Jurnal Wawasan dan Inspirasi Kehidupan

Bank Sampah, Manajemen Efektif Pengelolaan Sampah

Jangan pernah menganggap enteng masalah sampah. Ya, sampah kadang menjadi musuh paling serius dalam...

Budaya Sambat, Gotong Royong yang Mulai Luntur

Tanpa kita sadari namun sangat kita rasakan, banyak kebaikan dan kearifan yang hilang seiring berjalannya zaman. Dulu, jika..

Programer : Seniman Tingkat Tinggi?

Judul di atas mungkin terlalu “narsis” atau terkesan menempatkan programer pada derajat yang amat terpuji. Tapi agaknya itu yang

Membaca Soekarno, Soeharto dan Indonesia Kita

Kalau hanya untuk menghafalkan materi, tebak-tebakan soal, dan mempelajari keahlian tertentu, tidak usah pakai guru. Pakai komputer saja lebih hebat. Kalau sekolah hanya

Sebentar Lagi, Guru Akan Tersingkir?

Kalau hanya untuk menghafalkan materi, tebak-tebakan soal, dan mempelajari keahlian tertentu, tidak usah pakai guru. Pakai komputer saja lebih hebat. Kalau sekolah hanya menjalankan fungsi “pengajaran”, pakai komputer saja. Tidak usah dan tidak perlu bimbingan guru.

Selamat Datang Ramadhan....

Selamat Datang Ramadhan....

Ramadhan datang lagi. Menjawab kerinduan yang tertahan selama sebelas bulan. Adakah kegembiraan yang hadir di hati kita? Adakah semangat yang tumbuh dari dalam jiwa kita?

Ya, kegembiraan karena kita masih diberi kesempatan bertemu lagi dengan ramadhan. Sedang banyak saudara-saudara kita yang sudah tidak lagi berjumpa dengan ramadhan tahun ini. Kegembiraan, karena kita mendapat kasih sayang dengan ganjaran yang berlipat. Kegembiraan, karena pada bulan yang mulia ini, Alloh SWT melapangkan pintu ampunan seluas kasih sayang-Nya.

Kemudian rasa semangat yang harus tumbuh untuk menunaikan pengabdian yang utuh kepada Tuhan. Rasa semangat untuk membersihkan hati, membersihkan jiwa, dan juga membersihkan harta.

Memang, ramadhan adalah ruang untuk membersihkan jiwa sebagai tujuan utama. Jiwa yang telah sekian lama berkubang dalam kotoran salah dan dosa-dosa. Jiwa yang selama ini selalu mengedepankan hawa nafsunya. Jiwa yang selalu gelisah mengkhawatirkan dunia, namun menggampangkan akhirat. Jiwa yang selalu menganggap mahal dunia, dan menanggap murah kehidupan yang akan datang setelah kematian.

Maka di ramadhan yang penuh berkah, mari kita bersihkan kotoran yang melekat di hati kita. Singkirkan sikap iri, dengki, dan takabur alias sombong. Mudah-mudahan bisa. Sedikit demi sedikit.

Karena pada ujungnya, ketentraman jua yang kita cari. Keheningan, endapan. Sepi

Wallohu ‘alam.
Share:

Esai : Inspirasi dari Matahari di Waktu Pagi


Suatu sore, seperti kebiasaan saya. Ngopi  sambil buka juz amma. Saya buka sembarang, ketiban di surat As Syams  atau  Wa Syamsi Wa Dhuhaha. Pembaca semua mungkin sudah hafal betul. Ku baca pelan-pelan. Alon-alon waton kelakon-adagium Jawa. Ketika sampai pada ayat : Qod Aflaha man zakaha. Wa qod hobba man dassaha. Sebuah sindiran menyeruak masuk di dada ini.

Sebelum lanjut, mungkin saya beri tahu pada pembaca ayat dan terjemahnya :



Pada ayat di atas, kita akan tahu, betapa Al Qur’an telah mengarahkan, kemana hidup ini harus diarahkan. Dan bagaimana menjaga jiwa agar tetap di jalan taqwa kepada-Nya.
Baik, mari kita mulai renungan berat ini. Di awal suroh As Syams (yang berarti Matahari), Alloh  telah bersumpah dengan tujuh ciptaan-Nya :

1    1. Wa syamsi wa duhaha (Demi (perhatikanlah) Matahari dan cahayanya di kala pagi)

2    2. Wal qomari idza talaha (Dan bulan, ketika mengiringinnya)

3    3. Wan nahari idza jalaha (Dan siang apabila menampakkannya)

4    4. Wal laily idza yaghsyaha (Dan malam ketika ia menutupnya)

5    5.Wa sama’i wama banaha (Dan langit serta pembinaanya)

6    6. Wal ardhi wama tohaha (Dan bumi serta perhamparannya)

Kemudian yang ketujuh, Alloh bersumpah dengan menyebut jiwa :
7    7. Wannafsiw wama sawaha (Dan (Perhatikanlah) jiwa serta penyempurnaan ciptaanya)

Setelah bersumpah dengan menyebut jiwa, ayat selanjutnya memberitahukan kepada kita :
8   8.Fa alhamaha fujuroha wa taqwaha (Maka Alloh telah mengilhamkan kepada jiwa itu, untuk (memilih) jalan Kefasikannya atau Ketaqwaanya.

Kemudian, di ayat selanjutnya, sungguh Alloh Azza wa Jalla telah memberikan petunjuk dengan terang benderang yang terkait dengan ayat sebelumnya :

9    9. Qod aflaha man zakaha (Maka sungguh beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu....)

1   10. Wa qod hoba man dassaha (Dan sungguh merugilah orang yang mengotori jiwannya...)

Maha benar Allo dengan segala firman-Nya. Ini adalah petunjuk sekaligus instruksi bagi kita. Jiwa kita. Betapa, jiwa manusia telah diberi dua pilihan sekaligus dua jalan oleh Alloh Robbul Alamin. Pertama adalah jalan kefasikan, jalan yang mengingkari ‘adanya’ eksistensi Tuhan, meniadakanNya dalam kehidupan, atau pura-pura mengaggapnya ‘ada’ secara simbolis. Tapi secara nyata mengingkari apa yang dikehendaki oleh-Nya. Itulah jalan fasik. Jalan yang mungkin dipilih oleh kebanyakan jiwa-jiwa yang mengisi raga kebanyakan manusia di jagad ini. Bahkan mungkin, jiwa kita terkadang “nyasar” atau sengaja mengambil jalan itu. Dan perjalanan hidup jiwa ini selalu berpotensi melenceng pada jalan kefasikan. Maka dari itulah kita selalu butuh bimbingan-Nya sepanjang perjalanan hidup ini.

Kedua adalah jalan ketaqwaan. Sebuah jalan hidup yang  tunduk pada-Nya. Mengakui eksistensi dan kekuasaan-Nya secara mutlak. Jalan yang membuat jiwa akan selalu mengabdi pada-Nya dengan ikhlas. Jalan orang yang dicintai, dirahmati dan diridhoi oleh-Nya.

Nah, kemudian jelas tegas. Bahwa alangkah beruntungnya orang-orang yang “membersihkan jiwanya”. Qod aflaha man zakaha. Jiwa yang selalu terjaga dari noda-noda kotor kehidupan dunia yang fana. Jiwa yang selalu menjaga integritasnya dihadapan sang Pencipta sekaligus Pengawas hidupnya. Jiwa yang selalu mendahulukan nurani dan akal jernihnya, dibanding hasrat dan nafsunya. Jiwa yang terjaga.. Jiwa yang akan kembali menghadap Robb-nya dengan tenang dan damai.

Dan, mari kita tengok jiwa kita masing-masing. Jiwaku, jiwa yang lemah dan lalai. Jiwa yang diperbudak oleh hasrat dan nafsu. Jiwa yang selalu dikotori oleh noda-noda keinginan ragawi. Jiwa yang tidak pernah puas atas anugerah dari-Nya. Jiwa yang mendahulukan nafsunya dibanding akal jernihnya. Jiwa yang jauh dari bijaksana. Jiwa yang menyesatkan ragannya. Jiwa yang menuntun mulutnya untuk selalu berkata dusta. Jiwa yang menuntun tangannya untuk melakukan tindak nista dan durja. Jiwa yang menuntun hatinya untuk angkuh, sombong dan merendahkan yang lain. Jiwa yang selalu mendorong untuk berlaku keji dan munkar. Jiwa yang selalu berambisi, berkhayal, untuk hidup “se-enak-enaknya”. Jiwa yang bermental berkhianat kepada-Nya. Jiwa yang jauh dari bimbingan dan petunjuk-Nya. Ampuni jiwaku ini...


Tidak ada cara lain. Selain berusaha membersihkan jiwa ini dari segala noda-noda yang lekat menempel sebegitu banyaknya. Jiwa yang sudah mengidap berbagai penyakit kronis : iri, dengki, sombong, dendam, pemarah, rakus, dan ingkar pada-Nya.

Mari, kita kunjungi jiwa kita. Mungkin jiwa kita terlalu berantakan, kotor. Perlu ditata ulang dan dibersihkan kembali. Dengan apa? Tentu saja dengan mengingat-Nya, berdzikir. Buka kembali Al Qur’an, baca dengan pelan, pahami makna dan anjurannya. Hiduplah berlandaskan kalam-Nya. Agar kita selalu ada di atas jalan-Nya. Jalan yang diridhoi oleh-Nya. Bukan jalan orang-orang yang dimurkai, dan bukan pula jalan orang-orang yang tersesat. Ammin ya mujiba sa’ ilin.

Begitulan coretan singkat ini. Mudah-mudahan bermanfaat bagi pembaca. Dalam hal belajar hidup dari Al Qur’an, kita mulai dari yang ayatnya pendek-pendek dulu. Baca dengan perlahan, kemudian resapi. Kalau dinding-dinding hati kita masih bergetar oleh ayat-ayat Al Qur’an, itu tandanya hati kita masih bisa diobati. Belum di tutup dari menerima hidayah-Nya.


Penulis : Al faqir, Adi Esmawan, seorang buruh. Pengasuh media jurnalva.com, sekaligus pengasuh sanggar Muhibul Qur’an Study Club, Tempuran, Wanayasa, Banjarnegara. Mahasiswa STIMIK Tunas Bangsa, Banjarnegara.




Share:

Yuk, Belajar Al Qur’an dan Tajwid Dengan Aplikasi Ini

Sudahkah, anak-anak kita, adik-adik kita, keponakan, dan tunas-tunas muda di sekitar kita dapat membaca Al Qur’an dengan baik dan benar sesuai dengan kaidah Ilmu Tajwid? Atau jangan-jangan, kita sendiri masih “tertatih-tatih” saat membaca kalamulloh tersebut?

Karena sudah bisa dipastikan, kalau membacanya saja tidak  bisa, apalagi mampu memahami, memaknai dan mengamalkanya?

Lebih parah lagi, jika kita justru semakin meninggalkan Al Qur’an dan tidak memberikan “porsi penting” pendidikan Al Qur’an bagi anak-anak dan adik-adik kita. Lalu lebih mementingkan les matematika, bahasa Inggris, dan lain sebagainya.  Ingat, semuanya adalah sama-sama penting, baik matematika, bahasa Inggris, dan juga Ulumul Qur’an.

Di era kemajuan teknologi, sudah selayaknya kita menyelaraskan diri, menyesuaikan keadaan. Karena kemajuan teknologi, tak ada seorangpun yang sanggup membendung, apalagi menolaknya. Kita harus memanfaatkannya untuk kemaslahatan dan kemudahan umat, terlebih di bidang pendidikan.

Saat ini, telah banyak metode pendidikan berikut perangkatnya yang dibuat dan dikembangkan dengan plafond digital, baik versi dekstop (komputer duduk) mapupun versi android untuk ponsel pintar.

Nah, untuk memudahkan belajar Al Qur’an dan Ilmu Tajwid, telah ada aplikasi yang disajikan oleh situs http://quran-terjemah.org/ .  Aplikasi tersebut tersedia untuk komputer  dekstop dan android.



Apa saja menu yang ada dalam aplikasi? Nah, ini yang penting. Ada aplikasi Qur’an dan terjemahnya, baik ke dalam bahasa Indonesia maupun Bahasa Inggris. Kemudian tersedia audio Qu’an untuk diperdengarkan. Terpenting, ada pedoman praktis Ilmu Tajwid yang bisa digunakan untuk belajar. Selain itu, dilengkapi aplikasi jadwal adzan yang akan berbunyi otomatis.  Untuk pengaturan, tersedia menu setting dan konfigurasi.

Untuk komputer dekstop, ada versi untuk windows 32 bite dan 64 bite, tinggal pilih sewaktu dwonload. Untuk sistem operasi selain windows (linux) mungkin belum tersedia.

Nah, bagi pembaca yang tertarik dengan aplikasi ini, silahkan dwonlad di sini. Kemudian silahkan diinstal di komputer / smartphone masing-masing. Info lengkap, silahkan kunjungi  http://quran-terjemah.org/


Selamat belajar Al Qur’an serta tajwid dengan  menyenangkan. Semoga bermanfaat.
Share:

Sebentar Lagi, Guru akan Tersingkirkan?

Kalau hanya untuk menghafalkan materi, tebak-tebakan soal, dan mempelajari keahlian tertentu, tidak usah pakai guru. Pakai komputer saja lebih hebat. Kalau sekolah hanya menjalankan fungsi “pengajaran”, pakai komputer saja. Tidak usah dan tidak perlu bimbingan guru.

Di komputer itu semuanya sudah tersaji lengkap. Anda mau ilmu apa? Komplit sudah. Mau bahasa apa? Tanya masalah apa? Bahkan para sarjana-sarjana, ilmuwan-ilmuwan, dai-dai, ustadz-ustadzah, hingga doktor dan profesor, mereka lebih suka merujuk ke google untuk menjawab permasalahan yang dihadapi.

Komputer  itu seperti siluman. Ia bisa menjelma sebagai orang tua, manajer, konsultan, kyai, teller bank, dokter, tentara, pacar, mata-mata, bahkan Tuhan tempat minta tolong. Komputer menjelma sebagai berhala baru, sesembahan baru.

Komputer itu hafal Al Qur’an dan segala kitab, teori Newton, Enstein, morfologi dan deskripsi seluruh makhluq semesta. Komputer hafal semua itu.

Guru-guru yang kata pepatah Jawa “digugu lan ditiru” itu, kini lebih suka menyuruh muridnya cari referensi di komputer. Ibu rumah tangga kalau mau masak, tingal cari resepnya di jagad mayantara. Bahkan kalau mau belanja, tidak perlu repot ke pasar. Silahkan ambil gagdet dan belanja sepuasnya di ujung jari.
------
Era komputer telah membawa warna baru dalam dunia pendidikan. Kini, akses terhadap berbagai macam disiplin ilmu  dengan mudahnya dicari dan dipelajari lewat internet. Wawasan dan cakrawala pengetahuan begitu melimpah ruah di jagad mayantara, tentang apapun, dimanapun dan kapanpun, tanpa berbatas jarak, ruang dan waktu.

Komputer dan internet seolah dapat menjawab segala kebutuhan yang diinginkan masyarakat. Maka kita dapati, anak-anak SD sampai kuliahan, dari ibu rumah tangga sampai akademisi, ada masalah sedikit saja langsung merujuk  internet  untuk mencari jawaban, solusi sekaligus informasi yang diinginkan.

Menjamurnya sistem pembelajaran online, kuliah online, serta banyaknya artikel tutorial dan edukasi di komputer, perlahan tapi pasti akan menggeser peran guru dan sekolah dalam memberikan pelajaran. Bahkan, anak-anak muda sekarang lebih suka mengasah skill dan kompetensinya melalui internet dibandingkan belajar pada gurunya atau komunitas.

Bahkan ada ungkapan, bahwa lembaga pendidikan terbaik adalah “Google”. Sungguh mencengangkan.

Memang, jika hanya knowledge yang hendak dicapai dari sebuah proses pendidikan, maka internet adalah ruang terlengkap. Internet adalah perbendaharaan terkomplit segala pengetahuan.


Komputer pada awalnya memang di desain untuk memudahkan manusia, bukan untuk menggantikan peran manusia dalam tatanan kehidupan. Namun pada faktanya, komputer dan robotika (kecerdasan buatan) telah menggusur peran manusia di beberapa bidang. Mulai dari penggunaan robot dalam dunia industri, penemuan sistem terintegrasi di berbagai sektor kehidupan, hingga penggunaan drone untuk menggantikan personel militer saat berperang.

Dan bukan tidak mungkin, posisi guru juga akan tergantikan oleh komputer. Apalagi kalau guru hanya berorientasi “mengajar”, bukan mendidik. Mengajar itu hanya memberikan materi kepada peserta didik untuk hafal teori, mengajari agar bisa keahlian tertentu. Dan hal seperti ini sangat mudah dilakukan oleh komputer.


Komputer dapat melakukan apa saja sesuai kehendak pemiliknya. Ya, karena komputer adalah sebuah perangkat yang  punya otak dasar dan siap diisi dengan berbagai program untuk menjalankan sebuah fungsi sesuai dengan yang diinginkan penggunanya.

Dari mulai hal yang sangat sederhana dan terkesan sepele, seperti menampilkan tulisan “Hello World” di layar monitor ketika kita meng-klik icon tertentu, menghitung luas segitiga dengan input angka alas dan tinggi, mengidentifikasi wajah dari foto/sidik jari pada KTP dengan mencocokkan data pada database pemerintah, menggantikan teller bank pada sistem ATM, menjawab keluhan pengguna di berbagai layanan costumer service, sampai cara untuk memberikan komando tertentu pada robot yang mendarat di planet Mars dengan jarak 225,300,000 km dan delay time sampai 13 menit.

Kembali ke soal guru, akankah peran dan kontribusinya akan tergusur oleh komputer. Jawabanya bisa ia dan bisa tidak. Jika guru  hanya berfungsi sebagai “pengajar” yang memindahkan teori di modul atau buku untuk dihafal peserta didik, kemudian mengujinya dengan tebak-tebakan soal, buat apa pakai guru? Guru akan tergantikan oleh komputer atau setidaknya peran dan fungsinya tidak lagi dominan dalam kehidupan.

Agar tetap eksis dan tidak tergeser oleh komputer, seharusnya guru lebih mengajarkan problem solving skill (kemampuan mengatasi masalah) dan berfungsi sebagai pendidik. Beda  antara “pengajar” dan pendidik. Jika pengajar hanya berorientasi membuat siswa-siswinya hafal dan tahu, maka “pendidik” akan membentuk peserta didiknya menjadi bisa, tangguh, faham, dan mengamalkan apa yang diketahuinya. Mendidik itu dengan teladan, dengan bahasa perbuatan. Bukan hanya sekedar lisan dan tulisan. Itulah yang akan membedakan Guru berbentuk komputer dan Guru berwujud manusia.
Kita lihat saja nanti.


Adi Esmawan, owner jurnalva.com Mahasiswa Sitem Informasi STIMIK Tunas Bangsa, Banjarnegara
Share:

Knowledge Is Power!

Secara fisik, manusia bukanlah makhluq yang terkuat. Dibandingkan macan, singa, gajah, bahkan kerbau dan sapi, manusia kalah “kuat” secara fisik dan tenaga. Apalagi  dibandingkan dengan pohon-pohon nan besar, tinggi lagi menjulang yang berumur ratusan tahun. Manusia bukanlah apa-apa secara fisik dan jasmani.

Namun dalam lembaran kitab suci, manusia adalah pemimpin sekaligus wakil Tuhan di muka bumi. Ia yang semestinya bertanggung jawab atasa apa yang terjadi di alam semesta. Dan manusia yang berkuasa atas masa depan bumi ini.

Untuk menjadikan manusia sebagai khalifah, Tuhan tidak membekali manusia dengan “taring dan kuku tajam” seperti macan dan serigala. Bukan pula  memberikan bentuk fisik yang jumbo dan kuat, macam gajah atau banteng. Secara fisik, manusia itu lemah (dhoif), tertusuk jarum yang kecil saja dia sudah merasa sakit. Batas umurnya juga tidaklah lama, rata-rata berkisar  enampuluh sampai delapan puluh tahun. Tidak seperti pohon beringin yang usianya bisa sampai sepuluh abad.

Lalu apa yang menjadikan manusia bisa menjadi penguasa dan mahkluq terkuat di bumi ini? Hingga binatang buas apapun akan tunduk pada manusia? Jangankan sebatang pohon, bahkan hutan nan lebat, gunung, lembah, sungai, lautan, hingga dasar bumi juga dikeruk dengan mudahnya?

Ya, begitu kuat dan hebatnya manusia. Ia diberi suatu kelebihan yang tidak dimiliki mahkluq lain, bahkan para malaikat sekalipun. Manusia dibekali akal untuk berfikir dan menciptakan sejuta cara untuk eksistensi hidupnya. Akal yang akan yang membuat manusia menjadi super power. Dan akal adalah penampung segala ilmu pengetahuan.

Maka, segala puji bagi Alloh, yang telah mengajarkan manusia dengan perantara pena, mengajarkan apa yang belum diketahuinya.

Ilmu pengetahuan adalah kekuatan. Ia adalah senjata adigdaya yang dimiliki oleh manusia untuk mengalahkan apapun, membuat apapun, singgah dimanapun. Tak jarang ilmu pengetahuan menjadikan manusia berbuat semena-mena dan merusak lingkungan.

Manusia dapat terbang tinggi mengarungi angkasa seperti rajawali bahkan lebih cepat, itu karena ilmu pengetahuan. Ia dapat mengarungi dasar samudra, berlayar di laut lepas dalam ombang-ambing badai, itu juga karena ilmu pengetahuan. Bahkan, saling bunuh dengan senjata berteknologi tinggi, itupun karena ilmu pengetahuan.

Ilmu pengetahuan adalah kekuatan. Bisa jadi kekuatan yang menyelamatkan, memajukan. Dengan ilmu pengetahuan, kemudahan hidup dan kesejahteraan manusia meningkat pesat. Rumah-rumah berdiri megah, gedung-gedung menjulang. Jalan-jalan menembus gunung, menyusuri lembah, bukit dan ngarai. Padi, buah, dan sayur melimpah.

Ilmu pengetahuan adalah kekuatan. Bisa jadi ia menjelma sebagai sumber kehancuran peradaban. Maha karya ilmu pengatahuan : teknologi nuklir misalnya. Jika ia tidak diimbangi dengan kearifan, maka masa depan dunia dalam kekhawatiran  akan bayang-bayang kehancuran.

Ilmu pengetahuan adalah kekuatan. Namun ia harus ditopang dengan keimanan, bahwa di atas segalanya, ada Dzat yang Maha Tahu dan memiliki segala ilmu. Ia yang mengenggam merah hitam   wajah dunia.

Manusia boleh dan sah-sah saja melakukan penelitian dan pengembangan. Di bidang apapun. Cari dan temukan ilmu  apa saja dan dimana saja. Asalkan tidak melupakan esistensi kekuasaan-Nya di atas segala-galanya. Dengan begitu, tidak ada ruang bagi manusia  untuk sombong, angkuh, congkak, dan merasa paling digdaya di alam ini.

Wallohu a’lam.


Share:

Bagaimana Hukum “Patung dan Gambar” Menurut Islam?


Masalah “patung dan gambar” menurut fiqh Islam kekinian masih saja memicu kontroversi, perdebatan bahkan pertentangan.
 Hal  ini wajar. Karena Indonesia adalah mayoritas berpenduduk muslim terbesar di dunia namun dibeberapa kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Medan dan lainnya, berbagai patung tinggi menjulang kita jumpai di sana sini. Lalu sebenarnya, apa hukum patung dan gambar dari sudut pandang hukum Islam?
Juga masih segar dalam ingatan ketika beberapa waktu lalu publik dihebohkan dengan aksi sweeping Front Pembela Islam (FPI) yang mencegah Bupati Purwakarta Dedi Mulyana memasuki kota Jakarta. Alasanya menurut FPI, Bupati Dedi dianggap menyebarkan kemusyrikan dengan membuat banyak patung di berbagai pusat kota Purwakarta. Entah patung-patung tersebut bertujuan untuk mempercantik kota dengan nuansa seni atau tujuan lainya.
Nah, berikut penjelasan yang disampaikan oleh Ustadz Ahmad Sutarwan Nawawi (Guru Penulis di Pondok Pesantren Al Fatah Banjarnegara, Jawa Tengah) tentang hukum patung dan gambar menurut hukum Islam.
Dalam terjemahan bahasa Arab, gambar atau foto disebut dengan kata “tashwir”. Dalam hukum Islam tashwir mempunyai beberapa hukum. Hukumnya tidak satu hukum tetapi ada beberapa tinjauan.
Karena tashwir mempunyai jenis yang berbeda-beda, karena itu hukumnya pun berbeda.
Tashwir jenis yang pertama ialah timtsal yaitu membuat patung. Entah itu terbuat dari batu atau kayu atau juga dengan sejenis materi yang keras yang bisa dibentuk dengan berbagai macam bentuk.
Dalam hal ini ulama bersepakat atas keharamannya, yaitu mengharamkan semua gambar yang bertubuh seperti patung hewan dan manusia. Karena yang demikian ini lah yang mendapat ancaman besar dari Allah SWT dan RasulNya SAW melalui hadits-haditnya.
Dan dalam kaidah ushul fiqh dikatakan, adanya ancaman atas sesuatu tententu dalam nash-nash syari’i merupakan penjelasana atas keharaman hal tersebut. Rasul SAW bersabda:

إن أشد الناس عذابًا يوم القيامة المُصَوِّرون

“sesugguhnya manusia yang paling keras siksaannya nanti di hari kiamat ialah al-mushowwirun (orang-orang yang membuat patung)”
الذين يضاهئون بخلق الله

Dalam riwayat lain disebutkan “mereka yang menyerupai/menandingi ciptaan Allah (membuat patung makhluk menendingi ciptaan Allah).” (HR Bukhori dan Muslim)

Dalam hadits qudsi, Allah SWT berfirman :

ومن أظلم ممن ذهب يخلق خلقا كخلقي..........

“siapakah yang lebih zolim daripada mereka yang menciptakan makhluk seperti makhlukku…….….” (HR Bukhori dan Muslim)

Dan patung juga merupakan penyebab dimana malaikat dak akan masuk kerumah yang ada patungnnya. Dan adanya mailakat di rumah setiap muslim ialah bentuk rahmat yang diturunkan oleh Allah SWT kepada orang tersebut.

Berarti jika malaikat itu tidak mau masuk, itu sama saja Allah Mengharamkan rahmat-Nya untuk orang tersebut. Rasul SAW bersabda:
“sesungguhnya malaikat tidak akan memasuki rumah yang didalamnya ada patung ……..” (HR Bukhori dan Muslim)”

Sebagian ulama mengatakan bahwa salah satu sebab kenapa malakait tidak mau memasuki rumah yang didalamnya ada patungnya ialah, karena si pemilik patung itu telah bertasyabbuh/menyerupai orang kafir; karena mereka membuat patung yang kemudian patung itu mereka agung-agungkan.

Pengecualian Mainan Anak-anak
Namun dalam hal ini dikecualikan patung semacam apa yang sering dimainkan oleh anak-anak. Tidak mengapa, karena apa yang dimainkan oleh anak-anak tersebut yang berupa patung-patung, itu tidak diciptakan untuk menandingi ciptaan Allah atau bahkan mengagung-agungkannya.


Disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan Imam Abu Daud dengan sanad yang shohih, bahwa dimasa awal pernikahan Nabi SAW dengan ‘Aisyah yang ketika itu masih kecil, aisyah sedang bermain bersama dengan anak perempuan lainnya.

Dan diantara mainan anak-anak tersebut terdapat sebuah patung kuda kecil bersayap yang membuat Rasul SAW bertanya kepada ‘Aisyah : “apa itu wahai ‘Aisyah?”. Kemudian ‘Aisyah menjawab “ini kuda wahai baginda Nabi”.

Kemudian Nabi bertanya lagi: “apakah kuda mempunyai 2 sayap?”. ‘Aisyah membalas: “apakah kau belum mendengar bahwa Sulaiman mempunyai kuda yang punya 2 sayap?”. Mendengar jawaban itu Rasul SAW tertawa hingga gigi grahamnya terlihat.

Jenis Tashwir Kedua :
jenis tashwir yang kedua ialah lukisan tangan, yaitu berupa kesenian yang dilukis baik itu diatas kertas atau tembok atau baju, kaos dan sejenisnya.
Dalam hal ini ulama berbeda pendapat tentang keharaman dan kebolehan hal tersebut. Dr. Yusuf Al-Qorodhowi dalam kitabnya Al-halal wal-Harom [
الحلال والحرام] membahas tantang masalah lukisan ini. Beliau menjawab :

Hukum lukisan itu tidak bisa ditetapkan kecuali setelah dilihat dan ditinjau, untuk apa lukisan itu dibuat? Dimana lukisan itu dibuat? Dan apa tujuan si pelukis melukis itu?

Jika lukisan itu diniatkan oleh pelaku untuk sesembahan dan pengagungan selain kepada Allah SWT seperti melukis hewan Sapi, yang hewan itu ialah sesembahan orang-orang Hindus. Maka pelukisnya telah kufur karena kelakuannya telah menyalahi tauhid dan lukisannya itu jelas haram.

Ini didasarkan oleh hadits Nabi SAW yang telah lewat diatas tadi : "sesugguhnya manusia yang paling keras siksaannya nanti di hari kiamat ialah al-mushowwirun” (HR Bukhori dan Muslim)

Imam Thobroni mengatakan : "yang dimaksud dengan kata mushowwir dalam hadits tersebut ialah orang yang menggambar/melukis lalu kemudian lukisannya itu dijadikan sembahan"

Dan ia dengan sengaja melukis untuk tujuan itu. Maka karena perbuatannya itu ia menjadi kafir. Dan kalau ia melukis bukan untuk tujuan itu maka ia tidak menjadi kafir namun ia berdosa.

Yang juga haram ialah lukisan yang bertujuan tidak untuk sesembahan namun untuk menandingi ciptaan Allah SWT atau menyerupainnya. Ini sesuai dengan hadits Nabi SAW diatas:


أشد الناس عذابا يوم القيامة الذين يضاهئون بخلق الله
“sesungguhnya orang yang paling keras siksaannya dihari kiamat ialah mereka yang menyerupai/menandingi ciptaan Allah (membuat patung makhluk menandingi ciptaan Allah).” (HR Muslim)

Ini tergantung atas niat si pelakunya. Kemudian yang juga diharamkan ialah lukisan/gambar orang-orang yang disucikan dalam ritual kegamaan seperti gambar-gambar malaikat, para Nabi dan juga para Wali atau orang-orang sholeh. Karena perbuatan yang demikian itu termasuk tasyabbuh dengan orang-orang kafir.

Adapun gambar atau lukisan lain yang tidak dilukis untuk tujuan yang telah dijelaskan diatas. Kalau itu gambar yang tidak bernyawa seperti gambar pegunungan, kebun, mobil, motor dan semisalnya maka itu tidak mengapa, boleh-boleh saja.

Adapun jika itu gambar yang bernyawa, namun itu bukan karena tujuan yang telah dijelaskan diatas itu tidak mengapa. (lihat al-halal wal-harom hal 96)

Namun ada juga ulama lain yang mengatakan bahwa lukisan tangan yang boleh hanyalah lukisan yang tidak mengandung nyawa. Adapnun jika lukisan itu bernyawa maka itu hukumnya sama dengan patung yang jelas mendapat ancaman keras dari Allah dan Rasul-Nya.

Dan gambar bernyawa itu dibolehkan jika kepala tidak tergambar sempurna. Seperti lukisan orang yang sedang membaca kitab dan mukanya tertutup sebagian oleh kitab itu.

Atau juga tertutup dengan bunga yang sedang dipegangnya. Karena muka adalah gambaran nyawa dan jika muka itu tidak tergambar sempurna maka itu bukan disebut makhluk bernyawa. Ini sebagaimana yang dijelaskan dalam beberapa hadits nabi SAW.

Diantaranya ialah apa yang diriwayatkan oleh Imam An-nasa’i yang menyebutkan bahwa jibril pernah meminta izin kepada Nabi SAW untuk memasuki rumahnya dan rasul mengizinkannya. Namun ia menolak untuk masuk dan berkata:
كَيْفَ أَدْخُلُ وَفِي بَيْتِكَ سِتْرٌ فِيهِ تَصَاوِيرُ فَإِمَّا أَنْ تُقْطَعَ رُءُوسُهَا......

“bagaimana aku masuk kerumahmu sedangkan didalamnya ada satr (sitar/kain penghalang) yang ada gambarnya. Kalau memang harus begitu, potonglah kepalanya……” (HR An-Nasa’i)

Jenis Tashwir Ketiga:
Yaitu tashwir dengan menggunakan kamera atau video. Jumhur (kebanyakan) ulama melihat ini adalah perbuatan yang boleh-boleh saja. Tidak ada keharaman didalmnya.
Karena pada hakikatnya memotret bukanlah aktifitas tashwir yang diharamkan yaitu penciptaan atau menyerupai ciptaan Allah SWT. Sebagaimana yang disinggung dalam hadits-hadits diatas tadi yaitu dengan kata yakhluqu ka kholqi (menciptakan seperti ciptaan ku) atau juga yudhohi’una kholqollahi (mereka yang menyerupai ciptaan Allah). Nah inilah sebab pengharamnanya.

Memoto atau memotret walaupun disebut dengan aktifitas membuat gambar, namun itu tidak diharamkan karena tidak ada illat(sebab hukum) pengharamannya seperti pembuatan patung.
Dalam kaidah ushul fiqh disebutkan :

الحكم يدور مع العلة وجودا وعدما

“hukum itu berlaku sesuai dengan ada tidaknya illat hukum tersebut.”

Foto pada hakikatnya ialah menahan bayangan suatu benda dan bukan menciptakan. Sehingga tidak bisa dikatakan sebagai proses penciptaan gambar kecuali dalam makna kiasan.

Dalam proses penetapan suatu hukum, yang menjadin pedoman ialah hakikat itu sendiri bukan nama yang digunakan. Dan juga kebolehan kegiatan ini bukan tanpa syarat. Pengambilan foto ini dibolehkan jika objek-objek yang diambil adalah objek yang halal juga, seperti hewan, bangunan, pemandangan alam dan sebagainya.

Seperti kebutuhan setiap orang akan urusan admidnistrasi yang memang diharuskan untuknya menjadi objek potret. Semisal untuk kartu identitas, passport dan sebagainya.

Dan menjadi haram juga jika objek yang dipotret adalah objek yang haram juga, seperti wanita telanjang atau gambar-gambar yang mengundang syahwat. Tapi apa gunanya seorang muslim memotret objek-objek haram semacam itu? Atau menyimpannya malah di lemari dan di pajang ditembok kamar. Dan itu jelas keharamannya.

Walaupun demikian, memang dalam masalah ini tidak luput dari perbedaan pendapat dari para ulama. Namun penulis melihat bahwa kebanyakan ulama memboleh kan ini. Diantara ulama yang membolehknnya ialah Dr. Yusuf Al-Qordhowi, Sheikh Sholeh Utsaimin, Skeih Arifi, Dr. Muhammad Al-‘Umrowi juga Dr. Ali Jum’ah dan beberapa ulama lainnya.
Demikian penjelasan Ustadz Sutarwan, silahkan disimpulkan sendiri.

Walahu a’lam
Share:

Definition List

Unordered List

Support