tulisan-tulisan beliau keluar dari rel baku paradigma ke-Islaman dan kebudayaan yang sudah terpatri sebagai praktek keseharian masyarakat kita. Tapi itulah keindahan sekaligus nilai tambah tulisan-tulisan Cak Nun.

Perjumpaan pertama penulis dengan karya beliau bermula dari buku jadul “Jogja Indonesia, Pulang-Pergi”. Buku terbitan tahun 1999 itu dikemas dengan bahasa yang renyah, gurih, humoris tapi menyimpan makna yang begitu dalam. Itulah khas tulisan Cak Nun.


Buku yang dengan apik mendeskripsikan tentang Yogyakarta di era reformasi ini mengajak para pembaca untuk menyelami lebih jauh lautan hikmah di balik “Jogjakarta” secara kultur-history, hingga kritik sosial dan juga soal pembunuhan wartawan Bernas bernama “Udin” yang legendaris dan belum terungkap hingga sekarang itu.

Jika membandingkan tulisan Cak Nun dengan cendekiawan Nurcholis Madjid (Cak Nur), maka perbedaanya terletak pada gaya bahasa dan “kemasan tulisan”. Nurcholis Madjid cenderung ilmiah, sistematis, dan melalui pendekatan empiris yang normatif. Maklum, beliau orang akademik (Rektor Universitas Paramadina). Sedangkan tulisan Cak Nun begitu mengalir, humoris, merefleksikan bahasa keseharian dan kadang sangat puitis dengan perpaduan sastra tingkat tinggi. Meski kadang tulisan Cak Nun juga sangat “ekstrem” dan “galak” jika sudah menyangkut “suatu hal”. Meskipun begitu, tulisan Cak Nun juga tidak kehilangan “nuansa ilmiah-nya”.

Tulisan-tulisan beliau di laman www.caknun.com, atau di media nasional juga sangat khas. Terkadang, membaca judulnya saja sudah antik dan menarik. Isinya kadang memeras otak mirip pengisian teka-teki silang. Pendalaman maknanya sangat kental dan parsial. Jadi tulisan Cak Nun itu tidak ada yang “ngecamprang” alias normatif. Semua tulisanya berbobot bahkan bobotnya terlalu berat.

Mari kita menengok pandangan-padangan beliau soal ke-Islaman dan dialektika kebudayaan. Setiap tulisan-tulisan beliau, pasti yang diperjuangkan adalah “nilai”, bukan simbolik – formalistik. Agama adalah nilai kasih sayang, hingga masalah “sepele” macam menyingkirkan rintangan di jalan saja sudah mendapatkan kredit dari Tuhan. Kemudian penekanan kembali bahwa agama adalah wilayah “keyakinan”. Karena itu, keyakinan sangatlah personal. Karena keyakinan “saya” dengan keyakinan “anda” tidak mungkin sama persis. Keyakinan itu diaplikasikan lewat perbuatan, bukan ucapan belaka. Anda boleh saja berucap syahadat satu hari seratus kali, tapi anda belum tentu benar-benar “bersyahadat”. Dan itu yang tau hanya anda dan Tuhan sendiri.

Dalam meyakini sebuah ajaran agama, setiap pemeluk agama pasti meyakini agama yang dianutnya adalah benar, yang lain salah. Tapi itu tidak perlu diungkapkan kepada orang lain, utamanya pemeluk agama lain. Ketika kita umat Islam meyakini bahwa hanya Islam agama yang benar, maka seperti itu pula keyakinan pemeluk-pemeluk agama lain, atau aliran-aliran lain. Jadi kuncinya adalah saling menghormati antar keyakinan, hidup rukun berdampingan dan mengutamakan persamaan kemanusiaan di atas segala-galanya.

Jika ada yang menyebut Cak Nun itu liberal dan melenceng jauh dari nash (Al Qur’an dan Al Hadits), menurut saya itu pandangan yang keliru. Coba anda tengok dan baca sendiri puisi-puisi Emha sejak dulu hingga sekarang. Terlihat bahwa prinsip ideologi ke-Islaman Emha sangatlah Qur’ani. Meskipun  yang ditekankan nilai-nilai universal. Bukan pandangan yang terlampau dogmatis dan sempit.

 Kemudian pandangan beliau soal ISIS dan gerakan radikal Islam. Beliau menunjuk beberapa penyebab hingga indikasi "rekayasa" untuk menguasai sumber energi di Timur Tengah. Ini sebuah analisis yang ilmiah sekali. Bahkan Cak Nun menuding adanya "perampokan terselubung" di balik maraknya ISIS, utamanya di Suriah dan Timur Tengah pada umumnya.

Dalam hal berbangsa dan bernegara, tulisan-tulisan Cak Nun yang melayangkan kritik kepada pemerintahan banyak sekali. Dan itu konsisten sejak dulu. Rezim orde baru saja dikritisi, meskipun dengan “frasa” Jawa yang lembut dan khas. Uniknya beliau tidak pernah terlibat politik praktis dan irit sekali “mengekpose” diri di ruang media. Pandangan-pandangan cak Nun tentang demokrasi dan Amerika justru sangat menyentak. Untuk lebih jelasnya, silahkan anda kunjungi dan baca sendiri di www.caknun.com

Tentu yang paling menarik dari Cak Nun adalah konsep Islam Jawa dan Jawa Islam. Ingatlah sebelum Islam datang, posisi-nya adalah sebagai "orang Jawa" dengan berbagai keunikan dan kelebihanya yang sudah digariskan oleh Tuhan. Nah, jika kultur Jawa dengan kelembutan dan cirikhasnya itu berpadu dengan keluhuran ajaran Islam, maka bisa dibayangkan peradaban unggul seperti apa yang akan terwujud. Dan anda tidak usah berburuk sangka atau cenderung menvonis pemikiran Cak Nun ini menabarak jalur.  Karena selain Al Qur'an dan hadits sebagai sumber hukum utama, kita juga harus merujuk "kenyataan" atau sunnatulloh sebagai bagian dalam menentukan konsep kehidupan.

Agar tulisan ini tidak panjang lebar dan ngalor ngidul, silahkan anda tafsirkan sendiri tentang apa dan bagaimana seorang Emha Ainun Nadjib. Terserah anda, karena interpreter atau mufasir berhak menafsirkan sebuah teks secara independen. Jika sudah, dan anda tertarik lebih jauh dengan Cak Nun, silahkan sesekali waktu sempatkan menghadiri pengajian beliau bersama "Kyai Kanjengnya. Kula nuwun.




Adi Esmawan, pengasuh jurnalva.com
Share:

Programer : Seniman Tingkat Tinggi?

Judul di atas mungkin terlalu “narsis” atau terkesan menempatkan programer pada derajat yang amat terpuji. Tapi agaknya itu yang akan kita bahas pada tulisan ini.

Bermula penyampaian materi OSPEK di sebuah Sekolah Tinggi swasta di Banjarnegara. Kebetulan disiplin ilmunya bidang Teknologi Informasi. Ada yang menyentak, ketika sang pemateri (bernama Bapak Fajar Junaedi EP, S.Si, M.Kom) berpesan kepada para peserta “jangan kira anda itu calon teknokrat, tapi sebetulnya programer itu “seniman tingkat tinggi”. Bahkan, seorang programer dunia,  Donald Knuth, menyusun buku berjudul “The Art of Computer Programing”.

Pesan itu sanggat menggelitik penulis dan menarik untuk dikaji.
Ternyata benar, programer itu seniman tingkat tinggi. Atau minimal, seorang programer harus bisa mengadopsi nilai-nilai seni dan estetika dalam membuat sebuah program. Tidak usah jauh-jauh, ketika seorang programer merancang bangun sebuah website, maka dia bukan hanya dituntut untuk merangkai dengan sempurna kode-kode atau script HTML, CSS, kemudian mengkonfigurasinya dengan PHP dan MySQL atau database online. Lebih dari itu, sang programer juga harus menganalisa bagaimana agar website yang dibuatnya memiliki nilai estetika dan keindahan, sehingga tampilan interface-nya disukai oleh user.

Karena percumah saja, sebuah website dibuat dengan script yang rumit dan tingkat tinggi, namun interface-nya menyulitkan, tidak menarik dan tidak disukai pengguna.

Itu baru seorang programer web. Seorang programer atau pengembang Sistem Operasi, baik berbasis Linux maupun windows-misalnya, harus berprinsip “mengembangkan untuk memperbaiki dan menyempurnakan”. Ibarat pelukis, ia disuruh menambal “bagian mana” yang dianggap tidak elok. Jadi, fungsi “memperindah” mutlak dipakai. Bukan malah pengembanganya justru menambah runyam dan meperjelek tampilan.

Mungkin tertinggi adalah programer kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), yang harus dengan “apik” mengintegrasikan nilai-nilai seni dan estetika dalam perancangan algortitmik yang terpadu. Alhasil, robot komputer yang dihasilkan bukan hanya cerdas menirukan apa yang dilakukan manusia, melainkan menyajikan sebuah karya seni yang agung.

Sampai disini mungkin kita wajib “tersadar”, bahwa programer adalah seniman tingkat tinggi.


Author : Adi Esmawan, owner jurnalva.com, pengasuh  komunitas belajar bersama “Muhibul Qur’an”, Dusun Sigong Desa Tempuran.
Share:

Ahok dan Usulan Pembubaran IPDN



Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok kembali menuai kontroversi pasca usulanya yang meminta Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) dibubarkan. Ahok beralasan, selama ini tes masuk dan output (lulusan) IPDN tidak jelas. Hasil lulusan IPDN yang duduk dipemerintahan juga dianggap kurang memiliki daya saing dan tidak menunjukan sikap sebagai pelayan publik (public servant). Kesan di masyarakat juga menganggap IPDN masih menggunakan pola militeristik dalam mendidik praja (perserta didik) IPDN.

Kontan saja, usulan Ahok disambut beragam reaksi pro dan kontra. Ikatan Alumni IPDN mengecam keras usulan Ahok. Bahkan tidak tanggung Wakil Presiden Jusuf Kalla menyatakan bahwa IPDN masih dibutuhkan dan tidak perlu dibubarkan. Kalau urusan kekerasan (militeristik), itu yang dihilangkan, bukan sekolahnya yang dibubarkan.

Perlu diketahui bahwa IPDN merupakan pendidikan tinggi kedinasan khusus calon Pegawai Pemerintahan yang berada dalam naungan Kementerian Dalam Negeri. Pendidikan Tinggi ini bertujuan untuk menyediakan Sumber Daya Manusia calon  aparatur pemerintahan baik di pusat maupun di daerah. Berdasarkan jejak rekam, banyak alumnus IPDN yang berprestasi. Meskipun banyak juga yang biasa-biasa saja bahkan dibawah standar alumni perguruan tinggi lain.

Tentu saja, segala sesuatu tidak bisa digebyah  uyah podo asine alias disamaratakan bahwa semua alumni IPDN tidak berkualitas dan pola militeristik masih kental. Jika digeneralisir seperti itu, maka jelas tidak bijaksana.

Ibarat kata, jika dalam suatu tubuh lembaga  pendidikan tinggi terdapat masalah, yang dihilangkan masalahnya bukan sekolahnya yang harus bubar. Saya yakin, keberadaan IPDN masih sangat dibutuhkan oleh negeri ini sama halnya dengan AKPOL dan AKMIL. Tinggal tata kelola dan sistem yang diperbaiki. Usulan pembubaran IPDN adalah sangat berlebihan.


Author : Adi Esmawan
Share:

Ada Masalah Apa dengan Token Listrik?



Pernyataan Menteri Koordinator Kemaritiman Rizal Ramli yang meminta kebijakan token listrik prabayar dikaji kembali, cukup menarik dan menyentak perhatian publik. Selama ini, sistem pembayaran listrik secara prabayar melalui token (pulsa) listrik dianggap sebagai sebuah terobosan baru yang inovatif dan efisien.

Bahkan, PLN menyebutkan diantara keunggulan listrik prabayar adalah pengguna lebih leluasa dalam mengendalikan pemakaian listrik, sehingga sesuai dengan kebutuhan dan keinginan pengguna. Tetapi nyatanya di lapangan, justru lebih banyak memberatkan masyarakat .

Menteri Rizal Ramli menyebutkan, masalah utama dalam token listrik prabayar adalah ketersediaanya yang terbatas dan harga yang mahal akibat pembengkakkan biaya administrasi. Beliau mencontohkan, jika membeli pulsa listrik Rp.100.000,-, listriknya hanya Rp. 73.000,-.  “Kejam sekali itu, 27% disedot oleh provider yang setengah mafia”, ujar Rizal Ramli.

Pakar ekonomi jebolan Amerika tersebut juga menuding ada monopoli sistem tarif listrik. Ia bahkan menenggarai ada mafia di balik megaproyek token listrik.
Jika memang kenyataanya demikian, maka sistem pembayaran listrik prabayar perlu dikaji kembali. Apalagi, banyak masyarakat yang mengeluh karena sistem inputnya lebih rumit daripada listrik pasca bayar dengan sistem analog.

Contohnya di pelosok desa yang masih banyak penyandang buta aksara. Dalam membeli token listrik dan menginputnya, masih mengalami kesulitan. Kemudian banyak terjadi token yang masuk lebih mahal dari nilai yang dibeli. Apalagi jika membelinya dengan jumlah yang kecil, maka dihitung-hitung lebih mahal biaya administrasi dan “pembengkakan” tarif daripada pulsa listriknya.

Seharusnya, PLN bijaksana dan tidak hanya mengejar profit belaka. Urusan tarif listrik berkenaan dengan hajat hidup rakyat. Jika yang dipakai adalah logika korporasi dengan “untung” sebagai target utama, maka rakyat yang “buntung” dan sama dengan drakula yang menyerap darah anaknya sendiri.

Author : Adi Esmawan
Sumber gambar : Laman Resmi PLN




Share:

Darurat Lingkungan

Kondisi lingkungan hidup kita kian hari kian kritis dengan beragam faktor yang kompleks dan rumit. Laju jumlah penduduk, target pertumbuhan ekonomi, hingga hasrat konsumerisme gaya hidup membuat manusia dengan tanpa rasa bersalah “merusak” sarangnya sendiri, yakni bumi yang kita tinggali.  Kerusakan lingkungan hidup sudah nampak telanjang di depan mata. Dampaknya juga sudah dirasakan baik di musim hujan maupun kemarau panjang.

Perlu gerakan yang massif dan melibatkan seluruh komponen warga negara untuk melakukan penyelamatan di menit-menit terakhir. Mulai dari masyarakat umum, mahasiswa, dan para pemangku kepentingan harus “sadar diri” akan kondisi darurat penyelamatan lingkungan. Buang segala pragmatisme sempit yang mementingkan target pertumbuhan ekonomi dengan cara merusak lingkungan. Misalnya soal penambangan pasir, pembukaan hutan untuk lahan baru atau kawasan properti, penyulapan hutan lindung menjadi kebun kelapa sawit dan tindakan-tindakan bodoh lainya.

Meminimalisir penggunaan plastik kemasan juga merupakan bagian dari gerakan sadar lingkungan. Juga bangkitkan kembali mimpi satu orang menanam satu pohon. Jika program ini terwujud, maka di satu abad Indonesia yakni 2045 nanti, kita tidak khawatir kondisi lingkungan hidup di Indonesia semakin parah.

Di sekolah-sekolah, kegiatan penanaman pohon mudah-mudahan bukan hanya bersifat simbolis. Sehingga menanamnya hanya di momen-momen tertentu. Setelah itu, pohon yang ditanam tidak dirawat bahkan dibiarkan mati. Ini sama saja gerakan percumah.

Bumi bukan hanya untuk kita yang hidup hari ini. Seperti kata Gandhi : Bumi ini cukup untuk menghidupi manusia, tapi tidak akan pernah cukup untuk memenuhi keinginan-keinginannya. Manusia terlampau rakus dan ingin hidup serba mudah. Ya, dengan merusak lingkungan.

Sampai jumpa lain waktu.


Sumber foto : twitter milanasari
Share:

Mencari Makna Hidup

Saya yakin, anda (dan juga saya) masih terbingung-bingung dengan apa makna “hidup” dan kehidupan sesungguhnya. Sebelum kita lebih jauh, sambil terus membaca artikel ini, silahkan rentangkan kedua tanganmu. Bersama datang malam. Agar dapat kau rebahkan kepala. Kemudian bernafaslah perlahan.  Nikmati  nafas-nafas anda dengan memejamkan mata. Endapkan hati, tenangkan fikiran. Jernihkan rasa dan buang segala gundah. Peganglah bilik kiri dada anda. Kemudian bersyukurlah, jantung anda masih berdetak. Itulah tafsir hidup nomor satu.

Kemudian anda tanya kembali diri anda, hidup itu apa sih? Apa perlu kita keluar ke teras rumah. Mungkin ada beberapa tanaman bunga di sana. Atau pohon-pohon rindang di kanan kiri rumah anda. Jika masih hijau, berbunga, berdiri tegak, dan mengayun melambai dibuai angin. Itu tandanya hidup. Sampai disini kita sudah tau makna hidup?

Hidup adalah detik ini. Saat anda menghirup nafas pertama dan mengeluarkanya kembali. Sebelum itu sudah menjadi sejarah, kenangan. Dan yang belum terjadi hanyalah sebatas rencana dan angan-angan. Ini makna hidup yang kedua. Tapi pendapat ini lebih dekat dengan pemikiran Marx, tokoh komunis ternama.

Hidup itu anugerah dari Tuhan : kesempatan untuk berdharma bhakti kepada-Nya, menjalankan hukum-hukumnya. Berjalan di atas petunjuknya. Ini konsep hidup kita sebagai manusia yang sangat bergantung pada Tuhan. Maka makna hidup menjadi ringan : kesempatan berjalan menuju Tuhan.

Tapi jangan lupa, Tuhan memberikan hidup bukan hanya kepada kita, manusia. Juga kepada semut, lebah, belalang, serangga, cacing, elang, emprit, garuda, pleci, ular sawah, ikan, dan jutaan spesies dari  golongan flora maupun fauna. Mereka itu sama-sama ciptaan Tuhan yang tentu saja punya nilai, manfaat dan tujuan diciptakan. Ingat, Tuhan tidak menciptakan suatu hal pun dengan sia-sia.

Jadi sesama makhluk hidup, tugas kita saling menghargai, menghormati dan juga menghidupi. Janganlah kerakusan kita menyebabkan hidup makhluk lain terampas. Dari hal kecil saja, silahkan anda mencuci baju, tapi jangan sampai detergen dan limbah rumah tangga membunuh ekosistem air tawar. Janganlah sampah dan limbah industri membunuh ekosistem sungai. Itu baru hal kecil.

Mungkin bisa juga kita maknai, hidup adalah berbagi. Memberikan apa yang bisa kita berikan. Bukan aji mumpung kemudian mengeksploitasi segalanya untuk kenikmatan kita.

Selanjutnya, silahkan maknai sendiri bagaimana hidup anda. Sampai jumpa lain waktu.


Author : Adi Esmawan, owner jurnalva.com
Share:

Manusia Hardware

Anggap saja kita ini seperangkat komputer. Tidak usah berdebat apakah bentuknya laptop atau komputer duduk (PC). Pokoknya, anggaplah anda itu komputer yang terdiri dari dua komponen, hardware dan software. Dan diperjelas lagi, hardware itu bentuk fisiknya komputer sedangkan software adalah program di dalamnya yang kasat mata alias tidak bisa diraba. Bahkan, dicium juga tidak bisa.

Oke. Sampai di sini kita sudah tahu tanpa harus diberitahu. Hardware-nya manusia itu ya tampilan fisiknya manusia. Dari ujung kaki hingga ujung kepala, segala anggota badan itulah hardware manusia. Silahkan dipilah-pilah sendiri mana prosesor, CPU, input device dan output device. Tapi tidak usah diperinci mana yang kita anggap keyboard, mouse dan monitor. Nanti nggak bakalan ketemu. Ini cuma analogi bahkan hanya perumpamaan. Kita sama sekali tidak sedang bicara teknisi perangkat keras. Kita sedang bicara dua unsur penting manusia,yakni  jasmani dan rokhani. Kita analogikan saja jasmani itu hardware dan rokhani itu software.

Nah, mengapa judul di atas sengaja saya tulis  “Manusia Hardware”,  karena kita lebih sayang fisik daripada ruh.  Waktu kita lebih banyak habis untuk merawat fisik, kenikmatan jasmani  dan meremehkan atau bahkan mengabaikan aspek ruhani.

Kekhawatiran kita hanya pada fisik. Coba, betapa khawatirnya akan biaya ini dan biaya itu di hari esok. Semuanya biaya jasmani. Lhah biaya pendidikan? Itu masuk biaya jasmani karena pendidikan masa kini hanya untuk mencari pekerjaan? Atau kualitas hidup yang lebih baik? Ah semua hanya melulu pada kebahagiaan jasmani belaka.

Jadi, ibarat komputer, kita hanya memikirkan casing atau perangkat kerasnya saja. Oke. Kita mulai dari yang tingkat tinggi. Anggaran negara banyak yang terkuras untuk pembangunan fisik semata. Apalah itu namanya; ekonomi, infrastruktur, gedung-gedung, sarana prasarana. Yang dikejar target pertumbuhanya semata hanyalah fisik. Kita bahkan lupa bagian penting lagu kebangsaan kita “bangunlah jiwanya, bangunlah badannya, untuk Indonesia Raya”. Bangun jiwanya dulu, baru badan. Jangan badannya terus dibangun, jiwa dibiarkan sekarat bahkan mati.

Sekarang ada lagi Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia. Perlu diperjelas apanya yang mau dibangun? Jika hanya melulu soal pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM), keterampilan alias skill, maka ujung-ujungnya pasti daya saing dan kemampuan bekerja untuk mandirisasi ekonomi. Ah  lagi-lagi duit dan dunia yang jadi target.

Kita memang tidak menafikan apalagi mengesampingkan aspek kesejahteraan hidup. Apalagi menyepelekan sektor ekonomi dan uang. Sama sekali tidak. Tapi sebagai makhluk berakal dan beragama, kita semua sudah tahu, bahwa hidup di atas tanah air itu ada batas waktunya. Kita punya Tuhan sebagai tujuan. Dunia hanya gerbong kereta yang terus berjalan menuju tujuan : Tuhan. Kita tidak boleh terlena dan hanya bersenang-senang di gerbong lalu lupa tujuan. Nanti kita baru tersadar kalau sudah sampai di stasiun kematian. Nah lhoh, penyesalan sudah tiada guna.

Silahkan anda buat gerbong kereta kehidupan anda senyaman mungkin, dengan fasilitas semewah mungkin. Se-sejahtera mungkin. Tapi jangan pernah lupa tujuan perjalanan dan jangan lupa peta jalan dari Tuhan. Biar tidak tersesat. Itu saja. Maka anda akan bahagia di gerbong “dunia” dan bahagia di tempat  tujuan.

Kembali ke judul di atas “manusia hardware”. Saya jadi lupa untuk membahas lagi. Yang jelas, fisik kita, jasmani kita, pasti akan rusak. Ganteng dan cantik itu ada batas waktunya. Kekuatan mata, telinga, hati dan jantung ada umurnya. Maka, mari kita rawat jasmani kita tanpa mengabaikan ruhani kita.
Sampai jumpa di tulisan saya selanjutnya.


Author : Adi Esmawan, Pengasuh Jurnalva.com
Share:

Yuk, Nabung Ilmu!

Kita selalu mengkhawatirkan hari esok dan masa depan. Mulai dari persediaan beras, lauk, biaya sekolah, biaya nikah, biaya persalinan, biaya kuliah, biaya wisuda, biaya cicilan, biaya pengembangan ini dan itu, renovasi ini dan itu, hingga biaya kesehatan di hari tua. Saban hari, selalu hari esok dan masa depan kehidupan duniawi yang kita pikirkan dan kita usahakan. Bahkan, ada yang sampai stres dan lupa bahagia gara-gara pusing memikirkan masa depan.

Manusia mungkin adalah satu-satunya makhluk di bumi yang selalu mempersiapkan “hari esok” sebaik-baiknya. Kita tengok makhluk lain, tidak ada satupun yang punya “saldo tabungan” untuk hari esok. Kalaupun ada, paling hanya cadangan makanan atau cadangan air, misalnya pada tumbuhan dan hewan padang pasir seperti unta.

Ironisnya, kita justru lupa satu hal. Misalnya, seseorang yang sudah mempersiapkan masa depan sebaik mungkin, sekolah sudah tinggi. Deposito, asuransi dan tabungan sudah berjibun. Tapi sayang, Tuhan memanggilnya lebih cepat dari yang Ia kira. Apesnya lagi, dia belum sempat mempersiapkan diri untuk menemui-Nya dengan berbuat baik dan bermanfaat bagi manusia lain. Yah, dia terlalu sibuk mencintai dirinya sendiri.

Bukankah, sebagai makhluq beriman, kita menyakini bahwa kita akan kembali kepada-Nya?  Merpertanggungjawaban kesempatan hidup didunia yang singkat ini? Kebaikan atau keburukan apapun, walau sebesar biji dzarroh akan diperhitungkan dengan seadil-adilnya? Ya, kematian adalah keniscayaan, kepastian. Tak ada yang mengingkari itu. Dan kehidupan pasca kematian, itulah sebenarnya harus kita persiapkan sebaik mungkin.

Dengan apa? Dengan ilmu dan perbuatan (amalan). Semuanya harus dilandasi dengan ilmu. Makanya, nabi sudah mewanti-wanti, bahwa siapa yang berkehendak pada dunia, maka harus dengan ilmu. Siapa yang menghendaki akhirat, maka dengan ilmu.  Dan barang siapa yang menghendaki keduanya, juga dengan ilmu. Jadi monggo, anda menghendaki yang mana. Kalau enak-nya sih, menghendaki keduanya : dunia dan akhirat.

Tapi yang kita lakukan, hanya menabung untuk dunia kita, masa depan hidup kita di sini. Setiap hari kita mencari uang, kita belajar, kita sekolah, semuanya untuk hidup kita hanya “di sini”. Sehingga akhirat terabaikan, bahkan dianggap tidak penting. Na’udzubillah.

Acap kali, kita suruh adik-adik dan putra-putri kita untuk semangat belajar, sekolah, ikut les ini dan les itu. Ikut ekstra ini dan ekstra itu.  Tapi soal mencari ilmu agama. Ah, kita anggap itu sampingan. Itu tidak penting. Cukup ngaji di TPQ saja sudah.

Padahal, ngaji di TPQ itu hanya baru bisa membuat anak membaca huruf hijaiyah, jadi baru tahap dasar. Bayangkan, ilmu Alloh yang begitu luas, yang jika pohon-pohon dijadikan pena dan air laut dijadikan tinta, tidak akan cukup. Nah kok, anak cuman disuruh belajar TPQ. Sudah lulus SD mentok ngajinya?

Mari kita merenung sejenak. Samakan persepsi kita tentang apa makna sesungguhnya dari “Ilmu Agama”. Ketahuilah, bahwa ilmu agama adalah Ilmu yang mengatur tentang hubungan manusia dengan Tuhannya (transendental), mengatur hubungan manusia dengan manusia (sosial-horisontal), dan juga manusia dengan alam semesta. Ilmu agama akan menunjukan bagaimana hidup yang seharusnya, untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

Jadi, belajar agama itu bukan melulu tentang bagaimana cara beribadah, prosedur ritual keagamaan, apalagi hanya sebatas belajar hukum ini dan hukum nganu. Itu sempit sekali. Agama adalah ilmu tentang membentuk peradaban unggul, sebagaimana dicontohkan oleh Nabi dalam mebangun Madinah sebagai pusat peradaban.

Ajakan saya, mari belajar, mencari ilmu  sebanyak-banyaknya mumpung masih diberi kesempatan. Menabung untuk masa depan dunia juga penting, menabung untuk kehidupan kita yang panjang  lagi abadi juga sangat penting. Carilah ilmu untuk  dunia kita yang bahagia (fi dunya hasanah) dan akhirat kita yang bahagia (akhiroti hasanah).

Mari, ngaji tiap hari!
Penulis : Adi Esmawan, Pengasuh “Muhibul Qur’an”

Sumber gambar : idaluckynew.blogspot
Share:

MENGAPA AL QUR'AN DITURUNKAN BERBAHASA ARAB?

Mengapa bahasa Arab dipilih oleh Alloh sebagai bahasa al Qur’an? Pertanyaan ini sudah terjawab sendiri di dalam Al Qur'an Suroh Yusuf ayat dua. Inna anzalnahul Qur’anan ngarobiyya langalakum ta’qilun. "Sesungguhnya telah kami turunkan Al Qur'an dengan bahasa Arab, agar kalian berfikir". Dari ayat ini, umat manusia disuruh untuk berfikir, mendalami, memahami dan mengkaji kandungan Al Qur’an. Jadi, jangan mengeluh apalagi coba-coba protes. Kenapa ya Al Qur'an tidak berbahasa Jawa? Agama itu harus berhenti di sami’na wa atho’na. Kami mendengar dan kami taat.

Kemudian, soal keunggulan bahasa Arab yang katanya elegant, ringkas, dan beberapa keunggulan lainya yang dikemukakan para ahli, itu juga kehendak Alloh. Apalagi struktur tata bahasa (gramatika) dan pilihan kata dalam Al Qur’an yang memiliki kandungan sastra sangat tinggi. Itu rahasia Alloh, kita hanya bisa mengaggumi. Coba buat satu kalimat saja seperti Al Qur’an? Terlebih, Al Qur’an itu diturunkan kepada Nabi yang umiyy alias tidak bisa membaca dan menulis. Jadi, tidak mungkin nabi yang mengarang sendiri Al Qur’an.

Tapi kita perlu prihatin, mengingat Al Qur’an semakin ditinggalkan oleh umat Islam sendiri, utamanya generasi muda. Boro-boro Al Qur’an sebagai petunjuk jalan kehidupan, wong membacanya saja tidak bisa. Lebih parah lagi, keinginan atau semangat untuk mempelajari Al Qur’an kian luntur. Kajian dan komunitas yang mempelajari Al Qur’an semakin tidak diminati.

Masyarakat pada umumnya, belajar Al Qur’an hanya di waktu kecil, di TPQ dan TPA, itupun hanya belajar membaca huruf hijaiyah. Setelah lulus SD atau khatam Iqro’, selesai sudah. Bahkan ada yang tidak sampai bisa dan lancar membaca AL Qur’an sudah meninggalkan Al Qur’an.

Kita tentu bertanya-tanya. Ada apa? Bukankah Al Qur’an adalah satu-satunya penghubung antara kita sebagai hamba dengan Tuhannya? Bukankah Al Qur’an yang akan menunjukan kita pada kebaikan kehidupan dunia dan akhirat?  Bukankah Al Qur’an yang berfungsi sebagai obat hati dan penentram kegelisahan? Bukankah Al Qur’an, pangkal dari seluruh ilmu pengetahuan? Hujjah dari segala argumentasi?

Orang tua misalnya, lebih bersemangat untuk mendorong putra-putrinya mengikuti les ini dan les anu. Ekstrakurikuler ini dan ekstrakurikuler anu. Kemudian soal belajar agama? Ah, kamu sudah besar. Saatnya melatih life skill kehidupan. Ketrampilan hidup lebih utama di era persaingan hidup. Begitu kurang lebih arahan kita kepada yang lebih muda.
Padahal, di dunia ini ada dua yang harus kita cari. Harta dan Ilmu. Kedua-duanya sama-sama penting untuk hidup bahagia. Namun yang sering kita abaikan, harta dan ilmu lebih condong untuk kebahagiaan jasmani. Bukan ruhani. Padahal hukum pasti, bahwa jasmani akan rusak, mati atau punah. Harta akan berpisah dengan pemiliknya. Sedangkan ruhani akan menghadap Pencipta-Nya. Ilmu yang diamalkan dan bermanfaat akan menemani pemiliknya sebagai penolong.

 Jadi pertimbangkan kembali  alokasi harta dan ilmu untuk kehidupan kini (dunya) dan kehidupan nanti (akhirat). Agama menganjurkan kita berdo’a untuk diberi kebaikan dunia dan kebaikan di akhirat (fi dunya hasanah wa fil akhiroti hasanah).

Soal Al Qur’an, ini menjadi sangat penting.  Karena ia adalah peta jalan (road map) bagi kehidupan. Ia menuntun orang-orang yang beriman menuju kebahagiaan hidup, dunia maupun akhirat. Sudahlah, tinggalkan keragu-raguan di hati kita. Dzalikal kitabu la roiba fihi, hudal lil mutaqin. Kalau kita masih meragukan Al Qur’an, berarti di hati kita ada penyakit. Segera obati dengan belajar!

Mari kita kembali kepada Al Qur’an sebagai pedoman hidup, cara hidup, dan pembeda antara mana yang baik dan mana yang tidak baik.

Sampai disini dulu. Lusa kita sambung kembali. Oh ya, bagi yang tinggal di daerah Banjarnegara, khususnya di Kecamatan Wanayasa dan sekitarnya, silahkan bergabung dengan komunitas Muhibul Qur’an, dengan datang ke Mushola Al Falah Dukuh Sigong Desa Tempuran Kecamatan Wanayasa, setiap ba’da magrib sampai dengan ba’da Isya. Ada kajian belajar bersama tentang materi keagamaan. Ingat, sebaik-baik komunitas adalah perkumpulan belajar.


Penulis : Adi Esmawan, owner jurnalva.com
Share:

Meninjau Kembali Cara Ber-Agama Kita

Ketika di media sosial, kita ramai-ramai berkomentar, berdiskusi, bahkan berdebat kusir soal isu-isu nasional dan internasional. Soal konflik Palestina, Suriah, dan daerah lain di jazirah Arab misalnya. Juga soal hubungan Islam dan dunia barat, soal Sunni – Syiah dan benturan perbedaan lain. Teranyar, soal pembakaran tempat ibadah umat Islam di di Papua yang menjadi isu nasional.

Mulai dari diskusi di warung kopi hingga seminar dan kajian akademik. Selalu itu-itu saja yang menjadi objek kajian.  Sampai-sampai skripsi, tesis, hingga disertasi keilmuan Islam yang disorot kebanyakan hanya masalah konflik antar firqoh (golongan), perbedaan madzhab, dikotomi bid’ah vs sunnah, Suni vs Syiah, hingga aspek ritual formal ibadah transendental kepada Tuhan. Seolah-olah, hanya “itu” wajah Islam.

Ketika kita, di media sosial ramai-ramai bicara konspirasi ini dan itu, soal konflik timur tengah, bicara khilafah dan hukum Islam, bicara demokrasi atau mendikte ibadah orang lain apakah itu bid’ah atau sunnah. Sudahkah problematika kecil di kampung kita, di lingkungan kita, di alam sekitar kita, kita tengok dan dicarikan solusi?

Perbicangan soal Islam bukan melulu soal aliran, soal sunnah-bid’ah apalagi perbedaan cara ibadah. Pokok-pokok ke-Islaman yang lebih penting, justru acap kali kita lupakan. Jika menghardik anak yatim dan mengabaikan faqir miskin saja dianggap mendustakan agama, maka bagaimana soal kemiskinan yang masih menjadi problematika telanjang di negeri ini? Jika masalah menyingkirkan ranting yang ada di jalan saja, dianggap ibadah utama, jika kebersihan saja merupakan cabang dari iman, bagaimana soal kebersihan dan kenyamanan lingkungan kita?

Mari kita cermati kembali, cara beragama kita. Islam itu agama yang menjadikan akhlaqul karimah sebagai tujuan utama. Innama bu’istu li utammi makarimal akhlaq. Juga penebar kasih sayang bagi seluruh alam (wa ma arsalnaka illa rahmatal lil alamin).

Jika kita mulai menerapkan ajaran Islam dari hal sederhana, maka kita akan temukan nilai-nilai luhur peradaban Islami. Soal memuliakan tamu dan memberikan rasa aman pada tetangga, soal menyayangi anak yatim dan faqir miskin, soal bermanfaat bagi orang lain, soal tidak berbuat kerusakan, soal berbakti kepada orang tua, soal sholat jama’ah, soal zakat dan infaq, serta soal kemuliaan Ilmu pengetahuan, maka kita akan dapati, betapa luhur ajaran Islam.

Kemudian, adalah soal perang melawan hawa nafsu. Ini  juga acap kali kita abaikan. Kita melulu berdebat kusir sampai cek-cok gara-gara bicara soal perang ini dan perang anu. Sementara hawa nafsu kita, amarah kita, kedengkian kita, kesombongan kita, rasa paling benar kita, dibiarkan tumbuh subur untuk hidup dalam hati sanubari. Jika demikian, sering-sering saja baca Al Qur’an dan dzikir kepada Allah SWT. Alla bidzikrillahi tatmainul qulub. Hanya dengan ingat kepada Alloh hati menjadi tentram.

Namun, jika kita ber-Islam dari hal yang muluk-muluk, misalnya soal penegakkan “hukuman Islam”, soal-soal kafir dan musyrik, soal sunnah-bid’ah, soal organisasi,  hingga soal konspirasi tingkat tinggi dan politik yang menyeret “nama agama”, maka keber-agamaan kita akan berubah menjadi kebencian, kebengisan dan penuh prasangka.

Soal amar ma’ruf nahi munkar-, maka  terpenting dimulai dari diri sendiri. Pastikan kita sendiri sudah menjalankan yang ma’ruf, sebelum menyuruh yang lain berbuat ma’ruf apalagi menyuruh nahi munkar. Jangan sampai kita menjadi antaquluna mala tafgalun, mengatakan apa yang tidak dilakukan yang amat dibenci oleh Tuhan.

Sebagai ajaran yang sempurna, tentu Islam akan menumbuhkan peradaban yang unggul dan memunculkan situasi yang nyaman dalam beribadah kepada-Nya. Serta, menebarkan kasih sayang kepada seluruh mahkluqnya.

Mari, jangan tinggalkan pokok-pokok  ajaran agama yang sederhana. Sebelum bicara masalah umat level nasional dan Internasional, yang hanya berdebat tanpa melakukan apa-apa, cobalah tengok kampung, dusun, atau kawasan tempat kita tinggal. Sudah bersihkah mushola kita, sudahkan anak-anak di kampung kita bisa membaca Al Qur’an, bagaimana anak-anak yatim dan faqir, bagaimana pengelolaan zakat agar lebih produktif,  bagaimana hubungan dengan tetangga, bagaimana jama’ah kita. Dan seterusnya.

Dalam berdakwah, nabi Muhammad SAW sendiri sangat lembut dalam bersikap, meski sangat tegas dan keras dalam hal akidah dan keyakinan. Nabi adalah tauladan bagi segala golongan. Maka mari, jangan mudah marah, menebar kebencian dan prasangka.
Salam inspirasi. Mohon koreksi dan teguran jika salah.


 Penulis : Adi Esmawan, owner jurnalva.com
Share:

Definition List

Unordered List

Support